
Jeni ingin membuat rencana-rencana jahat untuk menghancurkan Nano tapi keadaan tubuhnya saat ini tidak memungkinkan. Dia terus mual dan muntah yang mana membuat pekerjaannya juga tidak ada yang beres.
"Silvia, kenapa pesanan resi 512 bisa kau acc padahal barangnya kosong," tegur Ocha pada Jeni di meja kerjanya.
Jeni tidak menjawab justru dia berlari ke toilet dan muntah-muntah disana. Semua isi perutnya sudah terbuang sampai asam lambungnya yang pahit ikut dia muntahkan.
"Kau tidak apa-apa, Silvia? Apa kau sakit?" tanya Ocha cemas yang mengikuti Jeni dari belakang.
"Aku tidak apa-apa, apakah aku boleh ijin pulang cepat?" tanya Jeni yang khawatir wajah buatannya rusak.
"Ijin pada bu bos dulu," jawab Ocha dengan membantu Jeni keluar dari toilet.
Ocha juga membantu mengemas barang-barang Jeni, setelah itu mereka ke ruangan Nano untuk meminta ijin karena Jeni yang sakit.
"Silvia sakit?" tanya Nano yang mulai cemas.
Nano mendekati Jeni ingin memeriksa keadaan karyawannya itu tapi langsung ditepis begitu saja oleh Jeni karena dia tidak ingin Nano menyentuh wajah buatannya.
"Saya langsung pulang saja, Bu Bos," pamit Jeni kemudian.
__ADS_1
Nano hanya bisa mengangguk, Jeni memang berbeda dengan Ocha yang ceriwis. Dan Nano memaklumi itu.
Setelah keluar dari toko Nano, Jeni segera memeriksakan dirinya di rumah sakit. Dia tidak ingin sakit karena rencananya sampai saat ini belum ada yang berhasil.
Tapi bagai disambar petir di siang bolong saat pemeriksaan dokter berkata jika Jeni diduga tengah hamil dilihat dari gejalanya.
Untuk memastikan Jeni beralih ke dokter kandungan dan melakukan pemeriksaan USG disana.
"Selamat Nyonya, usia kandungan sudah memasuki 8 minggu!" ucap dokter kandungan.
Jeni hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa, perasaannya campur aduk saat ini. Dia hamil dari pria yang sama sekali tidak dia cintai sekarang Jeni dihadapkan dengan masalah baru.
Saat dia kembali ke apartemen, ternyata Bobi sudah menunggunya disana. Jangan tanya bagaimana Bobi bisa masuk ke apartemennya pasti dia memiliki seribu satu cara untuk membobol pintu apartemen.
Jeni mendekati Bobi lalu menarik rokok yang ada di mulut pria itu. Dia mematikan rokok itu yang mana membuat Bobi emosi.
"Kau selalu saja mengganggu kesenanganku!" gerutu Bobi kemudian.
"Sekarang kau tidak boleh merokok sembarangan lagi!" ucap Jeni dengan menyemprot apartemennya memakai pengharum ruangan.
__ADS_1
"Jangan melarangku, kau bukan istriku!"
Jeni menghela nafasnya panjang. "Aku hamil!"
Mata Bobi membulat mendengarnya, dia menjadi emosi. Dia ingin menghentikan populasi manusia tapi Jeni justru hamil.
"Gugurkan!" titah Bobi dengan mencengkram Jeni dangan kuat.
"Kau gila! Aku tidak mau menggugurkan anakku sendiri!" Jeni menantang karena memang dia tidak segila itu membunuh darah dagingnya sendiri.
Bobi semakin emosi mendengar Jeni berani melawannya. Dengan kasar Bobi mengikat tangan Jeni dengan ikat pinggangnya lalu menarik wanita itu ke kursi dan mengikatnya disana.
"Lepaskan! Apa yang mau kau lakukan padaku!" teriak Jeni yang ketakutan.
Bobi tidak menjawab tapi dia mengambil sebuah obat yang mengandung zat-zat yang bisa untuk menggugurkan kandungan.
"Tidak! Tidak!" Jeni menggelengkan kepalanya saat Bobi mendekatinya dengan membawa obat ditangannya.
Tapi Bobi terus mendekat dan mencekoki Jeni dengan obat itu.
__ADS_1
Jeni menangis histeris saat obat itu mulai bereaksi, dia merasakan sakit luar biasa di perutnya sampai darah segar mengalir begitu banyak disela kedua pahanya.
"Argh! Sakit... " jerit Jeni yang kala itu dia langsung teringat Nano. "Ini semua karena kau! Aku pasti akan membalas semua rasa sakit ini!"