
Kabar duka menimpa Mayra beserta kakek-neneknya, membuat keluarga Candra yang masih stand by di negara tetangga, lekas mengambil penerbangan ke Indonesia.
Dan, setelah kedatangan Candra sekeluarga di Tanah air, barulah jenazah Mayra, kakek, dan nenek dimakamkan di TPU yang sama dengan orangtua Mayra.
Usai pemakaman dilaksanakan, Fara bersama orangtuanya juga para tetangga pulang ke rumah masing-masing.
Jika orangtuanya di luar, menemani para pelayat yang datang. Maka, Fara kini tengah berada di kamar Mayra. Ia menangis sendirian di sana. Menumpahkan segala tangis duka yang tidak mampu ia bendung. Air matanya mengalir deras sejadi-jadinya.
Gadis berjilbab segiempat putih itu menangis sembari memeluk dua kakinya. Perih hatinya mengingat percakapan kemarin sore yang menjadi percakapan terakhirnya bersama Mayra.
"Kamu kenapa bohongi aku, May!? Kamu bilang, kamu mau pergi ke pesantren. Tapi ... kenapa kamu malah pergi ke surga?"
Fara menangis hebat tanpa henti. Setelah tangisnya mereda, Fara menghampiri meja belajar Mayra. Di sana adalah tempat favorite Mayra selama di kamar. Fara menyentuh gelang tasbih berwarna biru muda milik Mayra.
Fara menggenggam dan mendekap tasbih biru muda itu dengan air mata yang meleleh. Fara memejamkan matanya. Dalam pejaman mata, semua memori tentang Mayra berputar bak video. Semakin mengetirkan hatinya.
Tok tok tok!!
Ketukan pintu itu hanya membuat Fara membuka matanya tanpa ingin menoleh. Pintu kembali diketuk, namun Fara tetap berada diposisi yang sama, enggan menoleh sedikit pun.
"Lho, Rey ...." Rika menggantungkan kalimatnya melihat Reynar hanya di ambang pintu. Matanya beralih ke Fara yang duduk di kursi meja belajar Mayra membelakangi pintu.
"Fara, ini ada Reynar."
Fara termenung. Ia menatap tasbih biru muda yang sering Mayra gunakan—selain tasbih digital hitamnya—dengan sorot sendu. Pelupuknya dipenuhi air mata.
__ADS_1
"Mama nggak usah bohongin aku. Rey ada di pesantren, mana mungkin ada di sini!" kata Fara masih membelakangi posisi mamanya dan Reynar.
Rika menghela napasnya ditempat. Ia mengusap bahu kanan Reynar, dan mengangguk—isyarat agar Reynar menghampiri Fara.
Perlahan remaja lelaki berkaus polos hitam dilapisi jaket denim, dengan celana jeans hitam. Menghampiri Fara yang termangu dengan tasbih biru muda di genggamannya.
"Kenapa waktu nggak ngasih gue kesempatan lebih banyak lagi?"
Fara terkejut, namun ia enggan menoleh ke belakang. Ia tengah menerka-nerka, siapa tahu ia hanya berhalusinasi karena lama tidak berjumpa dengan Reynar.
"Kenapa gue selalu ngelak sama perasaan gue?"
Detik itu juga, Far berdiri dan menoleh ke belakang. Wajahnya yang sembab dengan hidung memerah dapat Reynar lihat. Ternyata Fara tidak berhalusinasi. Reynar nyata berdiri di hadapannya saat ini.
Tanpa aba, Fara berhambur memeluk Reynar—teman kecilnya sedari sekolah dasar. Tangisnya tumpah. Tangis yang ambigu, bermakna ganda. Antara tangisan rindu juga sendu.
"Aku rindu kamu, Rey ...."
Reynar memejamkan matanya. Rindunya saat berada ditempat ini bukanlah untuk Fara, tetapi seorang gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya dan pergi begitu saja menuju Sang Ilahi.
"Kenapa lo nggak becus jadi sepupu!?!" Reynar melepas dekapan Fara. Suaranya terdengar membentak. Dan, hanya dibalas Fara dengan tatapan linglungnya.
"Kenapa lo pergi dan ninggalin sepupu lo sendirian...!!!" Reynar berteriak marah. Ia tidak peduli jika orang-orang di bawah mendengarnya. Tapi nyatanya, tidak ada seorangpun menghampirinya kemari.
"Mak—sud kamu a—apa, Rey?" Fara bertanya dengan lemah nan lirih. Suatu kejutan melihat Reynar terlihat semarah ini. Dalam hati Fara, ke mana Reynar yang tengil dan absurd yang kukenal?
__ADS_1
Reynar meju dua langkah, membuat Fara kini berada di belakangnya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping saat ini. Marah, kecewa, menyesal, dan sedih bercampur menjadi satu.
Tanpa ia sadari, sebulir air mata menetes dari salah satu pelupuk matanya. Air mata yang sama kala wanita yang melahirkannya pergi untuk selamanya, meninggalkan ia dengan seorang ayah yang tidak peduli. Sakitnya terasa sama.
Reynar memandang kosong ke arah jendela di depannya, ia masih membelakangi Fara yang bertahan dengan linglungnya.
Setetes air mata kembali menetes di pipi Reynar. Dua tangannya terkepal kuat menahan sakit di hatinya yang remuk.
"Bak mutiara bersama bebatuan, dialah yang tampak bersinar dari yang lainnya."
"Perpisahan adalah hal yang paling gue benci. Dan, penyesalan adalah hal yang paling enggan gue rasain."
Reynar memejamkan matanya bersama bekas dua tetes air matanya. Ia mengepal kuat-kuat tangannya. Menahan hancurnya hati yang begitu menyayatnya.
"Gengsi lo gedein! Sekarang dia pergi lo baru sadar, kalau lo sebenarnya punya rasa sama dia!!"
.
.
.
Lolos revisi 4 Juli 2021
Sedih + remuknya minus🤧😪
__ADS_1
NOT LAST CHAPTER🙈