
Untuk memastikan keadaannya, Nano akan memeriksakan dirinya ke rumah sakit ibu dan anak. Saat ini Nano sudah berada di toko dan ingin mengajak Ocha bersamanya.
"Maaf Bu Bos tapi pekerjaan saya sangat banyak, hari ini Silvia tidak masuk kerja jadi pekerjaannya saya yang handle," ucap Ocha saat Nano mengajaknya.
"Silvia sakit apa ya?" tanya Nano yang cemas. "Ya sudah aku pergi sendiri saja!"
Dengan memesan taksi online Nano pergi ke rumah sakit yang dia tuju karena supir pribadinya sedang memperbaiki mobil di bengkel.
Di rumah sakit, Nano segera mendaftarkan dirinya ke dokter kandungan. Nano menunggu namanya dipanggil dengan bermain ponselnya tanpa dia sadari ada yang menatap tajam pada dirinya saat ini.
Siapa lagi kalau bukan Jeni, setelah mengalami keguguran semalam Jeni memeriksakan dirinya. Dia sangat membenci Nano jika saja adik tirinya itu tidak muncul lagi pasti dirinya tidak mengalami hal seperti ini.
"Ayo kita pulang!" ajak Bobi yang merasa urusannya di rumah sakit itu selesai. Karena Jeni tidak perlu rawat inap, dia tidak perlu kuret karena rahimnya sudah bersih. Dan hal itu membuat Bobi kesenangan karena obat yang dia berikan pada Jeni bereaksi dengan sangat baik.
Jeni menatap tajam pada Bobi yang tega membunuh bayi mereka. "Kau memang pria psikopat! Kau membunuh anakmu sendiri!"
"Dia akan bahagia karena tidak lahir di dunia fana ini," sahut Bobi tanpa dosa.
Percuma melawan Bobi lebih baik dia melampiaskan semua itu pada Nano yang ada di depan mata. Lalu dia meminta Bobi menunggunya di mobil.
Jeni mendekati Nano yang masih menunggu namanya dipanggil di kursi tunggu.
"Bu Bos," panggil Jeni.
Nano langsung menoleh kearah suara. "Silvia? kau ada disini? sakit apa? kenapa periksa di rumah sakit ibu dan anak?"
__ADS_1
"Saya baru mengalami keguguran, Bu Bos," lirih Jeni memancing perhatian Nano.
Dia mulai menangis disana membuat Nano langsung memeluknya.
"Kau sudah menikah?" tanya Nano heran karena dari data yang dia baca Jeni masih single.
"Pacarku tidak mau bertanggung jawab, dia justru pergi meninggalkan saya! Saya sangat setres sampai akhirnya keguguran!" ucap Jeni dengan isak tangisnya.
Nano terkejut bukan main mendengarnya, sekarang Nano tahu kenapa kinerja Jeni banyak yang tidak beres.
"Tenang ya, semua pasti baik-baik saja!" bujuk Nano.
Merasa punya kesempatan, Jeni langsung berkata. "Bu Bos, bisakah hari ini saya meminta waktunya untuk menemani saya?"
*****
Disisi lain, si kembar mendapat panggilan emergency dari Mr. P saat berada di sekolah. Mereka yang saat itu masih menyimak pelajaran langsung meminta ijin pada guru pengajar mereka.
"Anjing kalian mati?" tanya guru pengajar saat mendengar alasan si kembar.
"Anjing itu nama kucing kami, Bu," ucap Raka.
"Jadi yang mati itu kucing?" tanya guru pengajar yang semakin bingung.
"Yang mati anjing, Bu," sahut Riki.
__ADS_1
"Iya yang mati itu kucing yang bernama anjing kan?"
Karena pusing berdebat dengan kedua anak jenius itu, akhirnya guru pengajar memperbolehkan si kembar untuk pulang cepat.
Si kembar langsung bergegas ke markas Mr. P. Disana Mr. P sudah meneliti lebih detail dokumen-dokumen mengenai Silvia Jang dan Mr. P cukup terkejut dengan apa yang ditemukannya.
"Ternyata kecurigaan kalian benar, semua dokumen ini adalah manipulasi! Silvia Jang yang asli ternyata sudah meninggal beberapa tahun lalu," jelas Mr. P saat si kembar sudah sampai.
"Jadi siapa Silvia Jang yang bekerja di toko mama kita, Kak?" tanya Riki gelisah.
"Ayo kita ke toko, Mama," ajak Raka tapi langkah mereka dihentikan oleh Mr. P.
"Aku sudah menemukan siapa orangnya! Dan sepertinya kita membutuhkan banyak bantuan!" ucap Mr. P dengan memperlihatkan rekaman cctv yang berhasil dia retas.
Sebelumnya Mr. P berhasil melacak Bobi saat kembali ke Indonesia. Bobi memakai identitas saat kabur bersamanya dulu memudahkan Mr. P untuk melacak dimana pria itu berada.
Dan Bobi saat itu berada di apartemen Jeni, Mr. P mulai meretas cctv yang ada di apartemen Jeni dan dia semakin dibuat tercengang karena ternyata Silvia Jang itu adalah Jeni yang memakai wajah buatan.
"Tante jahat!" pekik si kembar bersama.
"Bobi sepertinya menyadari jika aku melacak dia, dia sengaja memakai identitas yang aku ketahui supaya aku lebih mudah mencarinya. Saat ini semua jaringanku lumpuh dan tidak bisa melacak keberadaannya lagi. Dia sudah mempersiapkan semua dengan matang," jelas Mr. P.
Mendengar itu, si kembar semakin gelisah karena musuh sangat dekat dengan Nano.
"Mama....," teriak si kembar merasa posisi mamanya terancam.
__ADS_1