
Mendengar penjelasan dokter barusan membuat tubuh Hania semakin melemas. Kasihan sekali nasib Gea yang harus mengalami penderitaan selama itu. Mengalami kelumpuhan sampai lima atau enam tahun lamanya, bahkan bisa lebih lama lagi dari perkiraan itu, tergantung terapi yang akan dijalani.
Duduk di kursi tunggu, Hania menangis dalam diam. Bagaimana harus mengambil langkah selanjutnya. Bagaimana dengan Gaka? Apakah suaminya bisa mengerti kondisi Gea dan mau berpura-pura menjadi kekasih Gea?
Ketika Hania mengungkung kan tubuhnya dan menelungkupkan wajah di kedua lengan, tiba-tiba suara Gina mengejutkannya.
"Han ...!"
"Bi." Hania merubah posisi dan menegakkan badan. Melihat Ibu Gina duduk di kursi sebelahnya dengan jarak dua kursi lainnya.
"Apa yang terjadi dengan kalian?"
Deg ....
Hania menyorot tepat di mata Ibu Gina. Sorot wanita paruh baya itu berbeda. "Siapa Satrya Higaka?"
"Dia ...." Hania telak tak bisa menyembunyikan cerita yang sebenarnya lagi. Dia tahu, ibunya Gea secepatnya pasti akan mengetahui.
"Jawab, Han!" Ibu Gina terlihat tidak sabaran.
"Mas Satrya Higaka memang suamiku, Bi." Hania lekas menunduk, mengaitkan jari-jari, selalu seperti itu bila dia sedang cemas, gugup ataupun merasa tidak tenang.
"Lalu kenapa Gea mengatakan Satrya Higaka itu adalah pacarnya? Tolong kamu jelaskan, apa yang kalian alami?"
Hania menghela napas, lalu mulai menceritakan dari awal sampai dia menikah dengan Gaka. Namun tidak menceritakan tindakan Gea terhadapnya. Bahkan tidak pula menceritakan laporan Gaka pada polisi, karena dia takut Ibu Gina akan menyalahkan Gaka atas kejadian yang menimpa Gea. Dia hanya mengatakan Gea mengalami kecelakaan sepulang dari kantor. Itu saja.
"Jadi, kamu merebut pacar Gea hanya gara-gara si Gaka ingin bertanggung jawab atas hidupmu karna dia menabrak ayahmu?" Ibu Gina berkesimpulan seperti itu. "Harusnya kamu tidak menerima Gaka, apapun alasannya karna Gaka dan Gea memang sudah memiliki hubungan lebih dulu. Jahat kalau kamu begitu. Pantas kalau sebelum Gea hilang ingatan marah sama kamu."
Hania hanya bisa menunduk menyembunyikan tangisan. Jelas Ibu Gina akan salah paham, namun dia tidak bisa menceritakan semuanya. Dan memilih merahasiakan sebagian.
Nilai dia bodoh! Tapi dia memilih mengutamakan nurani daripada membongkar aib.
"Kalian berteman sudah lama, kok tega kamu begitu sama Gea, Han?"
"Sebuah takdir yang membuat keadaan seperti ini, Bi, ada satu alasan lagi yang gak bisa aku jelaskan. Tapi seperti inilah takdir kami."
"Takdir? Takdir memang ada, tapi manusia juga punya pikiran untuk merubah takdir!"
Hania hanya diam.
"Terserah apa statusmu, kamu sudah mendengar sendiri penjelasan dokter. Jadi, biarkan Gea melanjutkan seperti apa yang diingat. Kamu paham maksudku 'kan?!"
__ADS_1
Menghela napas kasar, ibu paruh baya itu pergi begitu saja. Kembali masuk ke ruangan Gea.
Ketika Hania sedang menangis, bertepatan Gaka menelpon. "Ha-halo, Mas."
'Gue lagi jalan pulang, lo udah di rumah atau masih di rumah sakit?'
"Aku di rumah sakit."
'Suara lo tenggelem gitu, lo lagi nangis?'
"Gea udah sadar, Mas." Hanya itu yang mampu Hania katakan.
'Hah, udah sadar? Cepet juga sadarnya,' ucap Gaka.
"Kamu kok gitu, Mas!" sentak Hania.
'Oke oke, gue susul ke rumah sakit,' sahut Gaka mengalihkan topik.
Sekira 35 menit kemudian, Gaka sudah terlihat berjalan di lorong rumah sakit di lantai atas tempat Gea di rawat. Pria itu bisa melihat Hania tengah duduk di kursi tunggu.
"Woi ...!"
"Abis ada orang dateng malah cuek dan ngelamun gitu." Gaka mengambil duduk tepat di samping Hania.
"Gea udah sadar 'kan? Berarti udah baik-baik aja. Ayo kita pulang."
Hania belum menjawab, justru menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Terdengar helaan napas berat. "Keadaan semakin rumit, Mas," ujarnya seperti gumaman.
Namun Gaka masih bisa mendengar. Pria itu mengerutkan kening. "Rumit gimana lagi?"
"Bukan cuma lumpuh, tapi sekarang sebagian ingatan Gea terlupakan." Kali ini Hania menolehi Gaka dengan mata berkaca-kaca.
"Hah! Gimana? Maksud lo Gea amnesia?"
"Iya, dokter sudah memeriksa ingatan Gea dan mengatakan sebagian ingatan Gea hilang. Bisa pulih tapi membutuhkan waktu lama."
"Separah itu?" ujar Gaka. "Tapi ya udah, sih, gak peduli gue. Mau amnesia selamanya juga malah bagus. Sekarang udah dia sadar, ya, udah, biar diurus keluarganya. Bagus lagi dipindah ke rumah sakit yang di Surabaya, biar balik ke tempat asalnya 'kan enak keluarganya ngejagain."
"Gak semudah itu, Mas! Masalahnya yang Gea ingat dia masih pacaran sama kamu. Kejadian beberapa bulan terakhir gak diingat sama sekali."
Di situ Gaka mulai berwajah tegang. Yang diingat Gea, mereka masih berstatus pacaran. Berarti mereka masih menjalin hubungan seperti dulu.
__ADS_1
"Akh, bodo' amat sih. Gak usah ikut campur lagi," ujarnya.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Mau amnesia, mau ilang semua ingatan dia, udah gak usah peduli dan ikut campur. Biar diurus keluarganya."
"Mas, jangan seperti itu. Anjuran dokter, kalau bisa kita harus menciptakan keadaan yang diingat Gea, dengan begitu ingatan Gea perlahan bisa pulih. Tapi kalau kita memaksa Gea untuk mengingat semuanya, memori otak Gea malah akan semakin rusak. Selain itu, aku kasihan dengan kondisi Gea, dia harus menderita lumpuh selama 6 tahun lamanya. Psikisnya akan semakin terguncang andai kamu tidak bersandiwara menjadi pacarnya."
"Apa lo berusaha bujuk gue buat sandiwara menjalin hubungan sama Gea?"
"Hanya itu pilihannya, Mas."
"Enggak, sayang. Kita bisa pilih buat acuh dan gak usah peduli lagi kehidupan perempuan itu."
"Mas, sejauh apa perlakuan Gea, aku tetap gak tega biarin keadaanya lebih parah dari ini. Kata dokter, dengan tindakan terapi, perlahan ingatan Gea akan kembali. Hanya sampai Gea sembuh, Mas. Tolong." Hania meraih telapak tangan Gaka yang terkepal.
"Enggak! Gue gak mau bersandiwara! Kalau gue begitu sama aja gue nyakitin elo. Gue udah pernah janji gak akan pernah nyakitin elo."
"Kamu gak nyakitin aku, Mas, anggap saja kita menolong Gea untuk sembuh."
"Gue bakal di datengi malaikat pencabut nyawa."
"Enggak. Mereka tau kamu seperti ini karna niat baik untuk menolong seseorang. Berbeda kalau kamu melakukannya secara keinginanmu sendiri."
"Sekarang gue gak bisa menang debat sama lo. Dah jadi bucin gue." Gaka membuang napas kasar. "Tapi gue tetep gak mau! Apapun alasannya."
"Mas ...."
"Kalau gue terima buat sandiwara, lo tau 'kan nantinya gue juga harus berpura-pura dekat sama dia, pura-pura cinta sama dia. Apa lo sanggup nyaksiin itu?"
"Demi kesembuhan Gea, Mas."
"Demi kesembuhan Gea, bahkan lo rela nahan sakitnya cemburu. Dasar batu!" celetuk Gaka dengan sinis. Hania memang keras kepala, membuat Gaka kesal.
.
.
Jangan marahi Akak Mei dulu ya, ges. Kita nikmatin aja alur mereka.
Silahkan tinggalkan like dan komen biar saya semangat crazy up. Jangan lupa, hadiah vote, kopi, dan bunganya.
__ADS_1