KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
45• (Pusat perhatian)


__ADS_3

Lho, itu siapa kek baru lihat?


Keknya murid baru tuh!


Oh, ternyata ada juga yang mau sohiban sama tuh cewek alim


Kenapa mesti nggak ada? Cewek kerudungan itu 'kan manusia juga.


Jauh sebelum Mayra menapakkan kakinya di koridor kelas sepuluh. Sudah banyak yang membicarakannya dari kejauhan.


Tunggu, apa maksud 'Ternyata ada juga yang mau sohiban sama tuh cewek alim'?


Perbincangan itu muncul kala para siswa melihat Mayra datang tidak sendiri, melainkan bersama seseorang. Dan, penampilannya tentu tidak sama dengan Mayra yang menggunakan jilbab dan tertutup. Dia adalah Fara.


Ya, mulai hari ini Fara satu sekolah dengan Mayra. Kakek yang memilihkannya. Tentu Fara tidak mungkin menolaknya.


"Mayra! Fara!"


Dua gadis berseragam putih abu-abu itu kini menoleh. Mereka tersenyum menyambut lelaki paruh baya yang berjalan mendekat.


"Belajar yang rajin, ya. Kakek pulang dulu."


Satu usapan lembut di kepala Mayra dan Fara kakek berikan. Selanjutnya, Mayra dan Fara mengecup punggung tangan sang kakek.


"Hati-hati, Kek!"


******


Beruntung Mayra dan Fara berada satu kelas. Setidaknya Fara tidak perlu canggung dan mendadak jadi pendiam. Namun, di hari pertama ia sekolah ia belum memiliki teman satupun. Hanya Mayra yang menemaninya. Dan, sepertinya Mayra yang sudah lebih lama darinya pun belum memiliki teman.


Mengetuk-ngetukkan telapak kaki di ubin tangga musalla yang Fara lakukan saat ini. Musalla? Iya, Fara ada di sana karena Mayra. Sekarang Fara baru tahu kalau Mayra suka salat dhuha sebelum bel masuk.

__ADS_1


Meski sudah tiba di musalla tidak membuat Fara ikutan salat. Rasanya itu tidak perlu, sebab yang salat wajib saja Fara masih bolong.


"Lo anak baru, ya?"


Fara mendongak. Ada dua siswi dihadapannya. Fara lihat dari wajahnya kalau siswi tersebut sepertinya bukan orang baik. Kentara dari wajahnya yang ... ah, pokoknya Fara melihatnya tidak baik. Apa Fara bersu'udzon? Sepertinya.


"Eh, lo kenapa, sih, mau sohiban sama tuh cewek alim?"


Salah satu siswi itu bicara dengan nada tidak suka. Yang satunya pun tersenyum miring. Sepertinya dugaan Fara benar. Fara tahu siapa yang dimaksud tetapi ia diam saja, menunggu kelanjutannya.


"Gue bilangin, ya. Dia itu cuma sok alim padahal dalemnya sama aja kek cabe! Gue saranin lo nggak usah sohiban sama dia, deh!"


Yang satunya menimpali. Kalau yang tadi dengan rambut digerai dan diberi bando. Maka, sekarang yang dikuncir ekor kuda. Meski gaya rambutnya berbeda tapi mereka sama-sama buruk. Bukan buruk rupa tapi buruk akhlak.


"Kalau lo mau, lo mending sohiban sama kita berdua. Lo pasti nggak bakal nyesel!" katanya.


Fara menghela napas, jengah dan kesal. Pantas saja Mayra tidak pernah cerita bagaimana sekolahnya, padahal mereka berdua sering mengobrol bersama. Fara berdiri, tatapannya tidak suka. Namun,...


"Fara!"


Mayra mendekat dengan mukena dalam dekapannya. Ia tersenyum. Namun, Fara yang gusar. Apa Mayra dengar ucapan dua siswi tadi? pikir Fara.


"Jangan mikirin aku, aku nggak pa-pa. Yuk kita ke kelas, Ra."


Lihatlah! Fara benar kalau Mayra mendengar ucapan dua siswi tadi. Lantas, mengapa Mayra tidak marah? Mengapa Mayra tidak bicara pada Fara untuk tidak percaya? Mengapa seolah-olah Mayra membiarkan Fara percaya pada siswi tadi?


"MAY!!"


Fara mengejar Mayra yang sudah berjalan lebih dulu. Tepat di samping Mayra, Fara pun meliriknya. Mayra tersenyum sembari menunduk.


"May, kenapa kamu nggak marah?"

__ADS_1


Bukannya dijawab, Mayra hanya diam dan terus menunduk. Sedangkan, Fara ia mngerutkan dahinya, heran. Oh, Fara tahu alasannya. Pasti karena mereka tadi sempat melewati siswa laki-laki. Ah, Mayra memang pemalu sekali.


"May ..."


"Apa?" Mayra tetap menunduk padahal mereka sudah jauh dari siswa lelaki. Tepatnya mereka sudah di depan kelas.


Kini, Mayra dan Fara berpisah. Mayra ke bangkunya paling belakang. Dan, Fara ada jauh dari bangkunya. Fara duduk dengan sekertaris kelas mereka.


******


"Udah, May?"


Fara, ia berdiri tepat di samping bangku Mayra. Menunggu Mayra yang tengah membereskan alat tulisnya.


Mayra menganggukkan kepala pada Fara. Tanda ia siap pulang. Keduanya berjalan beriringan di koridor. Kali ini mereka kembali jadi pusat perhatian warga sekolah. Ah, baiklah mungkin karena ada Fara.


"Kita dijemput pak sopir, May. Nggak perlu naik bus," ujar Fara yang baru melihat ponselnya.


"Lho, kenapa?"


"Aduh May ... yang pasti kakek atau mungkin nenek yang nyuruh lah! Masa aku?" Fara gemas sendiri.


Mayra tersenyum, menyadari Fara yang gemas padanya. "Katanya mau naik bus lagi?"


Fara menghentikan langkahnya dan menghembuskan napas panjang. Lalu, kembali berjalan menyusul Mayra.


"Ternyata kamu ngeselin juga, ya, May! Bikin gemeeessh!" cibir Fara hanya dibalas senyuman oleh Mayra.


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 17 Juni 2021


__ADS_2