
Tira mendengus kesal melihat adegan ciuman sepasang suami istri disana. Mereka mengingatkan pada kedua orangtuanya.
"Aku merasa de javu!" gumam Tira.
Sampai dia merasakan ada sinar laser di dahinya yang berasal dari penembak jitu. Sontak membuatnya tidak berani bergerak, hal itu juga dialami oleh Desmon dan Nano yang di dahi mereka telah dibidik oleh penembak jitu yang berbeda.
Jeni tertawa lepas melihat ketiga orang itu tak berdaya. "Sekarang kalian harus berlutut di depanku!"
Dengan terpaksa ketiganya berlutut di hadapan Jeni dan dengan cepat Jeni merampas senjata mereka bertiga.
"Aku tidak ingin banyak basa-basi! Tapi aku akan mengabulkan satu permintaan kalian!" ucap Jeni mencemooh.
Lalu Jeni menatap Nano dengan lekat. "Kau mau tahu rahasia? Rahasia kematian ayahmu!"
Nano langsung mengadah menatap Jeni disana. "Apa maksudmu?"
"Ayahmu mati karena mamaku menukar obatnya dengan obat hewan!" ucap Jeni dengan terbahak.
Nano mengepalkan kedua tangannya dengan lelehan airmata, jadi selama ini ayahnya meninggal bukan karena penyakit jantung. Tapi obatnya telah ditukar oleh wanita rubah licik.
"Sekarang matilah dengan tenang!" ucap Jeni memberi kode pada para penembak jitu.
Tapi tiba-tiba Desmon berkata. "Lepaskan istriku! Jika kau ingin membunuh, bunuhlah aku! Jika kau ingin mengambil hartaku, ambillah!"
"Wah, ada seorang Romeo disini rupanya!" Jeni semakin tertawa lepas disana. "Kesalahan terbesarku 7 tahun lalu tidak langsung membunuh istrimu!"
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Tira mendengar suara dibalik chipnya. "Dad, serang sekarang!" ucap Edward.
"Hei, apa yang kau lakukan, Boy?" bisik Tira.
*****
Sebelumnya, Lucas ingin membawa pergi pasukan bocil tapi mereka tidak mau.
"Sebentar lagi polisi akan datang! Lebih baik kita pergi atau kita akan mendapat sanksi karena melakukan tindakan kekerasan dengan membawa anak kecil dibawah umur!" bujuk Lucas.
Tapi pasukan bocil masih tidak mau pergi, mereka merasa ada sesuatu yang terlewatkan.
"Veronica, berapa subjek lagi yang terdeteksi?" tanya Edward dibalik chipnya.
Veronica tampak memindai lokasi disana dan menemukan beberapa subjek yang diatas gedung.
Semuanya tampak panik termasuk si kembar. Akhirnya mereka berencana untuk naik ke atap gedung. Tapi mereka bingung bagaimana caranya supaya menghemat waktu.
Sampai Red mempunyai ide, dia berbisik pada ketiga saudaranya yang lain. "Bagaimana, ideku mantul kan?"
Lalu mereka membicarakan ide mereka pada pasukan bocil yang lain. Sampai A I U E O menjadi bulan-bulanan disana.
"Nasib menjadi anak Dewa tukang boker, selalu saja sial!" gerutu mereka.
Akhirnya A I U E O menurut, mereka berdiri menjadi tumpuan dimana keempat sepupu mereka naik keatas pundaknya seperti panjat pinang.
__ADS_1
Dan si kembar berada paling atas bersama Edward dan Red. Mereka sudah membawa ketapel dengan peluru boncabe level 30 untuk membidik sniper.
"Ikuti aku!" perintah Red yang siap memposisikan ketapelnya ke sasaran.
"Veronica, kunci sasaran" Edward memberi perintah.
Si kembar juga bersiap membidik sasaran sampai Red memberi kode dan Veronica sudah mengunci sasaran.
"Ayo cepat!" ucap A I U E O kompak karena menahan beban mereka. Begitu pula ChocoChip dan Triple L.
"Bidik tepat mengenai mata mereka! Tunggu aba-abaku dan fokus!" Red menajamkan matanya melihat target dengan senjata laras panjang mereka.
"Satu!"
"Dua!"
"Tembak!"
Mereka berempat melepas peluru boncabe level 30.
Plak! Plak! Plak!
Tembakan tepat mengenai sasaran bersamaan mereka yang roboh karena A I U E O sudah tidak tahan menahan beban mereka.
"Hahaha.... " semua tertawa bersama.
__ADS_1
Edward segera menghubungi daddy Tiranya. "Dad, serang sekarang!"