
Zikra mengulas senyumnya kala netra hitamnya menangkap sosok yang ia tunggu sedari tadi. Gadis bergamis hitam polos yang diberi outerwear berupa cardigan panjang selutut warna coklat tua itu menunduk sedari tadi. Sedangkan, sepupunya di samping berjalan dengan merekahkan senyum kagumnya.
Ya, dua gadis yang beriringan itu Mayra dan Fara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Zikra masih dengan senyumnya. "Syukurlah kalian berdua udah datang, kukira nggak jadi."
"Mana ada kek gitu, Kak?" sahut Fara. Rasanya tidak mungkin untuk menolak undangan seorang Zikra Hadid, kakak kelas populer sekaligus waketos sekolah.
"Ada tuh, samping kamu," sindir Zikra tertuju untuk Mayra.
Fara tersenyum geli. Ia melirik Mayra yang hanya menunduk. Tidak menyanggah apa-apa karena memang tidak ada ucapan yang ia harus sanggahi.
******
"Hai, boleh gabung nggak?"
Ketiga manusia yang berada di meja bar cafe itu menoleh ke samping. Ada seorang gadis ber-dress selutut itu tersenyum tipis.
Raut Zikra hanya datar, senyumnya pun sedikit luntur usai kehadiran Shifa di sana. Tetapi, Mayra dan Fara tak melunturkan senyum mereka.
"Nggak boleh, ya?" kata Shifa memastikan. Ia pun sempat melirik Zikra yang mengalihkan pandang. Sejujurnya, Shifa dibuat mencelos saat itu tapi ia memang pandai menutupi perasaannya.
__ADS_1
"Bo-boleh kok, Kak. Masa nggak, sih?" kata Fara kaku. Takut salah menjawab.
Keempat manusia di meja bar cafe kini dilanda hening dan canggung. Semakin mencekam rasanya karena Zikra yang sedari tadi begitu banyak bicara, tiba-tiba diam sejuta bahasa.
Tanpa sengaja Fara mengeluarkan sedikit air minumannya ke meja hingga timbul kulacino.
"EH—" Fara lekas mengambil tissu yang ada di slimbag miliknya. "Kak Zikra, aku pamit ke toilet bentar, ya. Titip Mayra."
Zikra mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ra!" Mayra menahan tangan Fara membuat empunya menoleh. Kelu rasanya Mayra ingin berkata, hingga ia mengisyarat lewat sorot mata.
"Ya udah. Kak Zikra, nggak jadi nitip Mayra, ya," kata Fara hanya direspons senyum tipis Zikra.
"Aku ragu sama kata maafmu kemarin, Zik."
Zikra menoleh ke Shifa dengan raut super datarnya. "Mau lo percaya atau nggak, itu terserah," katanya.
Shifa menghela napasnya ditempat. Dulu, ia dan Zikra begitu dekat dan tidak secanggung ini. Mereka berdua selalu menghibur dan menghabiskan waktu bersama. Hingga, akhirnya Zikra memutuskan hubungan karena Shifa main api di belakangnya.
Zikra kecewa kala itu, tapi ia bisa apa? Ia lebih baik mengikhlaskan Shifa dengan yang baru daripada menerimanya kembali tapi tidak membuang kemungkinan Shifa bermain api kembali.
"Kamu pasti suka banget, ya, sama cewek satu itu?" kata Shifa karena hampir terus melihat kedekatan Zikra dengan Mayra, tapi tidak kedekatan yang sepertinya. Ada batas yang lebar di antara Zikra dan Mayra.
__ADS_1
"Lo tuh sebenarnya mau ngomong apa ke gue? To the point aja!" cetus Zikra kesal. Ia memang tidak dendam bahkan sudah memaafkan Shifa. Tapi, melihatnya sama saja mengingatkan akan kejadian dahulu. Makanya, Zikra kesal.
"Nggak ada, Zikra. Aku cuma mau ngobrol aja sama kamu, setelah sekian lama kita diem-dieman." Shifa tersenyum tulus.
Zikra membuang pandangnya.
******
Di toilet cafe, Fara terus saja mengajak bicara Mayra tentang Zikra dan Shifa. Meski bicaranya sepanjang tol Jagorawe tetap saja ditanggapi Mayra sependek tanda hubung kalimat.
"KAMU MAH MAY, NGGAK ASYIK!!!"
Mayra menghela napasnya. Sepupunya ini malah teriak-teriak di toilet umum. Tidak malu apa jika banyak yang mengiranya aneh? Aneh, sih, tidak apa kalau sinting bagaimana?
"Udah Ra, jangan ngomongin orang. Kamu jangan sok tau," tegur Mayra dibalas cebikan oleh Fara.
Acara malam ini diisi sembilan puluh persen oleh para siswa yang lulus SMA. Sepuluh persen adik kelas dan orang luar—mungkin mereka adalah si spesialnya beberapa siswa/i yang lulus—kalau tidak spesial masa repot-repot diundang?
.
.
.
__ADS_1
Lolos Revisi 30 Juni 2021