
"Saya tidak tahu, Akhi. Cobalah dibaca dulu surat itu, barulah Akhi memutuskan untuk membalas atau tidak surat tersebut. Urusan kita telah usai, saya permisi Akhi."
Mayra mengatupkan kedua tangannya.
"Ayo, May!" ajak Ana.
"Assalamualaikum" salam Mayra dan Ana bersamaan.
"Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabbarakatuh." jawab Furqon.
Mayra dan Ana pun pergi meninggalkan Furqon, karena urusan mereka telah selesai. Entah kenapa Mayra merasa gugup jika berada didekat Furqon, walau jarak tidak lupa ada diantara mereka.
Furqon menatapi kedua gadis berhijab lebar itu pergi, hingga tidak sadar jika Alif ada di sampingnya sekarang.
"Mau ditatap terus sampai pagi?" ledek Alif.
Furqon pun menoleh terkejut ke Alif, "Astagfiirullah, Lif. Kamu buat kaget saja tahu ndak?! Sejak kapan ada disini?"
__ADS_1
Alif terkekeh kecil, "Sejak kamu menatap gadis itu pergi, ada apa? Kenapa mereka menemuimu, Fur? Apa salah satu gadis itu melamarmu? ha ha ha." Alif tergelak tawa.
Furqon menggeleng kepalanya mendengar ucapan Alif, konyol itulah menurut Furqon.
"Lamar apanya sih, Lif?! Memang mereka Siti Khadijah apa, yang datang kepada Nabi SAW." timpal Furqon.
"Ha ha ha, iya - iya. Jangan ngambek gitu, gak lucu tahu." canda Alif terkekeh.
"Sudah - sudah, sekarang ada apa kau menemuiku?" Furqon menghentikan canda Alif.
Furqon mengangguki ucapan Alif.
"Ayoo, Lif!"
Furqon dan Alif berjalan ke tempat parkir kemudian melaju pulang ke rumah Furqon. Abah dan Umi Furqon juga sudah menganggap Alif putra mereka. Dulu rumah mereka selalu ada tiga serangkai, yaitu Ustadz Hakam, Furqon, dan Alif. Kebetulan orang tua Alif juga sahabat dari orang tua Ustadz Hakam dan Furqon.
Sebab, orang tua Arnoz selalu sibuk dengan bisnis mereka yang telah menyebar ke beberapa negara di dunia. Arnoz memiliki satu saudara, saudaranya juga laki - laki. Namun, Kakak Arnoz sekarang juga sibuk seperti orang tuanya, karena ia juga ikut andil untuk mengelola cabang perusahaan keluarga.
__ADS_1
Lebih tepatnya, Arnoz adalah anak bungsu dari orang tuanya. Usia Arnoz dan Kakaknya hanya berbeda tiga tahun.
"Arn, kapan kamu ingin menemui orang tuaku? Kita sudah menambah waktu satu bulan untuk memantapkan mereka." ucap Fara.
"Entahlah, Fara. Aku tidak tahu kapan akan menemui orang tuamu lagi, apakah mereka telah berubah keputusan?" balas Arnoz datar.
Fara menghela nafasnya, "Mereka hanya ingin aku menyelesaikan kuliah dulu, barulah memikirkan tentang jodoh."
"Artinya mereka peduli dengan masa depanmu, Fara. Tenang dan sabar dulu ya?! Pasti ada waktunya aku melamarmu." ucap Arnoz mengusap kepala Fara.
Fara mengangguk pasrah.
Sebenarnya ia tahu jika Arnoz akan di jodohkan dengan anak sahabat orang tuanya, tentu hal itu membuat Fara panas dan membulatkan tekad agar Arnoz segera melamarnya. Mengenai hal perjodohan tersebut, Arnoz sama sekali tidak tahu.
Andaikan kamu tahu rencana orang tuamu yang ingin menjodohkan mu dengan perempuan lain. Aku tidak sanggup berpisah denganmu, Arn. Semoga saja kamu tetap ada di pihakku, datang untuk melamarku.
Fara memejamkan matanya sambil menikmati setiap terpaan angin yang berhembus, ia merasakan kedamaian disana.
__ADS_1