
Dibawah guyuran shower sepasang suami istri tengah memadu kasih. Tangan suami mencengkram pinggang istrinya yang ditusuknya dari arah belakang dengan pinggul yang terus bergerak cepat. Sampai akhirnya saat mencapai puncaknya dia menyemburkan semuanya kedalam.
"I love you, I love you," ucap Desmon dengan mengecup punggung telanjang Nano dari belakang.
Nano yang masih terengah tidak bisa bersuara lagi. Itulah Desmon, suami mesum yang tidak pernah lelah terus mencicipi tubuhnya setiap ada kesempatan dia selalu memintanya.
"Lepas," pinta Nano saat nafasnya sudah kembali teratur.
Dan Desmon segera mencabut miliknya yang mana membuat Nano mengernyit merasakan benda tumpul yang besar itu keluar dari liangnya.
"Si kembar pasti menungguku, sempat-sempatnya mengajak bermain saat aku mandi," gerutu Nano dengan membersihkan dirinya.
Desmon hanya terkekeh tanpa dosa, sebelumnya mereka sudah merencanakan untuk honeymoon di Paris tapi ternyata mereka mendengar kabar jika Jeni dan Sora kabur dari kantor polisi untuk itu mereka mengurungkan niatnya.
Selama dua minggu ini dibantu polisi bahkan detektive, Desmon mencari keberadaan mereka yang statusnya jadi buronan tapi Jeni dan Sora bagai ditelan bumi.
"Kau begitu menggoda, darling," ucap Desmon dengan mengusap perut Nano. Dia berharap Nano cepat hamil lagi karena dia ingin menjadi ayah siaga setelah sebelumnya melewatkan kehamilan si kembar.
Akhirnya keduanya mandi bersama setelah acara mandi selesai, Desmon segera bersiap ke kantor. Mereka tinggal di mansion keluarga Cullen karena Robert dan Malika yang memintanya, kedua opa dan oma itu masih ingin menghabiskan waktu bersama si kembar.
Si kembar akhirnya pindah sekolah di Ibukota dan pusat toko Nano juga ikut pindah, sekarang masih tahap pindahan karena Nano baru mendapat tempat yang cocok beberapa hari lalu.
"Aku akan melihat lokasi toko lagi hari ini," pamit Nano dengan memasangkan dasi suaminya.
Desmon mengangguk karena dia tidak ingin melarang Nano melakukan hal yang istrinya sukai. Setelah istrinya itu selesai memasangkan dasinya, Desmon mengambil sebuah berkas di laci dan memberikannya pada Nano.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Nano saat menerima berkas itu.
"Bukalah, darling," sahut Desmon dengan membimbing istrinya duduk di sofa kamar.
Nano membuka berkas itu dan membulatkan mata saat membaca apa yang tertulis disana.
"Perusahaan Diwangsa sudah diakusisi oleh perusahaanku jadi sahamnya aku balik nama dengan namamu, darling. Dari awal itu adalah hakmu jadi jagalah pemberian orangtuamu," jelas Desmon.
Nano tidak bisa berkata-kata lagi, dia memeluk suaminya penuh kasih sayang. "Terimakasih, aku pasti akan menjaganya untuk si kembar nanti!"
Desmon langsung menggeleng. "Si kembar itu urusanku, darling. Jadi untuk bagian Diwangsa berikan pada adik si kembar nanti!"
"Untuk itu, kita harus rajin membuatnya!"
Sementara di meja makan, si kembar yang sudah bersiap sekolah menunggu kedatangan orangtuanya. Mereka tidak mau menyuapkan makanan ke mulut mereka sebelum orangtuanya ikut bergabung bersama mereka.
"Apa mama dan papa dulu tidak saling kenalan dulu, Oma?" tanya Raka yang kurang mengerti urusan orang dewasa.
"Kalau mereka tidak saling mengenal, bagaimana caranya ada kami?" timpal Riki yang mana membuat Malika berdehem karena bingung menjelaskannya.
"Kalian tidak mempelajari masalah sistem reproduksi manusia?" tanya Robert penuh selidik karena merasa kedua cucu jeniusnya tidak mengerti masalah itu.
"Dari kecil mama selalu melarang kami mempelajari hal itu sebelum berumur 17 tahun," jawab Raka.
"Ya, sepertinya Opa mengerti kenapa mama kalian melarangnya!" ucap Robert sambil bergidik membayangkan kedua cucunya akan melakukan eksperimen manusia buatan.
__ADS_1
*****
Setelah si kembar berangkat sekolah, Nano segera bergegas pergi ke lokasi toko barunya. Disana Ocha sudah menunggu kedatangan bosnya, dia juga ikut pindah ke Ibukota karena hanya Ocha yang Nano percaya selama ini.
"Bu Bos," panggilnya saat melihat Nano turun dari mobilnya.
Nano mendatangi Ocha dan melihat tokonya yang sudah hampir jadi, toko itu lebih besar dari tokonya yang ada di Surabaya.
"Ini daftar-daftar barang yang masih dalam perjalanan kemari, Bu Bos," ucap Ocha dengan menyerahkan laporan yang dibawanya sedari tadi.
Nano memeriksa laporan itu dan mengecek semua barang-barangnya setelah dirasa tidak ada yang terlewat dia mengembalikan laporan itu pada asistennya.
"Kita sepertinya perlu merekrut karyawan baru karena tidak semua karyawan yang di Surabaya ikut kemari jadi buat pengumuman lowongan pekerjaan di situs internet dan media cetak. Kita perlu admin dan juga beberapa karyawan," ucap Nano kemudian.
Ocha mengangguk paham dan akan segera melaksanakan perintah bosnya.
"Belikan aku minum dulu sebelum kita masuk kedalam!" titah Nano yang merasa kehausan.
"Minum apa, Bu Bos?"
"Minuman yang seperti dirimu!"
"Seperti saya?" tanya Ocha yang tidak paham.
"Maksudnya teh Ichi Ocha... "
__ADS_1
Dan beberapa hari kemudian setelah Ocha membuat pengumuman lowongan pekerjaan, banyak yang memasukkan lamaran pekerjaan di toko Nano tersebut. Rata-rata yang melamar disana adalah lulusan SMA tapi ada satu pelamar yang membuat Ocha heran karena dilihat dari datanya dia lulusan S-2 tapi melamar menjadi admin disana.
"Silvia Jang," gumamnya membaca nama pelamar itu.