Kembar Genius Punya CEO Hareudang

Kembar Genius Punya CEO Hareudang
Kedelai Hitam


__ADS_3

Nano berdandan dengan cantik karena hari ini toko barunya akan resmi dibuka, dia ingin memberi kesan yang baik saat para karyawannya melihatnya apalagi ada karyawan baru yang belum pernah melihatnya.


"Mom, si kembar hari ini pulang sekolah langsung ke toko," pamit Nano pada Malika saat akan pergi.


"Makanya mommy dan daddy akan ikut ke toko," sahut Malika yang sudah bersiap ikut Nano dan sedang menunggu suaminya.


Nano terkesiap. "Mom, ini hanya toko accessories biasa tidak ada yang special," ucap Nano yang merasa malu dengan usahanya yang jika dibandingkan dengan keluarga suaminya tidak ada apa-apanya.


"Loh kenapa kalau memang toko accessories? Ada masalah? tapi kau menyukai itu kan?" cecar Malika.


"I-iya aku menyukainya!"


"Maka itu lebih dari cukup!"


Dan tak lama Robert ikut bergabung bersama istri dan menantunya. Mau tidak mau, Nano membawa kedua mertuanya bersamanya.


Di toko, semua karyawan baru sudah berkumpul di depan toko karena menunggu bos mereka tiba termasuk Jeni yang sudah tidak sabar menjalankan rencana pertamanya.


Jeni sudah membawa sebuah racun yang bisa membuat Nano mengalami kemandulan. Dia tidak akan membiarkan Nano mengandung anak Desmon lagi.


Saat mobil yang membawa Nano dan kedua mertuanya sampai, mereka disambut oleh para karyawan disana.


"Apa semua karyawan sudah berkumpul?" tanya Nano pada Ocha yang menyambut kedatangannya.


"Sudah semua, Bu Bos!" sahut Ocha mantap.


Nano mengangguk lalu berdiri di depan semua karyawannya untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Hallo semuanya, mungkin ada yang sudah tahu saya tapi ada juga yang belum untuk itu perkenalkan nama saya Nano, saya pemilik dari toko accessories ini. Saya minta kerjasamanya supaya toko ini bisa berkembang jauh lebih baik lagi dan bisa membuka franchise lebih banyak lagi. Jika sudah masuk kemari berarti semua menjadi anggota keluarga, jadi semangat untuk kita semua!"


Setelah Nano berkata seperti itu, semua tampak bertepuk tangan riuh. Dan untuk mempersingkat waktu, Nano memulai acara pemotongan pita sebelum masuk ke toko.


"Ini guntingnya, Bu Bos!" ucap Ocha dengan menyerahkan sebuah gunting.


Nano menerima itu dengan berkaca-kaca, dia mengingat usahanya diawali di sebuah kost kecil saat dirinya baru diusir lalu setelah hamil, dia pindah ke Surabaya memulai dari titik nol lagi. Dengan kehamilannya dia terus membuat pernak-pernik dari tangannya, siapa sangka sesuatu yang diawali dengan hal kecil itu bisa sebesar sekarang.


Dengan mengucap syukur, Nano menggunting pita disana.


"Selamat ya," ucap Malika dengan memeluk menantunya.


Dan hal itu membuat darah Jeni mendidih, dia tidak menyukai kehidupan Nano sekarang.


Selesai acara pemotongan pita itu, Ocha sudah membagi tugas pada semua karyawan. Khusus untuk admin harus menghadap Nano karena ada beberapa penjelasan dan fasilitas yang di dapat oleh admin.


"Ini admin baru kita, Bu Bos. Namanya Silvia," ucap Ocha memperkenalkan Jeni.


"Selamat bergabung, Silvia," ucap Nano. Lalu dia memberi sebuah ponsel dan laptop untuk Jeni dengan menjelaskan tugas-tugasnya menjadi admin.


Jeni mengumpat dalam hatinya bisa menjadi bawahan Nano sekarang dan harus mengerjakan tugas yang tidak dia sukai tapi dia harus tetap menampilkan senyuman palsunya dan berkata. "Baik, Bu Bos!"


"Cha, jangan lupa minuman seperti biasa," ucap Nano saat keduanya sudah akan meninggalkan ruangannya.


"Siap!" sahut Ocha sebelum menutup pintu. Setelah itu dia berpamitan pada Jeni. "Aku mau beli minuman buat bu bos dulu, kau sudah bisa melakukan pekerjaanmu! Ada banyak pesanan, kau bisa memulainya dengan mengecek barang setelah itu acc jika pesanannya semua ada!"


Jeni hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha memberi kesan baik di awal pekerjaannya ini tapi dalam hatinya dia berkata. "Lihatlah, aku pasti membuat usaha ini bangkrut!"

__ADS_1


*****


Ocha kembali dengan minuman pesanan Nano, dia membeli es kopi Vietnam. Karena akhir-akhir ini Nano menyukai es kopi itu. Saat dia akan ke ruangan bosnya langkahnya terhenti saat Jeni memanggilnya.


"Ada apa, Silvia?" tanya Ocha kemudian.


Jeni memperlihatkan pesanan costumer yang dia tidak mengerti. "Ini bagaimana? Barangnya sudah sold dan aku acc begitu saja!"


"Waduh, bisa merong-merong itu customer! Biar aku tangani, kau bawakan es kopi ini ke ruangan bu bos!" ucap Ocha dengan memberikan minuman Nano pada Jeni.


Yang mana membuat Jeni tersenyum penuh arti. Jeni membawa minuman itu ke area yang tidak terjangkau cctv lalu dengan cepat dia memasukkan racun kemandulan yang telah dia sembunyikan di kantong celananya. Racun itu tidak akan menimbulkan reaksi apapun, hanya saja secara perlahan bisa merusak sel telur yang nantinya tidak bisa dibuahi.


Setelah selesai, Jeni masuk ke ruangan Nano. Tanpa Jeni duga di ruangan Nano sudah ada Malika dan Robert yang habis berkeliling toko baru Nano.


Disana Malika tampak memakai bando yang ada foto BTS yang mana membuat Robert jengah.


"Lepas, Mom. Kita tidak muda lagi," protes Robert.


"Aku itu pengen jadi fansnya BTS, apa itu nama fans clubnya ya....," Malika tampak berpikir.


"Army, Mom!" ucap Nano dengan terkekeh.


"Nah iya itu dia, Oppa Jimin, Oppa Jeon Jung kook, Oppa Kim Seok-jin, Saranghaeyo.... " Malika bergaya seperti remaja labil.


Robert hanya bisa tepuk jidat, rasanya dia ingin jadi salah satu member BTS.


Dengan gugup Jeni mendekati mereka dan memberikan es kopi pesanan Nano. "Ini kopi pesanannya, Bu Bos!"

__ADS_1


Tapi es kopi itu tiba-tiba direbut oleh Malika begitu saja dan dia langsung meminumnya. "Biar stamina ON terus untuk mengagumi Oppa Jimin!"


Jeni mengepalkan kedua tangannya karena yang meminum bukanlah Nano justru nenek-nenek labil. "Dasar Malika kedelai hitam!" batinnya.


__ADS_2