
Lucas yang melihat bosnya tersengat lebah segera berlari ke dapur toko itu untuk mengambil air, dia ingin mengompres Desmon memakai air hangat.
Saat sampai di dapur, Lucas berpapasan dengan Ocha yang juga ada disana.
"Mencari apa?" tegur Ocha yang melihat Lucas tampak kebingungan mencari sesuatu.
"Aku mencari baskom, mangkok atau apapun untuk tempat air hangat," jelas Lucas. "Bantu aku mencarinya!"
"Untuk apa?"
"Bos Desmon tersengat lebah," jawab Lucas yang panik dengan terus membuka lemari pantry.
Ocha tidak mencari yang Lucas inginkan, justru dia membuka kulkas bagian freezer dan mengambil kompres dingin disana.
"Pakai ini, kompresnya pakai kompres dingin supaya cepat kempes lebamnya," ucap Ocha kemudian.
Lucas awalnya ragu tapi yang dikatakan Ocha ada benarnya juga. Akhirnya dia mengambil kompres dingin itu sebelum keluar dari dapur, Lucas bertanya. "Siapa namamu?"
"Ocha!"
Lucas mengangguk. "Jadi Ichi Ocha untung bukan Ichitan!"
__ADS_1
Sementara di ruangan Nano, Desmon terus saja merintih kesakitan yang mana sekarang dirinya jadi bahan tertawaan disana.
"Seorang CEO di sengat tawon," ucap Robert dengan menahan tawanya.
Sedangkan Malika sibuk memotret anaknya dari segala sisi. "Ini akan menjadi kenang-kenangan yang spektakuler!"
"Mom, Dad. Stop! Ini menyakitkan!" gerutu Desmon dengan terus menahan sakit di hidungnya.
Tak lama Lucas datang dan memberikan kompres pada bosnya itu. Lucas dengan hati-hati mengompres hidung Desmon yang membengkak.
"Pelan-pelan, ini sangat sakit," keluh Desmon.
Lucas hanya bisa menghela nafasnya sampai Nano datang bersama si kembar dengan membawa obat supaya mengurangi nyeri yang diderita oleh Desmon.
Tapi Desmon justru ngambek pada kedua anaknya. "Kalian mengatai papa Cut Pat Kai, apa papa sejelek itu sekarang?"
Si kembar cengengesan mendengarnya. "Perut dan hidung papa sangat mirip!"
"Papa kalian itu sepertinya datang bulan jadi jangan di ganggu! Ayo kita pulang saja," ajak Malika pada kedua cucu kembarnya.
Mereka semua bersiap pulang dengan Lucas yang mengantar mereka. Tertinggal Nano dan Desmon di ruangan itu.
__ADS_1
"Minumlah obatnya dulu, lain kali tidak usah membelikan bunga kalau jadinya begini," ucap Nano dengan memberi obat pereda rasa nyeri pada suaminya.
Desmon enggan menerima obat itu, entahlah dia begitu sensitif akhir-akhir ini. Dan membuat moodnya memburuk karenanya.
"Jadi obatnya mau dihaluskan terus dikasih gula?" tawar Nano mengingat jika dirinya sakit melakukan itu karena dirinya yang tidak bisa menelan obat.
"Apa obatnya akan jadi manis, darling?" tanya Desmon kemudian.
"Setidaknya mengurangi rasa pahitnya," sahut Nano dengan mulai memasukkan kapsul obat dalam plastik dan menumbuknya. Lalu dia menaruhnya didalam sendok dan memberinya sedikit air serta gula.
Desmon lalu menerima suapan obat itu dari tangan istrinya. "Manis, darling. Semanis dirimu!"
"Jadi moodnya sudah baik kan?" tanya Nano memastikan.
Nano meriah tangan suaminya lalu memasang sebuah gelang di pergelangan tangan Desmon, gelang tali dengan hiasan kecil di tengahnya.
"Apa ini, darling?" tanya Desmon.
"Gelang pasangan! Aku juga memakainya," jawab Nano dengan memperlihatkan gelang ditangannya.
"Gelang ini paling laris di toko, gelang ini bisa menyala jika pasangan gelangnya ada didekatnya," jelas Nano dengan menyatukan tangan mereka berdua dan gelang mereka menyala bersamaan.
__ADS_1
Desmon merasa takjub melihatnya. "Keren darling, seperti kunang-kunang!"