
Tante Rika melepas pelukan, kemudian menatap Mayra dengan mata sendu. Terakhir, ia memberikan usapan lembut dikepala Mayra.
"Mey, jaga Tante dan Om ya. Kakak harus pergi lagi hari ini, maafkan Kakak tidak bisa selalu ada disisi mu ya, Mey." ucap Mayra lembut nan sendu.
Meyna mengangguk dengan air matanya yang berlinang, kemudian berhambur ke pelukan Mayra.
"Semoga Kakak lulus dengan hasil yang memuaskan ya Kak. Maafkan Meyna juga ya, mungkin selama ini Meyna merepotkan Kakak."
Mayra tersenyum sendu, "Aamiin makasih ya, Mey."
Kemudian ia berpelukan kembali dengan Meyna, lalu berpindah berpamitan dengan Fara. Walau berat, keluarga tetap harus melepas Mayra kembali saat ini. Karena, akan ada waktu yang indah agar mereka bisa berkumpul bersama lagi.
Indah pada waktunya nanti, saat Mayra dan Fara bisa kembali ke rumah mereka. Akan terasa lengkap saat mereka berdua bisa kembali hidup di rumah sendiri, di negara sendiri.
Setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, Mayra pergi ke bandara dengan taxi. Ia menolak untuk diantar oleh Om dan Tantenya, karena sedang ada tamu dirumah. Masih ada beberapa pelayat yang takziah saat ini, kebanyakan mereka adalah rekan bisnis dan sahabat Kakek dari luar kota.
* * * *
Hari berikutnya Fara dan Arnoz berpamitan untuk kembali ke Singapura. Dalam hati Fara, ia sangat berharap Papanya akan memberikan jawaban atas niat Arnoz yang ingin mengajaknya ke jenjang yang lebih serius hari ini juga.
"Pa, Ma, Fara pamit ya. Jaga kesehatan kalian! Maafkan Fara tidak bisa bersama kalian lebih lama lagi. Tapi, nanti ada saatnya kita berkumpul bersama seperti dulu lagi." ucap Fara sendu.
"Iya, Fara."
Tante Rika memeluk putri semata wayangnya dengan penuh kehangatan. Ia masih begitu rindu dengan anaknya, namun waktu belum bisa memenuhi keinginannya untuk berlama - lama bersama putrinya.
"Do'a Mama selalu bersamamu, Fara." ucap Tante Rika.
"Makasih ya, Ma." balas Fara tersenyum.
Tante Rika mengangguk.
"Pa, sebelum Fara pergi Fara ingin- - -"
"Jawaban Papa tidak setuju." potong Om Candra.
Fara terkejut, belum ia menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong oleh Papanya. Apalagi Papanya tidak memberikan restu padanya dan Arnoz. Kecewa, Fara merasa sedikit kecewa pada Papanya.
"Om, Tante, kami berangkat dulu ya ke bandara, takut tertinggal pesawatnya." Arnoz menyela.
Om Candra dan Tante Rika mengangguk.
Dengan pasrah Fara mengangkat kakinya pergi dari rumah untuk ke bandara. Tidak lupa Fara dan Arnoz mencium tangan Om Candra dan Tante Rika.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Arnoz menarik lembut tangan Fara, namun baru beberapa langkah suara deheman Om Candra menghentikan langkah mereka.
"Ehem!" Om Candra berdehem.
Fara dan Arnoz menoleh, mereka mengikuti tatapan Om Candra yang menatap gandengan tangan mereka berdua. Mengerti maksud deheman tersebut, mereka langsung melepas paksa gandengan tangan yang saling bertautan itu.
Tante Rika tersenyum melihat itu, sementara Fara dan Arnoz merasa sedikit malu dan canggung pada Om Candra dan Tante Rika. Om Candra menggeleng - geleng kepala melihat tingkah muda - mudi yang sedang kasmaran itu.
"Pa, Ma, kita pamit ya. Assalamualaikum." Fara memecah kecanggungan nya.
"Waalaikumsalam"
Fara dan Arnoz kembali melangkah tanpa tautan tangan, mereka takut dan malu diberi deheman oleh Om Candra. Tante Rika sudah senyum - senyum melihat tingkah anaknya dan calon mantunya (mungkin).
Didalam taxi...
Fara memperlihatkan raut kecewanya, ekspetasinya dari kemarin tidak sesuai dengan realitanya. Ia bertanya - tanya mengapa Papanya tidak merestui hubungannya dengan Arnoz. Padahal bagi dirinya Arnoz adalah lelaki yang baik dan perhatian.
Menyadari raut kecewanya Fara, Arnoz membawa kepala Fara ke bahunya. Ia memberikan usapan lembut di kepala Fara, gadis pengisi hatinya. Fara mendongak sambil tersenyum mendapat perlakuan yang cukup manis dari Arnoz.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi! Mungkin Papamu tidak ingin kamu jatuh ke lelaki yang salah, Fara." timpal Arnoz lembut.
Fara menghembuskan nafasnya pelan.
"Semoga kelak kita bisa dipersatukan ya." ucap Fara begitu berharap.
Arnoz mengangguk. "Semoga saja."
Lelaki bertubuh tinggi dan atletis masih merangkul manis gadis pengisi hatinya. Mungkin kah dirinya dan Fara akan bersatu hingga maut memisahkan, atau hubungan mereka akan kandas seperti gosip selebriti di televisi - televisi.
Pikiran Arnoz berkecamuk memikirkan hubungan yang belum direstui, namun mereka sudah sama - sama nyaman antara satu sama lain.
Tidak terasa mereka telah tiba di bandara. Menjadi awal mereka untuk kembali ke Singapura, dimana tempat itu negara itu yang menjadi awal hubungan mereka terjalin, dan menjadi tempat mereka menimba ilmu.
Pesawat Indonesia ke Singapura pun lepas landas, pesawat tersebut terbang dilangit biru mengantar para penumpangnya menuju tempat tujuan mereka yakni Singapura, negara yang identik dengan patung singa atau patung merlion.
* * * *
Satu minggu telah dilalui, kini tiba saatnya hari dimana Furqon dan teman seangkatan nya lulus. Raut kebahagiaan jelas mewarnai wajah rupawan Furqon. Kedua orang tuanya juga turut hadir dihari kelulusan nya.
__ADS_1
Abah dan Umi Furqon merasa bangga, akhirnya putra bungsu mereka lulus juga. Selain itu, kebahagiaan yang begitu mendera adalah mereka akan kembali berkumpul dengan putra - putranya ditanah air. Kehadiran Ustadz Hakam dan Furqon akan melengkapi keluarga mereka.
Dilain orang, Mayra tampak gelisah dan pikirannya berkecamuk. Surat dari Kayla masih di genggamannya, sudah dua hari ini Mayra memegang surat Kayla untuk Furqon. Ia tidak berani untuk menyampaikan surat itu, namun tetap saja itu amanah yang harus Mayra sampaikan.
Maafkan aku Kayla! Aku belum menyampaikan surat darimu untuk Akhi Furqon, aku ragu dan takut untuk menemuinya.
batin Mayra.
Mayra tampak cemas, apalagi ia akan berhadapan langsung dengan lelaki yang ia kagumi selama ini. Pernah sekali ia melihat Furqon sedang mempresentasikan tugas didepan kelas, Mayra yang melihat dari luar tanpa sengaja hatinya langsung terkesima.
Sebab, Furqon begitu cermat dan lugas dalam mempresentasikan tugasnya bak seorang dosen profesonal. Bukan hanya itu, Mayra begitu tersentuh saat melihat kemurahan hati Furqon pada orang yang ia tak kenal.
Tanpa disadari Mayra, Ana temannya masuk ke kamar dan heran melihat Mayra yang cemas. Dengan halus Ana bertanya pada Mayra.
"Assalamualaikum, May." salamnya.
"Waalaikumsalam, An. Maaf Aku ndak sadar kalau ada kamu." ucap Mayra duduk disamping Ana.
Ana tersenyum, "Kamu ada masalah apa, May? Kok sampai cemas gitu."
"A-aku ndak ada masalah apa - apa, An. Hanya saja aku khawatir sama amanah yang belum aku sampaikan." balas Mayra lembut.
"Amanah apa?" Ana mengernyit.
Mayra menghela nafasnya pelan, kemudian ia menceritakan amanah Kayla yang belum ia sampaikan pada Furqon. Beban Mayta sedikit berkurang setelah menceritakannya pada Ana.
"Ooh, jadi itu. Ya sudah kamu sampaikan saja pada Akhi Furqon, May. Yang membuatki heran, mengapa kamu takut dan ragu untuk memberikan surat itu untuk Akhi Furqon?" Ana terlihat seperti mengintrogasi.
Mayra terdiam tidak bergeming.
Ia sendiri juga bingung kenapa dirinya seakan berat untuk menyampaikan surat Kayla pada Furqon.
"Aku- - -"
.
.
.
Maafkan author ya Kakak readers, kalau ceritanya bertele - tele🙏🙏
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!!!
__ADS_1