
Minggu telah tiba. Sebelum mentari terbit sepenuhnya, keadaan halaman hingga sawah pesantren sudah ramai dengan lalu lalang para santri. Minggu adalah saatnya mereka bekerja bakti di lingkungan pesantren.
Saat ini di beberapa petak sawah, terlihat santri putra dan putri menanamkan padi di atasnya. Lumpur membalut kaki mereka pun tak dihiraukan. Rasa jijik sama sekali tak ada. Malah, mereka sangat menikmati kegiatan mereka saat ini.
Hari ini tak semua santri di sawah. Tetapi, ada juga yang di halaman pesantren, halaman rumah Kyai, hingga masjid. Khusus santriwati senior, mereka ada yang menyiapkan makanan untuk sarapan. Ada pula yang membantu memasak di ndalem.
Mayra, ia salah satu dari sekian banyaknya santriwati di sawah. Sesekali Kayla dan Safa juga dirinya tertawa, dan geleng kepala.
Tawa mereka puncak di mana beban ujian telah usai. Mereka tinggal menunggu hasil sembari menghabiskan waktu di pesantren juga menyambut keluarga yang akan menjenguk. Momentum di mana kakek nenek Mayra akan datang. Mayra menunggu waktu itu tiba.
Tak terasa mentari semakin naik dari persembunyiannya. Kini para santriwati memilih duduk di teras kamar asrama mereka sembari bercerita, mengobrol biasa, bermain suit, hingga menonton para santri putra bermain voli di halaman luas pesantren.
Para santriwati tidak mendekat. Hanya menonton dari teras kamar asrama mereka. Salah satunya Mayra, Kayla, dan Safa juga di sana.
Tiga gadis itu asyik menonton permainan voli para santri putra. Turut mengomentari dan sesekali bersorak lirih karena pemain yang didukungnya dapat menjatuhkan lawan main.
"KANG HIM SMASH BOLANYA KENCENG BANGET!!"
__ADS_1
Dua gadis di dekatnya langsung menutup telinga. Sedari tadi, sejak pertama mereka menonton Kayla tak berhenti menyorakan suaranya. Alhasil, Mayra dan Safa harus didera cempreng luar biasa dari mulut Kayla.
Safa mendengus kesal. "Bisa nggak sih nggak teriak-teriak gitu, Kay!!?" gerutu Safa, yang terganggu luar biasa.
Kayla menghela napasnya. "Kalau gitu mending pindah aja sana, nggak usah deket aku!!"
"Siapa juga yang deket situ, Kay!!?" ketus Safa. "Aku 'kan di sebelahnya Mayra!!"
Perdebatan itu hanya membuat Mayra yang sudah beberapa detik lalu mengalihkan fokusnya ke buku, mengangkat kepalanya. Ia hanya tersenyum tipis menyaksikan perdebatan itu.
"May ... kamu ingetin Kayla, nih!!" adu Safa kesal. "Dari tadi aku bilangin malah nyerocos mulu, nih!!"
Safa mendengus kesal. Lagi-lagi ia gemas ingin membekap mulut Kayla yang cemprengnya luar biasa.
"Buat apa aku ngelerai kalian kalau ujung-ujungnya tengkar lagi tengkar lagi!!?" Kali ini Mayra. Berhasil mengicepkan dua sahabatnya yang tak kenal lelah bertengkar.
"Bukan aku, May ... tapi Kayla duluan, noh!!" Safa membela diri.
__ADS_1
"Bukan, May ... tapi si Safa duluan yang emosian tuh!!" timpal Kayla.
"Udah ya, jangan tengkar lagi. Kasihan aku yang cuma bisa diem gini," kata Mayra. Ia bangkit hendak masuk kamar asrama, padahal hampir semua santriwati di teras asrama.
*****
Tanpa suara kecuali desiran angin yang keluar masuk melalui jendela yang dibuka lebar. Tirainya pun bergoyang seirama desiran angin. Suasana dalam ruangan ini hanyut dalam pilu. Air mata menetes mengingat masa lalu. Meski telah mencoba menerima, nyatanya sulit.
Nenek, saat ini ia tengah menangis sendiri di kamar almarhum putra sulungnya—Heru Pernama. Mengenang kepergian sang putra hingga tak terhitung ini kali ke berapa. Nenek sulit menerima kenyataan ini, meski telah berlalu cukup lama.
"Maafkan Mama yang menyebabkan kalian pergi secepat ini. Maafkan Mama yang menyebabkan Mayra terpukul begitu dalam."
.
.
.
__ADS_1
Lolos Revisi 10 Juni 2021