KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Setelah itu, Mayra pergi ke taman belakang untuk melakukan aktivitas kesukaannya, yakni menyirami berbagai macam tanaman disana. Terlihat beberapa tanaman yang telah berbunga, yang sangat cantik untuk dipandang.


Meyna yang baru saja turun langsung menghampiri Mayra yang sedang menyirami tanaman ditaman belakang sendirian. Melihat Bi Ina yang juga sibuk dengan aktivitasnya di dapur, Meyna sejenak menyapanya.


"Assalamualaikum Bi Ina." sapa Meyna dengan senyuman yang menampilkan lesung pipinya.


Bi Ina menoleh, "Waalaikumsalam Non." Bi Ina tersenyum.


"Bi, Meyna mau nyusul Kak Mayra dulu ya? Atau Bibi butuh bantuan Meyna di dapur?"


Bi menggeleng, "Tidak ada, Non. Non Meyna nyusul Non Mayra saja di taman, Bibi nggak kerepotan kok." jawab Bi Ina.


Meyna mengangguk. "Meyna ke taman dulu ya Bi."


"Iya, Non."


Terlihat Mayra sedang duduk di gazebo yang ada ditaman rumahnya, sambil menikmati cantiknya bunga - bunga bermekaran dan angin sepoi - sepoi yang mendominasi. Meyna menghampiri dan duduk disebelah Mayra.


"Cantik ya Kak, bunganya." Meyna menatap bunga yang ada di depannya.


Mayra menoleh ke samping, ia tersenyum menyadari Meyna ada disana.


"Iya, cantik sekali. Tapi, ini terakhir Kakak menikmati keindahan bunga - bunga ini, karena besok Kakak akan kembali ke Kairo," ucap Mayra menatap bunga di depannya.


Meyna menatap Mayra yang sedang menatap ke depan, ia tersenyum simpul dengan mata berkaca - kaca.


Selesaikanlah pendidikan Kakak disana dan cepatlah kembali ke pelukan keluarga ini lagi Kak. Aku merindukanmu...


batin Meyna.


Terlihat hening tanpa suara, Mayra menoleh ke samping. Ia mendapati Meyna yang sedang termenung sambil menunduk.


"Ada apa, Mey?" tanya Mayra lembut.


Gadis berhijab lebar itu menatap lembut adiknya.


"Nggak apa kok, Kak. Hanya saja ... aku akan merasakan kehilangan Kakak setelah Kakak pergi ke Kairo lagi." jawab Meyna menatap Mayra dengan berkaca - kaca.


Mayra merasa tersentuh akan ucapan Meyna barusan, ia tersenyum ke arah Meyna. Di bawanya Meyna ke dalam pelukannya dan diusap lembut punggung adiknya, Meyna.


"Maafkan Kakak, Mey! Kakak meninggalkanmu lama disini, maafkan Kakak ya. Kakak janji setelah Kakak lulus dari Kairo, Kakak akan selalu bersamamu menemanimu disini. Terima kasih juga ya ... terima kasih kamu telah menemani keluarga Kakak." ucap Mayra sendu.


Meyna mengangguk dan membalas pelukan hangat dari Kakaknya, Mayra.


"Janji ya, Kak?"


"Iya, Mey. Insya Allah Kakak akan selalu menemanimu setelah lulus dari Kairo. Kakak akan selalu ada di rumah ini." ucap Mayra lembut.


Mayra dan Meyna masih saling berpelukan, dan saling berbagi kehangatan.


"Ternyata kalian ada disini." Suara ini membuat Mayra dan Meyna menoleh.


Seketika suasana yang tadinya sendu, kini menjadi pudar kesenduan nya. Hanya ada senyuman yang ada sekarang.


"Maaf, Tante ganggu kalian. Ayo sekarang kita sarapan dulu!" sambung Tante Rika.


Mayra dan Meyna saling menatap dengan senyuman, lalu mereka menghampiri sang Tante.

__ADS_1


"Ayo Tant kita sarapan!" ucap Mayra menggandeng lengan sang Tante.


Tante Rika tersenyum dan mengangguk. Mereka sama - sama pergi ke meja makan untuk sarapan bersama. Om Candra ternyata juga sudah ada disana.


* * * *


Pukul 10.00 WIB


Siang telah menggantikan sang pagi, suasana yang terlihat mendung muncul dilangit biru yang semula cerah. Tepat saat ini, seorang gadis dengan celana jeans dan baju polos warna putih yang dipadu padankan dengan outer tanpa lengan warna abu, menginjakkan kakinya di bandara Soekarno-Hatta.


Gadis berambut panjang bergelombang dengan seorang lelaki di sampingnya, mulai melaju pergi dari bandara menuju suatu tempat.


"Makasih ya, kamu mau temani aku pulang ke Indonesia untuk menemui keluargaku." ucapnya.


Lelaki di sampingnya hanya mengangguk dengan senyuman manisnya. Sang gadis menyenderkan kepalanya di bahu lelaki di sampingnya.


"Aku akan bicara dengan keluargamu juga saat ini. Menurutmu bagaimana?" ucap lelaki itu.


Terlihat senyuman menggembang dari bibir merah muda gadis tersebut.


"Aku setuju!" ucapnya mantap.


Lelaki di sampingnya mengusap rambut gadis yang telah menjadi pengisi hatinya.


Tanpa terasa mereka kini sudah tiba ditempat tujuan, terlihat raut kebahagiaan dan kesedihan saat menapaki halaman rumah yang ada di depannya sekarang. Melihat gadisnya tak bergeming membuat lelaki yang juga pengisi hati gadis tersebut merangkul bahunya.


Gadis itu menarik nafas pelan, ia membalas rangkulan lelaki pengisi hatinya, dan berjalan bersama mendekat ke rumah yang telah ia tinggalkan selama tiga tahun itu.


"Selamat siang, Pak Ade." ucapnya ramah.


"Pak Ade, Papa Mama di rumah?" tanyanya.


"Ada dirumah, betul. Anda siapa ya, Non?" balas Pak Ade.


"Saya Fara, Pak."


Pak Ade membelalakan matanya tidak percaya. Fara yang dulu dengan yang sekarang terlihat sangat berbeda. Sekarang Fara terlihat lebih modis atau bisa dikatakan, selalu memperhatikan penampilannya.


"Pak Ade kaget? Hmmm… kalau begitu saya masuk ya Pak." ucap Fara.


Pak Ade mengangguk kaku.


Fara dan lelaki di sampingnya melangkah masuk meninggalkan Pak Ade, satpam rumahnya. Tepat saat hendak mengetuk pintu, tiba - tiba pintu terbuka dari dalam.


Kedua gadis yang sekarang saling berhadapan, mematung masing - masing. Pandangan mata mereka saling beradu cukup lama. Mata gadis berambut panjang bergelombang berubah berkaca - kaca.


"Mayra!" ucapnya lirih.


"Kamu Fara?" balas Mayra datar.


Fara mengangguk, ia langsung memeluk saudara sepupunya. Mayra membalas pelukan Fara, ia menatap sekilas lelaki yang ada dibelakang Fara.


Siapa lelaki ini??


Cukup lama berpelukan melepas kerinduan, Mayra langsung mengajak Fara masuk ke dalam rumah.


"Ayo kita masuk Fara! Ajak sekalian temanmu." ucap Mayra ramah namun, terkesan datar.

__ADS_1


"Papa sama Mama mana, May?" tanya Fara sambil mengikuti langkah Mayra.


"Mereka ada di taman bersama Meyna. Apa kamu mau langsung bertemu?"


"Iya, May."


Tante Rika mengalihkan pandangannya ke arah datangnya Mayra. Terkejut saat melihat putrinya telah pulang dari Singapura.


"Fara?!" Tante Rika langsung bangkit dari duduknya.


Fara tersenyum sendu dan langsung berhambur ke pelukan orang yang telah melahirkannya. Ibu dan anak itu berpelukan erat menghilangkan rasa rindu yang telah lama terpendam.


Tante Rika mencium kepala anaknya dengan air mata yang menetes, Om Candra tersenyum senang melihat putrinya datang.


"Fara, siapa lelaki ini?" tanya Om Candra.


Fara menoleh ke arah lelaki yang dimaksud Papanya dan beralih ke Papanya.


"Dia temanku, Pa. Tapi dia mau menjalin hubungan yang lebih serius padaku. Aku pulang bukan hanya ingin menjenguk Kakek saja, tapi juga mau memperkenalkan dia pada Papa dan Mama." jawab Fara.


Mendengar penuturan Fara yang lainnya diam tak bergeming, ada sedikit rasa terkejut dalam diri mereka.


"Ahh ya sudah, ayo sekarang kita masuk ke dalam. Kita berbincang diruang tamu saja, supaya lebih nyaman." Tante Rika memecah keheningan.


Mayra dan yang lainnya mengikuti saran Tante Rika. Kini sofa diruang tamu terlihat penuh, suasana disana masih hening. Hanya ada suara Bi Ina menyuguhkan minuman diatas meja.


"Silahkan!"


"Makasih Bi." balas Tante Rika.


Bi mengangguk dan kembali ke dapur.


"Silahkan diminum! Ayo jangan sungkan - sungkan!" Tante Rika tersenyum ramah.


Hanya ada anggukan dari Fara dan lelaki di sampingnya.


Om Candra terlihat menatap lelaki yang ingin mengajak putrinya melangkah ke hubungan yang lebih serius. Dari segi penampilannya oke, tapi orang dinilai bukan dari penampilannya melainkan dari hati dan akhlaknya. Penampilan bisa menipu, tapi hati dan akhlak seseorang tidak mungkin menipu.


Tentu bagi lelaki seperti dia tidak mungkin insecure karena lelaki yang menjadi pengisi hati Fara merupakan lelaki dari keluarga berada dan cukup terpandang. Lelaki pengisi hati Fara adalah lelaki berpendidikan, memiliki paras rupawan, berperawakan tinggi nan gagah.


Bisa dikatakan ia lelaki yang hampir mendekati kata sempurna. Namun, pada dasarnya manusia tidak diukur dari kekayaan yang dimiliki, gelar yang ia capai, paras rupawannya tetapi diukur dari tingkat keimanannya dan ketaqwaannya pada Allah SWT.


Ingat!! Setinggi - tingginya gelar yang manusia miliki, pada akhirnya manusia tetap akan bergelar almarhum - almarhumah. Semahal - mahalnya pakaian yang manusia pakai saat ini, pada akhirnya pakaian yang akan ia pakai adalah kain kafan.


Sebagus - bagusnya kendaraan yang manusia tumpangi, pada akhirnya manusia akan menumpangi kerenda sebagai kendaraannya nanti. Dan semewah - mewahnya rumah yang manusia tinggali saat ini, pada akhirnya manusia akan tinggal di kuburan/makam.


Harta dan tahta tidak akan abadi, dan tidak pula dibawa mati. Apa gunanya kesombongan manusia saat ini? Sombong, pamer/riya' tidak akan berguna justru akan merugikan diri sendiri.


.


.


.


Setuju teman - teman?? (Cueileh tiru2 segala gayanya Kak Sherly🙌)


Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!!!

__ADS_1


__ADS_2