
Tira memberikan Desmon sebuah chip supaya bisa terhubung dengan Veronica. Veronica adalah teknologi kecerdasan buatan menyamai program komputer yang canggih bahkan kita bisa berbicara padanya.
"Veronica, akan membantu menemukan istrimu! Dia sedang memindai lokasinya, sekarang kita butuh strategi dan membagi tugas," jelas Tira.
"Urusan Bobi biar aku saja," timpal Mr. P kemudian.
Tira mengangguk. "Biarkan anak-anak mengurus pembebasan istrimu, sementara kita akan mengalihkan perhatian musuh!"
"Baiklah, ayo jangan buang waktu lagi! Hari sudah malam!" ajak Desmon.
Mereka semua akhirnya menuju lokasi dimana Nano berada setelah Veronica berhasil melacaknya.
Sementara Nano masih tergantung diatas crane, hari sudah berganti malam yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan.
"Lepas!" lirih Nano untuk kesekian kalinya. "Aku butuh minum!"
Nyatanya Jeni memang tidak memberi makan dan minum pada adik tirinya itu, dia memang sengaja ingin menyiksa Nano secara perlahan-lahan.
Disisi lain, Bobi memanggil semua anak buahnya untuk datang. Mereka tengah mempersenjatai diri karena Bobi sadar jika sistemnya sudah diretas oleh Veronica.
"Sepertinya kita akan kedatangan tamu!" ucap Bobi pada Jeni dengan memberikan wanita itu senjata. "Jangan beri ampun pada mereka!"
__ADS_1
Jeni menerima senjata itu dan masih berdiri di ruangan dimana katrol yang menghubungkan rantai crane yang menggantung Nano.
Dan benar saja belum ada satu jam, rombongan Desmon sudah sampai di bangunan tua itu. Keadaan tampak sepi disana membuat Tira mulai membaca situasi.
"Veronica, pindai semua yang ada di bangunan ini!" titahnya dibalik chip.
"Sistem pindai di aktifkan!"
Lalu Tira mendatangi pasukan bocil berada. "Kalian fokus menyelamatkan mama si kembar! Tetap pakai chip supaya kita bisa saling berkomunikasi!"
"Siap, Dad," jawab Edward sembari menatap pasukannya. "Ayo guys, kita beraksi!"
Pasukan bocil sudah mulai mengatur posisi mereka, sementara Mr. P bersiap menyusup mencari dimana Bobi berada.
"Banyak subjek yang terdeteksi diatas bangunan dan disegala penjuru bangunan, Bos!" lapor Veronica.
Tira menyunggingkan senyumnya dengan memegang senjatanya. "Aku sudah lama tidak melakukan ini, jadi ayo lakukan dengan LAKIK!"
Dan Desmon juga tak mau kalah, ini untuk pertama kali baginya jadi dia harus terlihat keren. Desmon mengikuti Tira dari belakang dengan meniru gayanya, saat Tira berhenti melangkah dia juga pergi melangkah.
"Tiga orang arah jam 9 dan empat orang arah jam 12!" lapor Veronica lagi.
__ADS_1
Mendengar itu Tira mendelik kearah Desmon memberi kode dan Desmon mengangguk paham. Mereka masuk dengan menembak target yang sudah dipindai oleh Veronica.
DOR! DOR! DOR!
Timah panas terus melesat mencoba mengenai target lalu keduanya berguling mencari tempat persembunyian untuk mengisi peluru mereka.
Anak buah Bobi mulai melempar bola gas di berbagai penjuru membuat tempat itu sekarang berasap, membuat penglihatan tidak jelas dan hal itu dimanfaatkan anak buah Bobi untuk menyerang balik.
"Veronica!" panggil Tira yang kesulitan mencari musuh.
"Subjek tidak terlihat, Bos!"
Lalu dia mencari Desmon yang berada di seberang tempatnya. Disana Desmon sudah mulai akan bergerak kedepan dengan terus menajamkan penglihatannya dengan keadaan berkabut.
DOR! DOR! DOR!
Anak buah Bobi sudah mulai menembaki membuat Desmon bersalto mencari tempat aman bersamaan dengan Tira yang berhasil mendekatinya.
"Ikuti aku," ucap Tira dengan menunjuk sisi tempat yang tidak berkabut.
Desmon mengangguk dan mengekori Tira dari belakang. Mereka berdua berjalan dengan menunduk otomatis bokong mereka dalam keadaan menungging. Saat Tira berhenti mendadak, Desmon yang tidak siap pada akhirnya wajahnya menubruk bokong Tira.
__ADS_1
"Astaga, wajah tampanku kena pantat!" gerutunya.