Kembar Genius Punya CEO Hareudang

Kembar Genius Punya CEO Hareudang
Bersimbah Darah


__ADS_3

Suara Edward dibalik chip juga didengar oleh Desmon, lalu dia mendelik kearah Tira dan mereka mengangguk bersama.


Keduanya berdiri dan mendekati Jeni disana, tentu saja membuat Jeni kebingungan. Dia memberi kode pada penembak jitu tapi tidak ada sahutan.


"Sial," umpat Jeni yang ingin berusaha kabur.


Tapi langkahnya ditahan oleh Tira dan Desmon disana.


"Mau kemana kau?" tanya Desmon penuh emosi.


"Bukankah kau ingin mengabulkan permintaan kami" timpal Tira.


Jeni memekik kesakitan saat kedua tangannya dicekal oleh kedua pria itu. Apalagi salah satu lengannya terkena tembakan Nano sebelumnya.


Dia semakin tidak bisa berkutik saat Nano mendekat padanya dan satu tamparan Nano layangkan padanya dengan keras.


Disusul lagi dengan tamparan yang lainnya. "Plak! Plak! Plak!"


Nano memukul Jeni tanpa ampun dengan meneteskan air matanya. Kedua pipi Jeni memerah dengan kedua sudut bibir yang berdarah.


"Kembalikan ayahku!" pekik Nano dengan melayangkan tamparan terakhirnya.


Desmon yang melihat itu segera memeluk istrinya supaya tenang. "Tenanglah, darling!"

__ADS_1


"Dia membunuh ayahku!" lirih Nano yang berada dipelukan suaminya. "Aku harus membalasnya!"


"Apa dengan membunuh Jeni bisa membuat ayahmu kembali lagi?" tanya Desmon yang membuat Nano terdiam.


"Ada aku, si kembar, orangtuaku! Kami semua mencintaimu dan pikirkan hasil pembuahan kita didalam perutmu sekarang!" tambahnya.


Melihat istrinya sudah tenang, Desmon membimbing Nano untuk keluar dari bangunan itu. Sementara Jeni sudah dibawa turun oleh Tira sebelumnya karena Jeni akan diserahkan ke polisi yang baru saja datang.


Disisi lain, Bobi yang sedari tadi bersembunyi akhirnya keluar juga. Dia melihat anak buahnya tumbang dan diseret polisi di bawah. Sebelum ketahuan dia ingin kabur tapi rupanya Mr. P berhasil menggagalkan aksinya.


"Kau tidak akan bisa kabur lagi kali ini!" ucap Mr. P penuh penekanan.


Bobi menyeringai, dia mengeluarkan pemicu bom yang ada di kantongnya.


"Ayo kita mati bersama, Pedrosa! Manusia akan berevolusi setelah kita mati!" ucapnya.


"Ya, aku berhasil membuatnya!" sela Bobi kemudian.


Mr. P mendekat dan mencengkram kerah jaket yang Bobi pakai. "Kau letakkan dimana virus itu?! Apa kau sadar yang telah kau lakukan!?"


"Aku sadar manusia itu hanya spesies vertebrata yang perlu berevolusi, aku penyelamat mereka! Hahaha... "


Bobi mulai memencet tombol pemicu bom lalu dengan cepat dia menembak kepalanya sendiri. "Sampai bertemu di tempat yang indah!"

__ADS_1


"Dor!"


Darah Bobi sampai muncrat mengenai wajar Mr. P, dia menatap Bobi yang sudah jatuh tersungkur. Sebelum pergi dari sana, Mr. P memeriksa baju dan celana Bobi. Dia berharap bisa menemukan petunjuk mengenai virus yang disembunyikan Bobi.


Mr. P mendapat sebuah gulungan kertas setelah itu dia meloncat dari jendela supaya bisa cepat keluar dari sana.


"Brak!"


Tubuhnya terjatuh tepat mengenai tumpukan kayu dibawah.


"Semuanya cepat keluar dari sini!" perintah Mr. P dibalik chip. "Ada bom aktif yang sebentar lagi meledak!"


Mendengar itu, Desmon dan Tira memerintahkan semua untuk mundur dan cepat pergi dari tempat itu.


Merasa mempunyai kesempatan saat semuanya panik. Jeni merogoh pisau yang ada di kantongnya, dia menyabet tangan polisi yang akan memborgol tangannya.


Lalu Jeni berlari mendekati Nano dan tanpa ragu menusuk perut Nano dengan sekali tusukan.


"Mari kita mati bersama!" ucapnya. "Aku lebih baik mati daripada harus mendekam seumur hidup di penjara dan kau harus ikut bersamaku!"


Setelah berkata seperti itu, Jeni menancapkan pisaunya ke lehernya sendiri.


Kedua wanita itu kini bersimbah darah, dengan Nano yang menahan sakit di perutnya.

__ADS_1


Desmon yang sebelumnya mengatur pasukan bocil langsung berlari melihat istrinya ditusuk. "Darling..."


"Selamatkan anak kita," lirih Nano sebelum tak sadarkan diri.


__ADS_2