
Flashback on
Si kembar sampai di markas Mr. P dengan Edward yang sudah menunggu mereka. Edward yang selalu disiplin tinggi itu merasa kesal karena saat sampai hanya dirinya yang ada disana.
“Kalian terlambat 5 menit!“ ucapnya saat melihat si kembar masuk.
“Begitukah caramu menyambut teman yang lama tidak bertemu!“ sahut si kembar yang tidak habis pikir. “Dimana yang lain?“
“Mereka sibuk semua, hanya Red yang akan kemari!“ jelas Edward.
“Ish, jadi para member wanita tidak akan kesini?“
“Yeah, jadi itu hal pentingnya?“
“Tentu saja bukan, kami membutuhkan Veronica!“
Dan tak lama suara motor besar terdengar dimana Red yang baru saja tiba. Pria tampan yang mendominasi wajah mommy-nya itu masuk kedalam markas.
“Maaf terlambat!“ ucapnya. “Jadi apa masalahnya?“
“Kami membutuhkan Veronica untuk mencari seseorang!“ jelas si kembar.
Red mengangguk paham dan mulai memasang chip supaya terhubung dengan Veronica. Disana Red menyalakan komputer dan mencoba melacak keberadaan Leo dengan mencocokkan wajah pria itu dengan program yang Veronica miliki.
“Dimana kira-kira lokasinya?“
“Paris, I think so__“
__ADS_1
Veronica fokus melacak Leo di Paris melalui kamera cctv, atm, ponsel bahkan satelit. Dan subjek berhasil di pindai yang berada di salah satu rumah sakit di Paris.
“Apa dia sakit?“
Si kembar menggeleng. “Kami tidak tahu!“
“Apa kita harus memberitahu, Kimchi?“ tanya Raka.
“Lebih baik kita memastikan dulu keadaan Leo, saat ini Kimchi masih harus konsentrasi pada proyeknya!“ sahut Riki.
“Baiklah, ayo kita ke Paris!“
Lalu si kembar berpamitan pada Edward dan Red disana yang membuat keduanya gusar karena baru bertemu sebentar, si kembar justru pergi lagi.
“Ck, mereka berdua datang selalu membawa masalah!“ decak Edward kesal.
Edward mengangguk. “Kira-kira apa mereka akan salah memanggil namaku lagi?“
“Kau bawa ID Card-mu kan? Kita harus membawanya supaya Oma dan Opa tidak salah memanggil kita!“
“Hanya keluarga kita saja yang melakukan hal seperti itu!“
*****
Rumah Sakit Bichat Claude Bernard, Paris
Leo duduk termenung di kursi tunggu di ruangan ICU dengan wajah tertunduk lesu.
__ADS_1
Sebelumnya, saat kembali dari rumah nenek Libra tiba-tiba di kostnya ada beberapa pria berjas serba hitam mendekatinya.
Leo terkejut saat mereka menunduk hormat padanya.
“Tuan Beaufort memanggil anda, Tuan muda,“ ucap salah satu diantara mereka.
Mereka utusan dari ayah kandung Leo yang ada di Paris, rupanya selama ini diam-diam ayah kandung dari Leo itu mengawasi keberadaan putranya.
Bukan tanpa alasan dia melakukannya karena tekanan dari keluarga dan istrinya dia terpaksa tidak mau mengakui Leo karena jika mereka tahu Leo adalah anak kandungnya pasti mereka akan berusaha menyingkirkan Leo.
Beaufort yang sakit keras ditinggal begitu saja oleh keluarganya dan dia memanggil Leo untuk memberikan warisan sebagai bentuk permintaan maafnya selama ini.
Leo berangkat malam itu juga ke Paris dengan pesawat yang sudah disediakan untuknya. Saat sampai di Paris, Beaufort sudah di detik-detik terakhirnya meninggalkan dunia.
Dia sempat melihat wajah Leo yang mendekat ke arahnya. Tidak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya hanya seulas senyuman menghiasi wajah pucatnya dan seketika matanya terpejam.
“Tidak__ tidak!“ pekik Leo dengan terisak.
“Jangan pergi__ aku bahkan belum memanggilmu papa!“
Leo berusaha berbicara pada papa kandungnya tapi sayangnya pria itu sudah pergi selama-lamanya.
Saat pemakaman Beaufort, keluarga besarnya datang dan memandang Leo sebelah mata.
“Kau hanya anak haram bisa-bisanya Beaufort mengalihkan semua kekayaannya padamu! Seharusnya putra sahnya yang mewarisinya!“ ucap wanita yang tak lain adalah istri dari Beaufort.
Pengacara Beaufort langsung menyela dan memberikan bukti otentik berupa test DNA bahwa ternyata selama ini anak dari istri Beaufort itu bukan anak kandung dari Beaufort sebab itu lah dia memberikan semua hartanya pada Leo.
__ADS_1
“Leo Beaufort adalah ahli waris yang sah!“ ucapnya.