
Di Kantor.
Ceklek ....
Pintu ruang Gaka terbuka dan menampilkan Gea langsung masuk begitu saja. Gaka melihat sekilas, tapi kembali fokus pada lembar surat kotrak penting yang sedang ditelitinya.
Ada rasa kesal dan marah mengingat ketidakpedulian Gea terhadap keselamatan Hania semalam. Andai Gea tidak meninggalkan Hania, kejadian yang hampir membuat Hania terpuruk itu tidak mungkin terjadi. Dan meski amarah sudah memuncak, Tapi apa yang bisa dilakukan, dia tidak bisa memarahi Gea begitu saja karena tidak memiliki alasan.
"Gaka, lo tau, gak? Gue cemas banget," ujar Gea tiba-tiba dengan mimik wajah panik.
"Cemas kenapa?" Gaka menanggapi singkat.
Gea berjalan mondar-mandir dengan sesekali memainkan layar ponsel. "Ternyata Hania gak masuk kantor dan nomernya dari semalem juga gak aktif." Gea menghela napas kasar. "Hania kemana, ya, Ka? Apa terjadi sesuatu sama dia? Gue jadi parno. Takut dia kenapa-napa."
"Harusnya sebelum lo ninggalin dia, lo udah kepikiran itu. Ini kota besar, Ge, banyak kejahatan yang bisa aja terjadi," ucap Gaka berusaha bersikap normal.
"Lo nambahin ketakutan gue aja, Ka. Gue bener-bener takut sekarang. Gue nyesel, harusnya semarah apapun gak ninggalin dia gitu aja." Netra Gea berkaca-kaca. "Han, lo kemana? Maafin gue?" gumamnya dengan sendu.
Gaka beralih melihat Gea, rasa marah berangsur hilang melihat wajah sedih kekasihnya itu.
"Gue juga ngerasa bersalah udah maki-maki Hania dengan mengatakan dia sok alim," ujar Gea. Kini air matanya sudah merembes keluar.
"Memang apa yang membuat kalian bertengkar?" tanya Gaka mengulik permasalahan Gea dan Hania. Pacar dan istrinya.
"Gue ...." Gea nampak ragu bercerita. "Em, dia bilang gue salah jalan, gue jual kehormatan gue sama lo hanya demi gaya sosialita gue. Padahal enggak gitu. Gue tulus cinta dan sayang sama lo. Dia yang salah paham sama cinta kita."
Deg ... Gaka terdiam. Perlahan mencerna kalimat Gea. Bila dipikir-pikir, hubungannya dengan Gea memang terjadi atas saling menguntungkan. Dia memenuhi semua permintaan Gea, sedangkan Gea hanya perlu siapkan badan setiap kali jiwa kelelakianya sedang menginginkan puncak surga dunia.
Cinta? Lalu hubungan seperti itu apakah bisa dinamakan cinta? Apa seperti itu pantas dikatakan cinta atau hanya keinginan hasrat sesaat.
"Ka, lo diem aja!" sentak Gea mengejutkan pria yang sibuk melamun itu.
"Sorry, gue fokus baca lembaran kontrak. Satu jam lagi harus udah beres." Gaka berkilah.
__ADS_1
Gea mendengus. Ternyata percuma menceritakan semuanya pada Gaka, nyatanya pria itu tidak peduli sama sekali.
"Hibur gue dong, Ka, biar panik gue ilang," ujar Gea dengan wajah murung.
"Gue harus hibur gimana, Ge? Kerjaan gue juga banyak. Udah, lo berpikir positif kalau temen lo baik-baik aja," jawab Gaka sekenanya.
"Gue tripel bodoh. Kenapa gue gak sempet tanya Hania tinggal dimana. Pas kek gini bingung mau nyari dia kemana."
"Uhuk-uhuk ...." Gaka tersedak air liur sendiri. 'Gawat! Jangan sampek Gea tau Maesaroh tinggal di mana. Bakal kebongkar semuanya.'
"Lo kenapa sih, Ka? Hari ini aneh banget?" Gea mengusap-usap punggung Gaka.
"Kerjaan gue banyak, Ge, gue butuh konsentrasi. Lo gak apa, 'kan?" Secara tidak langsung Gaka menginginkan Gea keluar dari ruangannya. Entah, dia merasa hubungannya bersama Gea perlahan mulai terasa hambar.
Gea menatap Gaka sebentar. Ada raut kecewa yang coba dia tunjukan, namun semua itu tak membuat Gaka menarik ulang kata-katanya. Bahkan pria itu terlihat serius dengan berkas-berkas di depannya.
"Jangan lupa balas chat ku." Setelah mengatakan itu, akhirnya Gea keluar.
Setelah Gea menutup pintu. Gaka membuang napas panjang dan melemparkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia mulai bingung dengan pergolakan batinnya. Bahkan sekarang yang terlintas hanya keinginannya menanyakan kabar Hania. Apakah wanita itu bangun dengan keadaan baik-baik saja?
"Gue begini cuma pengen tau keadaanya aja. Bukan karna hal lain. Gue masih waras. Gue gak mungkin berpindah haluan! Gak mungkin!" ucapnya sendiri. Padahal dia mencemaskan keadaan Hania.
Sore hari, jam kantor masih tersisa tiga puluh menit lagi tapi Satrya Higaka sudah tidak sabar ingin segera pulang. Dia menumpuk berkas dan akan menandatanganinya besok saja.
Di jalan pun Gaka melajukan dengan kecepatan tinggi. Menjadi manusia egois dengan menguasai jalanan. Tidak peduli dengan keselamatan diri ataupun orang lain. Yang terpenting segera sampai di rumah.
"Tuan Gaka." Kepala pelayan menyambut di depan pintu.
"Dia di mana?"
"Nona ada di kamarnya sedang istirahat. Kalau Nyonya dan Tuan Besar ada di halaman belakang, Tuan."
Gaka mengangguk dan memilih menuju kamarnya. Ketika membuka pintu kamar, dia melihat Hania sedang berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Dia kenapa tidur mulu'? Semalaman tidur, tadi pagi tidur, sekarang juga tidur lagi. Punya kepala apa gak pusing dibuat tidur terus," gumamnya sambil melangkah menuju ruang ganti.
"Aku sudah bangun," ucap Hania ketika handel pintu ruang ganti bergerak.
"Bangsat! Ngagetin aja lo!" sentak Gaka kesal.
Hania bangun dan bersandar di kepala ranjang. "Mulutmu, ya, Mas. Hapal banget kata kasar."
"Itu udah diluar kepala. Gimana keadaan lo?" Gaka justru menanyakan keadaannya, meski ada kecemasan dia berusaha normal. Nampak acuh seperti biasanya.
"Masih takut, tapi di sini aku merasa aman."
"Udah gak ada yang perlu lo takutin. Kejadian semalam bisa dijadiin pembelajaran. Lain kali kemana-mana share look sama orang terdekat, kalau ada apa-apa biar cepet ditolong." Gaka mengambil air dingin dan duduk di ujung ranjang.
Hania memperhatikan gerak-gerik Gaka. Dia menggeser kakinya sebelum Gaka berhasil mendaratkan tubuhnya dengan sempurna.
"Demam lo udah turun?"
"Udah." Hania memainkan ujung selimut. "Em, makasih udah nolongin aku." Dia menunduk.
Gaka memalingkan wajah, tersenyum singkat. Ah, cuma mendapat ucapan terima kasih saja membuatnya aneh. Dia merasa senang dan bangga.
"Gue gak sengaja lewat jalan situ dan denger orang teriak minta tolong. Ya udah gue tolongin. Gue juga gak tau kalau itu elo." Gaka memilih berbohong. 'Jaga image dong.'
"Makasih juga udah mau repot jagain aku semalaman."
Kali ini Gaka cukup terkejut. Apa Hania tahu kalau semalam dia merawatnya? Lalu bagaimana dengan alternatif cara mentrasfer obat? Apa Hania juga tahu hal itu? Mati gue!!!
"Apa lo ingat yang terjadi sepanjang malam?" Gaka ketar-ketir.
"Ya, aku ingat."
"Hah?!" Gaka terbelalak. Mampus! Berarti Hania tahu semua apa yang dia lakukan? Akh sial!
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Hania dengan tersenyum simpul. Gaka terlihat lucu karena memasang mimik wajah kaget dan takut, seolah kepergok sudah melakukan sesuatu.