
Desmon mengecup kening istrinya yang tertidur di sampingnya setelah mereka melakukan percintaan panas. Dengan perlahan dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Nano yang kelelahan.
"Serabi lapitmu memang rame rasanya, darling," ucap Desmon puas.
Desmon memakai bajunya lagi dan ingin keluar kamar tapi dia terkejut bukan main saat membuka pintu dan mendapati ada pria yang pingsan dengan celananya yang basah.
"Iyuh...," Desmon menutup hidungnya karena mencium bau pesing. "Apa dia mendengar semuanya?"
Lalu dia menepuk-nepuk pipi pria itu. "Mang.... bangun, Mang!"
Pria itu membuka mata dan terkesiap melihat Desmon. "Kau hantu atau manusia?"
"Coba lihat baik-baik! Apa ada hantu setampan aku?"
"Ma-maaf... tadi saya...."
"Kenalkan namaku Desmon, pemilik baru rumah ini!" sela Desmon kemudian.
"Saya mang Asep, penjaga rumah ini!" ucap mang Asep memperkenalkan diri.
Desmon mengangguk. "Aku akan menginap disini malam ini dan kedua anakku juga akan kemari jadi tolong siapkan kamar untuk mereka!"
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Setelah itu, Desmon tampak memindai seluruh rumah itu. Dia mengelilingi rumah dan tampak memikirkan sesuatu.
"Sepertinya aku harus merenovasi rumah ini," gumamnya.
Sampai beberapa menit kemudian ada sebuah mobil yang berhenti di pekarangan rumah. Dan si kembar keluar dari sana setelah sebelumnya Desmon menghubungi sang sopir untuk mengantar si kembar ke rumah peninggalan nenek kakeknya.
"Hei, kenapa wajah kalian?" tegur Desmon melihat kedua anaknya tampak lesu.
Si kembar langsung memeluk Desmon dan menangis. "Mr. P pergi ke Amerika!"
"Anak laki-laki tidak boleh cengeng, ini bukan perpisahan selamanya kan! Kita bisa mengunjungi Mr. P nanti!" bujuk Desmon.
"Mama, sedang istirahat! Ayo kita masuk!" ajak Desmon.
Ketiganya masuk kedalam, Desmon meminjam buku dan juga pensil anaknya. Dia mulai menggambar memikirkan konsep renovasi yang akan dia lakukan nanti.
Si kembar kagum melihat papanya begitu lihai dalam menggambar sketsa rumah.
"Wah, papa seperti arsitek!" ucap Raka kemudian.
__ADS_1
"Perusahaan papa kan di bidang real estate jadi harus menguasai hal seperti ini!" sahut Desmon. "Oh, iya? Apa diantara kedua anak papa ini, ada yang tertarik bisnis? kalian harus meneruskan perusahaan papa nantinya!"
Raka dan Riki saling pandang karena bingung harus menjawab apa karena pada kenyataannya mereka lebih suka dengan penelitian dan eksperimen.
"Um, aku ingin mengembangkan bakat IT-ku dengan sekolah robotic! Aku ingin menjadi the next Iron-man!" ucap Riki dengan lirih.
"Aku juga ingin mengembangkan bakatku dalam membuat penemuan obat-obatan!" timpal Raka takut-takut papanya akan marah.
Mendengar itu, Desmon menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap kedua anaknya. Dia sadar jika dunianya dan kedua anaknya sangat berbeda, Desmon tidak ingin menuntut mereka melakukan sesuatu yang mereka tidak sukai.
"Kenapa jadi tertunduk begitu? Papa tidak akan melarang, lakukan sesuai dengan kemauan kalian! Sepertinya papa harus banyak membuat adik untuk kalian!" ucap Desmon mencoba mencairkan suasana.
"Papa, tidak marah?"
Desmon menggeleng. "Tentu saja tidak, apa kalian tahu? Dulu saat papa kecil, cita-cita papa ingin jadi astronot!"
"Kenapa papa tidak mewujudkannya?" tanya si kembar penasaran.
"Ya, karena papa sudah besar! Itu kan cita-cita saat masih kecil!" jawab Desmon santai.
Raka menghela nafasnya. "Menjadi besar itu kan memang siklus kehidupan, Pa!"
__ADS_1
"Kita akan mengalami 8 fase! fase prenatal (dalam kandungan), fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase kanak-kanak tengah dan akhir, fase remaja, fase dewasa muda, fase dewasa tengah, fase lansia (dewasa akhir)!" jelas Riki.
Desmon tak mau kalah mendengar penjelasan anaknya itu. "Sebenarnya cita-cita astronot itu waktu papa masih SD, pas papa sudah masuk SMP ternyata papa tidak SD lagi! Jadi cita-citanya bukan astronot lagi kan sudah SMP!"