KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Malam hari ini Fara mengajak orang tuanya dan Meyna pergi makan malam di luar. Sayangnya Mayra tidak bisa ikut dengan mereka malam ini, karena esok ia baru kembali ke Indonesia. Rencana makan malam kali ini Tante Rika mengusulkan untuk ke resto miliknya, tapi Fara menolak. Karena, jika makan di resto milik Mama nya otomatis tidak perlu bayar alias gratis.


Fara menolaknya, karena rencananya ia ingin mentraktir orang tuanya dan Meyna. Om Candra dan Tante Rika pun pasrah saja, mereka ikuti permintaan putrinya dari pada harus mendengar rengekan Fara sepanjang malam. Ba'da isya' mereka sudah bersiap untuk pergi makan malam di sebuah resto yang tak jauh dari perumahan


Menu yang mereka pilih malam ini ada macaroni secottel, pasta, dan pizza. Saat menunggu pesanan tiba mereka melakukan panggilan video call dengan Mayra. Mereka bertanya jam keberangkataan Mayra dari Kairo menuju Indonesia. Dalam sambungan panggilan tersebut ada sedikit cerita dan


"Waalaikumsalam, Tante, semua. Selamat makan," balas Mayra.


Mereka pun berhenti melakukan panggilan bersama Mayra, dan beralih menyantap makanan yang sudah di hidangkan diatas meja mereka. Tapi siapa sangka jika disela makan malam mereka saat ini membuat mereka terutama Fara bertemu dengan orang tua Arnoz. Om Candra dan Tante Rika tidak tahu, jika putri Pak Sanjaya adalah orang tua Arnoz.


Terlihat putri Pak Sanjaya, suaminya, dan putra sulung mereka serta Pak Sanjaya menyapa Om Candra dan yang lain. Tampak Om Candra dan yang lain membalas sapaan Pak Sanjaya sekeluarga. Fara terlihat memberi senyuman palsunya, rasa gejolak kesal tiba-tiba muncul. Ia merasa tidak sanggup bertemu keluarga Arnoz.


"Fara? Apakah Fara adalah putri kalian?" tanya Ibunda Arnoz.


Tante Rika menjawab, "Iya, Bu. Fara adalah putri kami. Ibu dan Fara sudah saling kenal, kenal dimana?"


"Fara ini teman putra bungsu saya, saya dan Fara sudah pernah makan malam bersama di Singapura."


Om Candra hampir tersedak saat mendengar ucapan Ibunda Arnoz, dahinya mengerut mencoba mencerna ucapan putri Pak Sanjaya. Akhirnya Om Candra pun memberanikan diri untuk bertanya pada putri Pak Sanjaya.


"Ehem! Maaf putra yang maksud Ibu, apakah putra Ibu bernama Arnoz?" tanya Om Candra.

__ADS_1


Putri Pak Sanjaya yang selaku Ibunda Arnoz hanya mengangguk, dalam hati dirinya merasa heran karena ternyata keluarga Om Candra telah mengenal Arnoz. Apakah mereka pernah bertemu Arnoz? pikirnya.


Fara yang melihat suasana menjadi memojokan dirinya, ia hanya diam saja. Ia pun beralasan pergi ke toilet untuk menutupi segala kekesalan nya terhadap Arnoz. Walaupun ia bertemu keluarga Arnoz bukan Arnoz sendiri, hal itu kembali mengingatkan memori nya pasca putus hubungan dari Arnoz.


Pak Sanjaya sekeluarga pun pamit setelah itu, mereka hendak pulang. Ada senyum dan rasa terima kasih untuk Om Candra dari Pak Sanjaya, karena Om Candra telah memaafkan kesalahan dirinya dahulu. Pak Sanjaya menepuk panggung Om Candra, terlihat rasa kekeluargaan seorang Ayah dengan anaknya.


Saat tiba di parkiran, putra sulung dari putri Pak Sanjaya mempersilahkan kedua orang tuanya serta sang Kakek untuk pulang terlebih dahulu. Alasan yang ia berikan pada mereka, yakni dirinya ada janji dengan salah seorang temannya. Setelah mendapat ijin dari kedua orang tuanya, putra sulung putri Pak Sanjaya pergi dari parkiran.


Langkahnya menuju toilet, sebenarnya ia berbohong tadi. Bukan ada janji dengan temannya melainkan ia ingin bertemu Fara, mantan pengisi hati adik laki-laki nya yaitu Arnoz. Kakak Arnoz terlihat menyenderkan tubuhnya di dinding luar toilet, ia sedang menunggu Fara. Matanya terlihat mencari seseorang di dalam, sesekali ia mengintip ke dalam toilet.


Saat pandangannya lurus ke depan, tiba-tiba saja seorang gadis berhijab dengan hijab peach keluar. Kakak dari Arnoz menghentikan langkah gadis berhijab peach tersebut, ia yakini jika gadis itu adalah Fara.


"Fara!"


"Ada apa?" tanya Fara terlihat ketus.


"Kau masih marah setelah kejadian dimana Arnoz memutuskan hubungan denganmu? Ayolah, lupakan! Itu sudah hampir lalu, kejadian itu masa lalumu," balas Arnold, Kakak Arnoz.


Fara diam tidak bergeming. Ia melangkah maju mendekat ke sebuah kolam air mancur di depannya. Mata yang semula berbinar kini menjadi berkaca-kaca. Hatinya kembali merasa sakit, kesal, campur aduk rasanya. Entah apa yang ingin ia katakan pada Arnold, Kakak Arnoz.


"Mas Arnold tidak merasakan apa yang aku rasakan, jadi mudah Mas bilang begitu," balas Fara menahan marah.

__ADS_1


Arnold berjalan ke samping Fara, ia menatap kosong ke depan. Fara menoleh sekilas ke arah Arnold, Kakak Arnoz.


"Apa Arnoz telah menjelaskan semuanya pasamu, Fara? Apa kau tahu apa penjelasan Arnoz?" tanya Arnold datar.


Fara mengerutkan dahinya, "Maksud Mas Arnold apa? Semuanya sudah jelas, alasan Arnoz tentu perempuan yang menjadi tunangannya."


Arnold mengangguk, "Kau tidak sepenuhnya salah, Fara. Tapi kenapa kau tidak mau mendengar penjelasan Arnoz dulu, kenapa?" tanya Arnold.


Fara diam tidak merespon.


"Sebenarny- - -" ucapan Arnold terhenti saat mencoba Fara dipanggil seseorang.


"Kak Fara!"


Fara menoleh ke belakang, ia memasang senyum kepada Meyna. Ya, Meyna yang memanggil Fara. Meyna yang berjarak dibelakang Fara, perlahan ia melangkah mendekati Fara. Sesampainya pada Fara, Meyna melirik sekilas ke arah Arnold.


"Ada apa, Mey?" tanya Fara lembut.


Meyna menoleh ke Fara, "Kakak dicariin Om dan Tante. Makanan Kakak juga belum habis, makanya aku ke sini."


Fara tersenyum lalu mengangguk, "Ayo kita kembali, Mey!"

__ADS_1


"Iya, Kak."


Fara dan Meyna berjalan meninggalkan Arnold sendirian. Sementara Arnold terlihat termangu ditempat sesaat. Ia menatap arloji di tangan kirinya, kemudian ia pergi menuju


__ADS_2