
"Memasuki usia kandungan 6 minggu, perkembangan janin 6 minggu mulai bisa dilihat dengan baik. Ukuran janin 6 minggu berkembang hingga mencapai ukuran 0,3 cm dari puncak hingga bagian bawah atau pada bagian bokong!" jelas dokter kandungan saat memeriksa Nano.
Hari ini, Nano sudah diperbolehkan untuk pulang. Sebelum itu Nano ditemani Desmon memeriksakan kandungannya.
"Jadi seperti itu terbentuknya manusia, impresif!" ucap Desmon kagum melihat calon anaknya dilayar monitor USG.
Lalu dia berdehem menatap dokter kandungan. "Anu Dok, apa istri saya sudah aman?"
"Aman yang bagaimana maksudnya, Tuan?" tanya dokter yang tidak mengerti.
Menyadari pertanyaan suaminya menjurus kearah kemesuman akhirnya Nano menyela dan berpamitan pulang.
"Terimakasih ya, Dok!" ucap Nano kemudian.
"Kembali kontrol lagi bulan depan ya, Nyonya. Dan jangan lupa minum obat dan vitamin yang saya resepkan!" sahut dokter dengan memberikan selembar kertas resep untuk ditebus.
Akhirnya Nano dan Desmon keluar dari ruangan dokter itu, sebelum pulang mereka menebus resep obat dan vitamin yang diresepkan dokter sebelumnya.
"Apa lukamu masih sakit, darling?" tanya Desmon saat mereka menunggu di apotik rumah sakit.
Nano menggeleng. "Sudah tidak sakit lagi!"
Tangan nakal Desmon mulai meraba paha istrinya. "Kita sudah lama tidak melakukannya, darling. Aku merindukanmu! Aku ingin mandiri tapi kutukan putri malu melekat pada diriku, hanya kau yang bisa membuka pabrik susu kental manisku!"
Mendengar itu, Nano merasa kasihan pada suaminya. Sebelumnya memang Desmon sudah menceritakan apa yang dialaminya 7 tahun terakhir.
"Aku akan membuka pabriknya tapi lakukan dengan perlahan karena ada calon anak kita di dalam dan lukaku yang baru saja sembuh," ucap Nano kemudian.
"Tenang darling, aku ingin berkenalan dengan adiknya si kembar yang ngidamnya antimainstream!" sahut Desmon. "Semoga dia mengikuti kedua kakaknya yang menurun gen 7 tahun sekaliku!"
*****
__ADS_1
Nano mengernyit saat suaminya memilih jalur berbeda ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Kita mau kemana?" tanya Nano keheranan.
"Aku ingin memberimu kejutan, darling!" sahut Desmon yang masih fokus menyetir mobilnya.
Saat mobil berhenti, Nano menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena sekarang dia berada di depan rumah keluarga Diwangsa.
"Sebelumnya ibu dan kakak tirimu menggadai sertifikat tanah dan rumah ini, tapi aku sudah menebusnya jadi sekarang ini rumahmu lagi, darling!" ucap Desmon dengan mengulurkan tangannya pada istrinya untuk mengajak masuk kedalam.
Nano menerima uluran tangan itu dan masuk kedalam rumah. Tidak banyak perubahan yang ada di rumah itu. Hanya beberapa perabotan yang diganti.
"Tunjukkan dimana kamarmu dulu!" ucap Desmon lagi.
Dengan gugup Nano menunjukkan kamarnya yang ditempatinya dulu, kamar itu adalah kamar gudang yang dia bersihkan.
"Kau tidur di kamar ini?" tanya Desmon tidak percaya melihat kondisi kamar itu.
"Ayah, ibu. Aku kembali," lirih Nano.
Melihat istrinya tampak bersedih, Desmon segera mendekat dan memeluknya. "Aku ada disini, darling!"
"Terimakasih untuk semuanya," ucap Nano dengan mengeratkan pelukannya.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, sampai Desmon mengajak Nano membersihkan kamar. Mereka berdua membersihkan debu-debu yang menempel sampai mengganti seprai yang ada kemudian berbaring berdua disana.
Keduanya terdiam sampai Nano terkekeh mengingat mimpinya. "Aku sekarang tahu maksud mimpiku!"
"Mimpi apa, darling?"
"Ada seorang pangeran datang dan memintaku mencabut kutukan!"
__ADS_1
Tentu saja membuat Desmon malu bukan main. "Kau orang kedua yang tahu rahasia itu setelah Lucas jadi jangan dibahas lagi!"
"Jadi berapa wanita selama ini yang sudah menghabiskan malam denganmu?" tanya Nano penasaran.
Desmon langsung mengubah posisi diatas istrinya. "Aku tidak menghitungnya tapi ada satu hal yang harus kau tahu bahwa kau yang terakhir dan selamanya, Nano-Nano!" ucap Desmon dengan mencium istrinya, tangannya mulai sibuk melucuti pakaian yang dikenakan istrinya begitu juga dengan pakaiannya.
Saat sudah dalam keadaan polos, mereka kembali berciuman dan ciuman mereka menjadi semakin liar dimana lidah mereka mulai bermain didalam mulut mereka, begitu juga dengan tangan mereka. Tangan Nano turun kebawah memegang milik suaminya yang sudah menantang begitu juga dengan tangan Desmon, tangannya sudah meremas benda bulat milik Nano dan memainkan jarinya disana.
Mereka mengerang dibalik ciuman mereka karena mereka menikmati setiap sentuhan tangan pasangan mereka.
Desmon melepaskan bibir Nano dan menciumi wajahnya, bibirnya terus menyelusuri kulit Nano sedangkan Nano memejamkan matanya menikmati sensasi yang diberikan Desmon padanya.
Desmon terus menciumi leher Nano dan terkadang meninggalkan beberapa bekas disana, saat bibirnya sudah berada didua benda bulat Nano, dia langsung menikmatinya, mengulumnya dan menghisapnya dengan kuat.
Nano mendesah nikmat, menikmati sensasi nikmat yang diberikan Desmon padanya. Apalagi saat Desmon membuka kedua kakinya dan mulai mencicipi dan memainkan lidahnya disana, tubuhnya bergetar hebat sedangkan erangan terus terdengar dari bibirnya.
Desmon melakukan apapun yang dia mau, lidahnya terus bermain disana sampai Nano mendapat pelepasan karena dia sudah tidak tahan dengan permainan suaminya dan itu membuat Desmon tersenyum puas.
"Kau menikmatinya, darling?" tanya Desmon yang membuat Nano merona malu.
Desmon mengusap perut Nano dan menciumnya. "Hai anak papa, kita kenalan yuk!"
Desmon membuka kedua kaki Nano dan pada saat itu, Desmon langsung menghentakkan miliknya masuk kedalam sana dan menggerakkan tubuhnya.
Nano mencengkram lengan kokoh Desmon dengan kuat menerima hentakan dari suaminya sedangkan ******* dan erangan mereka memenuhi kamar itu.
Mereka berdua menikmati waktu dengan permainan panas mereka, bahkan saat Desmon merubah posisi permainan mereka dan menerkam Nano dari belakang, mereka semakin menikmati sensasinya dan erangan terus keluar dari mulut mereka.
Tanpa mereka sadari diluar kamar, ada seorang pria yang tampak gemetaran mendengar erangan mereka. Pria itu adalah orang yang bertugas menjaga rumah keluarga Diwangsa, dia tidak tahu jika Nano dan Desmon berkunjung. Yang dia tahu rumah ini kosong tak berpenghuni.
"Ya ampun gusti, ada hantu kawin di kamar itu!" gumamnya gemetaran sampai mengompol di celana.
__ADS_1