Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Sama-Sama Ke Kantor


__ADS_3

Ruang kebersihan dihebohkan dengan munculnya sosok Hania. Bunga, teman yang dulu pernah dekat dengan Hania sampai terbengong. "Han, ini beneran elo?"


Hania tersenyum lebar. "Perkenalkan, saya Hanania saudara kembarnya Hania."


"Hah, serius Hania punya kembaran?" ucap Bunga tidak percaya.


"Enggak-enggak, Mbak. Ini saya Hania."


"Kok, lo bisa kerja di sini lagi?"


"Ya saya ngelamar kerja lagi, dan diterima. Jadi saya kembali lagi."


"Cius, Han? Ah, apapun ceritanya, intinya gue seneng lo balik lagi. Kita bisa jadi rekan satu tim lagi."


Hania mengangguk senang. Hari pertamanya kembali ke perusahaan SAG Grup disambut baik. Inilah yang dia rindukan, tentang teman dan pekerjaan yang bisa mengalihkan dari pikiran-pikiran tak tentu.


Prok ... prok ....


Kepala kebersihan bertepuk tangan untuk mencari perhatian bawahannya. "Perhatikan, gees! Saya mendapat perintah untuk mengganti beberapa wilayah kerjaan kalian. Nita, Nadya, kalian di pindah tugas bertanggung jawab mengendalikan ruangan atas. Tapi, bukan ruangan CEO lagi. Kalian sekarang di ruang Tuan Haru dan Tuan Pras."


"Loh, Bu, kok kami dipindah. Apa kami melakukan kesalahan? Kami gak mau dipindah, Bu," protes Nadya.


"Kalian tidak melakukan kesalahan. Entahlah, ini perintah langsung dari kepala HRD. Dan ruangan CEO di ganti dengan Hania."


Semua menoleh ke arah Hania. Wanita itu bisa menebak jika semua ada campur tangan Gaka. "Maaf, Bu, biar saya tetap di bagian loby dan lantai bawah saja."


"Kamu tidak bisa menolak. Ini perintah langsung dari atasan. Kalau mau protes, silahkan temui kepala HRD!"


"Bagian hall dan ruang rapat di kendalikan ... bla ... bla ...." Pembicaraan kepala kebersihan sudah tidak lagi di dengarkan Hania. Dia menciut saat Nadya dan Nita meliriknya sinis dan mengucap umpatan meski tanpa suara.


"Eh, lo tuh siapa? Baru masuk udah bisa geser posisi kita! Lo dulu pernah ada urusan sama Tuan Gaka, apa jangan-jangan lo emang udah kenal?! Tapi jangan bawa-bawa kerjaan, dong!" sentak Nadya berang dengan Hania.


"Iya, ngeselin!" timpal Nita.


"Maaf, jangan salah sangka. Saya baru masuk lagi gak tahu kalau langsung dipindah tugaskan. Kalau mau protes silahkan ke atasan."


"Eh, belagu. Awas lo! Gue bakal buat perhitungan sama lo!" Nadya mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Hania. Wajahnya menunjukan kemarahan. Setelah itu pergi bersama rekannya, Nita.


"Astagfirullahaladzim. Baru masuk udah gini aja," gumamnya.

__ADS_1


Bunga mengelus punggungnya. "Udah gak usah dipikirin. Mereka iri aja sama lo."


"Saya maklum mereka marah dan iri, posisi mereka saya gantikan."


"Tapi kita gak bisa buat apa-apa. Toh, ini keputusan atasan. Cuma ya memang mengherankan juga sih, lo baru masuk dan udah ada pergantian pekerjaan. Terus, lo langsung diangkat ke penanggung jawab ruangan Tuan Gaka. Gue juga bertanya-tanya, lo kenal sama Tuan Gaka?"


Hania menghela napas. "Enggak. Dah, yuk, kerja. Telat bakal kena lembur." Dia menyiapkan alat kebersihan.


Bunga memberengut kesal merasa pertanyaannya diabaikan. "Lo masih apal aja aturan perusahaan."


"Hapal karna itu yang paling saya takutkan." Di akhir kata Hania tertawa. Lalu berjalan keluar ruangan.


Di ruangan Gaka.


Ketukan di pintu tak dihiraukan oleh Gaka. "Tuan, staf bagian keuangan satu dengan orang baru ingin bertemu Anda," ucap Lili yang baru saja masuk.


"Suruh masuk!" perintah Gaka tanpa beralih.


Tak berapa lama seorang wanita sudah masuk. Setelah menutup pintu, wanita itu berjalan cepat menuju Gaka dan memeluk dari belakang punggung. Hal itu membuat Gaka terkejut.


"Sayang ...."


"Gea?"


"Sorry, gue lupa."


"Gue seneng, dengan begini setiap hari kita bisa ketemu. Gue bisa mantau lo dari jarak jauh. Kalau ada cewek yang deketin lo, gue bakal bikin perhitungan," celoteh Gea.


"Di kantor gue sibuk kerja. Jarang ada waktu buat santai."


"Kok gitu, sih? Bukannya seneng malah kek gini. Gue tau lo kerja, tapi seenggaknya tunjukin kalau lo seneng gue dah di sini. Dari dulu lo pengennya gini kan?"


Gaka membuang napas perlahan. Gea terlalu mudah merajuk. "Iya, sayang, gue seneng lo di sini." Gaka mencubit pelan pipi Gea. Bahkan hanya dengan perlakukan tak seberapa itu membuat Gea berubah tersenyum lagi.


"Kasih penyemangat dong." Gea lebih dulu mendekatkan wajah pada Gaka. Berikutnya mereka terlibat ciuman panas.


Tok ... tok ....


"Bangsat!" umpat Gaka. Pria itu mendorong tubuh Gea. "Masuk!"

__ADS_1


"Saya mengantar ko ... pi," ucap Hania terbata. Dia terkejut melihat keberadaan Gea di samping Gaka.


Bukan Hania saja, bahkan Gea pun melotot melihat sahabatnya berpakaian cleaning servis. Juga ada di kantor Gaka.


"Han? Lo kerja di sini?" tanya Gea.


Hania tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ge."


"Wah ... kebetulan banget. Baru hari ini aku juga kerja di sini. Aku di bagian keuangan bagian satu."


"Sayang, gak perlu tegang begitu. Ternyata yang masuk adalah Hania," ucap Gea dan kembali mendekati Gaka.


Gaka melirik sekilas ke arah Hania. Wanita itu terlihat menyembunyikan sendu dibalik matanya.


"Maaf, aku cuma mengantar kopi." Hania meletakkan kopi di meja depan Gaka.


"Sayang, pindahin Hania ke bagian lain. Kasihan dia cuma jadi cleaning servis."


"Ge, aku bekerja sesuai ijazah dan kemampuanku. Pekerjaan ini memang sesuai untukku."


"Lo dengar, itu kemauan dia," sahut Gaka. Dan Gea mengangguk.


"Han, hari ini aku cantik, gak?" tanya Gea.


"Kamu sangat cantik." Hania mendekati Gea dan mengangkat tangan untuk membenarkan lipstik Gea yang sedikit berantakan.


"Lipstikku berantakan ya?" Gea mengusap-usap samping bibirnya. "Huh, ini ulah lo, Ka," ucapnya beralih pada Gaka.


Hania tersenyum masam. Dia tahu apa yang baru saja dilakukan Gea dan Gaka. "Lain kali lebih diperhatikan lagi. Jangan biarin orang berpikir macam-macam melihat riasan kamu berantakan setelah keluar dari ruangan ini," ucapnya.


"Kami gak peduli pikiran orang, Han. Aku pribadi justru senang, biar hubungan kami segera diketahui publik. Dengan begitu gue gak was-was dan cemburu kalau pacar gue yang ganteng ini di deket cewek-cewek," sahut Gea.


Lagi-lagi Hania hanya bisa tersenyum. "Aku permisi dulu."


"Han, tunggu!" cegah Gea. "Nanti pulang kantor jalan yuk. Aku traktir sebagai permintaan maaf."


Hania melirik ke arah Gaka. Secara tidak langsung ingin meminta persetujuan, tapi pria itu diam saja dengan raut datar.


"Ayolah, Han. Kita dah lama gak jalan bareng," bujuk Gea.

__ADS_1


"Iya," jawab Hania.


Jawaban Hania membuat Gaka mengerutkan alis. "Dasar bodoh! Apa dia gak bisa baca ekspresi gue gak ijinin dia pergi. Ngeselin!" ucap Gaka dalam hati.


__ADS_2