KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
52• (Ori or dup(?))


__ADS_3

"Kenapa harus aku, Kak?"


Bagaimana tidak terkejut saat tiba-tiba Mayra dipilih untuk mewakili sekolahnya disebuah ajang lomba?


"Ehem..." Fara berdehem. Mayra tetap menunduk, dan Zikra melirik sekilas Fara. "May ... apa salahnya kamu terima tawaran lomba Kak Zikra? Aku rasa ... kamu bisa kok, May."


Zikra yang mendapat pendukung langsung tersenyum. Ia menganggukkam kepalanya, setuju pada Fara.


"Misal lo masih ragu buat iya apa nggak, lo pikirin aja dulu, May," saran Zikra. "Gue harap lo mau. Waktunya sekitar dua mingguan lah."


Mayra menghembuskan napasnya, meringankan dadanya yang seakan tersumbat.


"InsyaAllah, ya, Kak. Aku pikirin dulu," kata Mayra. Ia benar-benar takut jika mengecewakan sekolah dan Zikra. Ia masih anak baru! Baru beberapa minggu belajar di sini.


"Gue tunggu kabar dari lo."


Setelah itu, Zikra keluar dari kelas Mayra. Sempat tadi ia tersenyum pada adik-adik kelasnya yang sedari tadi memperhatikannya dengan Mayra. Dan, apa yang terjadi?


Para siswi—teman-teman Mayra—langsung histeris. Hanya sebuah senyum dari kakak kelas populer mereka mendadak aneh, dan ... merona.


"Duuhh, Kak Zikra nggak senyum aja handsome. Apalagi senyum, eemm ... very handsome yalah," gumam Fara.


"Stop, Ra."


******

__ADS_1


Hari ini merupakan hari beruntung Fara. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan sosok Reynar, kini—usai pulang sekolah—Fara melihat Reynar menunggu bus di halte yang biasanya Mayra menaiki bus.


Dari situ, muncullah niat Fara untuk mengajak Reynar bicara. Alhasil, di sebuah tempat nongkrong anak muda Fara dan Reynar saat ini berada. Mereka menghabiskan waktu di sana hampir satu jam ini.


Fara menggembangkan senyumnya sedari tadi. Ia mulai merasakan Reynar yang dulu, yang rewel nan usil.


"Nggak usah senyum teros, ntar suka berabe!"


Sindiran keluar dari Reynar, yang asyik memainkan game online kesayangannya. Mendengar itu, Fara memukul kepala Reynar dengan minuman botol miliknya.


Reynar berdecak sebal. "Lo nggak berubah, ya, Ra. Masih aja suka aniaya gue. Gue laporin lo, mampus!"


"Halah, gitu aja laporin. Dasar cemen!" ejek Fara.


Tiba-tiba Reynar melepas ponselnya di atas meja, yang menjadi pembatasnya dengan Fara. Kerutan dahi Fara tunjukkan.


"Lo nggak dicari ama nenek kakek lo jam segini belum balik?"


Fara tertawa terpingkal. "Rey ... kamu, kok, jadi ingat waktu gini, sih!? kamu nggak lagi amnesia dadakan, 'kan?"


Reynar mengerutkan dahi. Apa yang lucu coba darinya sampai-sampai Fara tertawa terpingkal? Reynar saat itu juga berdiri. Memakai tas ranselnya, hendak beranjak pergi.


"Mau pulang sekarang, Rey?"


"Iya, buruan ayok!" Reynar menjetikkan jarinya.

__ADS_1


"Rey ... serius ini pulang? Yaaah ... padahal lagi asyik juga!" Fara bersedekap tangan dengan wajah ditekuk berpaling ke arah lain.


"Ini mau magrib, Ra!"


"Tapi—"


"Lo ternyata selain suka aniaya gue, lo juga masih keras kepala, ya!" cibir Reynar. Dan, pasti Fara terkejut dengan perubahan Reynar. Ini serius Reynar bukan, sih!?


"Lo harusnya bisa belajar sama saudara lo. Dia 'kan udah nggak di pesantren, 'kan?"


"Lho ... Rey, are you original or duplicate?! Kamu aneh tau, Rey!" Fara terkekeh kecil diakhir kalimat.


Namun, Reynar tidak menggubris. Ia memilih berjalan menjauh dari Fara untuk mencegat angkutan umum. Tentu Fara langsung berlari terbirit menyusul Reynar.


Jangan sampai ia ditinggal!


.


.


.


Short chapter 🤧


Lolos Revisi 20 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2