
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu datang juga, La."
Mayra tersenyum ke Kayla. Memandang wajah kusutnya. Kayla bersedakap dada sembari duduk di samping Mayra. Ia tak mau duduk di sebelah Safa. Ia masih kesal padanya.
"Gimana hukumannya, Kay?" seru Safa meledek. "Mantap, 'kan?"
Safa terkekeh geli tak henti, membuat Kayla semakin cemberut dan kusut. Panasnya terik mentari berhasil melemaskan tubuhnya. Mayra berdehem, memberi kode pada Safa. Dan saat itulah Safa membekap mulutnya sendiri. Mencoba menahan tawanya.
"La ... kamu nggak pa-pa, 'kan?" Mayra menatapnya cemas. "Kamu haus atau laper? Mending jajan yuk?"
Kayla menggeleng. Ia menghela napasnya. Menetralkan hatinya yang tak tertata. Antara kesal, dan sayang. Sayangnya karena ia tak dapat mengikuti jam membaca nadhom.
"Kita keluar pondok, buat beli makanan gimana?"
Mayra bangkit dari posisinya. Ia raih tangan Kayla agar ikut bangkit. Bukannya bangkit Kayla justru menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"LA!!"
"KAYLA!!"
Serempak Mayra dan Safa bicara dari biasanya. Panggilan kontan itu membuat Kayla menatap keduanya. Sorot sayu jelas Mayra lihat. Safa juga.
Kayla tersenyum tipis. "Makasih ya May, udah khawatirin aku. Senang deh lihat ekspresi kamu itu."
__ADS_1
Dahi Mayra dan Safa berkerut. Mencoba memahami sekali lagi ucapan Kayla. Mereka menatap heran ke Kayla. Dan, Kayla menatap Mayra dengan senyum merekah. Untuk Safa, Kayla tak menatapnya. Mengabaikan seolah tak ada.
Anggap saja Safa patung Pancoran!
Mayra tersadar. "Kamu beneran nggak pa-pa 'kan, Kayla? Nggak mau pingsan, 'kan?"
Kayla terkekeh. "Ya, nggaklah, May! Ada-ada aja kamu. Emang kalau aku pingsan bakal bikin kamu senang, nggak 'kan?"
Sebelum Mayra merespons, Safa sudah lebih dulu menyela pembicaraan dua orang yang nyatanya di sana ada tiga orang. "EHEEMM..." Safa merasa Kayla sengaja tak acuh padanya.
Kayla menatap Safa datar. Sorot matanya jelas menyorot kesal tepat di mata Safa.
"May ..." panggil Kayla namun matnya masih ke Safa. "Kayaknya ada suara tapi kok nggak ada wujud orangnya, ya?"
Dalam hati Kayla, ia tertawa puas. Membakar Safa dengan sindirannya. Kayla menatap angkuh ke Safa. Seolah menyatakan ia menjadi winner di sana.
Mayra menghela napas. Senyum yang tak pernah tenggelam kini semakin terbit. Menyenangkan siapapun yang memandangnya.
"Ikatan sahabat nggak selamanya tentram. Pasti ada masalah walaupun sekecil padi. Namun, dibalik itu membuat ikatan yang panas semakin menyatu kuat."
Begitulah kata Mayra sembari menatap Kayla dan Safa bergantian. Kini matanya memandang angin yang menggugurkan dedaunan ke paving.
Safa dan Kayla terdiam Kalimat yang Mayra utarakan ada benarnya. Masalah justru semakin mempererat ikatan persahabatan. Debatan kecil pun menjadi bumbu agar ikatan sederhana itu tak hambar. Supaya hidup dengan warna.
__ADS_1
"Jadi, kita harus baikan lagi ini, May?" Kayla menatap Safa datar. Biasa saja, tak sekesal tadi.
Mayra mengangguk lagi-lagi disertai senyum yang tak pernah tenggelam. "Aku mau kita bertiga sahabatan until jannah."
Safa dan Kayla ikutan tersenyum. Mereka mengangguk setuju. Mereka juga mau membawa ikatan persahabatan mereka hingga ke Surga suatu saat nanti. Aamiin.
"SAHABAT UNTIL JANNAH!"
*****
"Aku butuh kamu, May."
Seorang gadis dengan rambutnya tergerai berjalan gontai di lorong sekolah yang terlihat cukup ramai. Cukup ramai untuk saat ini namun tidak dengan tadi. Bel berbunyi, semua siswa berhambur keluar.
Seorang siswi berkacamata dengan rambut diikat ekor kuda menahan bahu Fara. Seketika mengurungkan langkah Fara selanjutnya.
"Whats wrong, Fara?" Tipikal gadis peka dengan lingkungannya. Bahkan, tanpa diminta mengerti siswi berkacamata minus itu menanyai Fara yang terlihat kurang semangat. "Are you okay?"
.
.
.
__ADS_1
.
🤗stay healthy