
Seiring bergulirnya waktu. Jarum jam pun yang terus bergerak satu lingkaran penuh. Dan, hari demi hari yang terasa cepat dan berlalu begitu saja dilewati. Kabar tentang ujian pun mulai dibicarakan oleh para santri-santriwati.
Dua minggu lagi akan dilaksanakan. Bagi para santri-santriwati dua minggu terlalu pendek. Empat belas hari sangat singkat dilalui.
Apa nanti mereka akan siap?
Siap atau tidaknya, yang pasti ujian tetap dilangsungkan. Mulai dari ujian kenaikan kelas hingga ujian kelulusan bagi santri-santriwati madrasah tsanawiyah kelas 3 (kelas 9).
Perbincangan tentang ujian tak luput dari telinga Mayra, Kayla bahkan Safa. Mereka juga tak luput dari yang lain, yang juga membicarakan ujian yang segera tiba.
"Ya Allah ... hentiin waktunya di sini aja bisa nggak, ya?"
Itu gumaman Kayla yang nyelenah. Gadis berjilbab segiempat cokelat susu itu terlihat tak siap menghadapi ujian kelulusannya. Di antara Mayra, Kayla, dan Safa. Kayla-lah yang sedikit bobrok.
Safa, gadis berjilbab segiempat hitam sama seperti Mayra, kini menghela napas. Ia harus bersabar berkali lipat dengan tingkah Kayla yang kadang tak masuk akal. Bicaranya pun kadang begitu.
Bikin khilaf.
__ADS_1
"Kamu jangan ngada-ngada deh, Kay!" timpal Safa yang asik dengan buku di pangkuannya. Pandangannya tertunduk. Tangannya tak berhenti membolak-balik tiap lembar buku. "Hidup itu maju bukan mundur! Waktu itu terus jalan nggak berhenti, terus jalan lagi. Berhenti jalan lagi. Emang lalu lintas apa!?"
Kayla yang terlihat santai di antara ketiganya pun menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya.
Kayla benar-benar takut.
Kayla tidak siap.
Kayla gemetar dan banyak rasa lain yang dirasakannya.
Mayra yang tadinya menulis sesuatu di atas lembar kertas, kini memandang Kayla yang menutupi wajah dengan dua telapak tangannya. Mayra tersenyum simpul.
Sedikit demi sedikit Kayla menatap Mayra yang tengah menatapnya teduh. Ditambah senyumnya, semakin teduh dan hangat. Ah ya, Mayra adalah temannya yang paling murah senyum. Menurutnya, sih.
"Aku percaya itu, May." Kayla tersenyum tipis. "Kalau aku nggak percaya kalau Allah akan selalu membantu hamba-Nya, artinya aku bukan orang beriman dong."
Safa berkata, "Kamu ngaku iman sama Allah. Tapi, kamu nggak percaya sama keberadaan-Nya dan kuasa-Nya. Berarti itu belum pantas disebut beriman sama Allah."
__ADS_1
Mayra dan Kayla mengangguk bersamaan.
"Allah itu Maha Kuasa. Tiada Tuhan selain Dia." Mayra tersenyum lagi. Benarkan kalau Mayra murah senyum? "Apapun masalah yang menerpa, jangan mudah mengeluh. Bersabarlah. Allah pasti akan memberi jalan keluarnya. Dibalik ujiannya pun akan selalu ada hikamah yang dapat dipetik."
Kayla dan Safa mengangguk bersamaan saat ini. Mereka tersenyum saling memandang.
"Saf, sahabat kita satu ini udah mirip sama ustadzah, ya?" Kayla tersenyum jahil.
Safa kini sepihak dengan Kayla. Ia mengangguk. "Iya ya, Kay. Aduh, adem deh dengar nasihatnya calon ustadzah."
Mayra menggelengkan kepalanya. Ada saja tingkah dua sahabatnya yang terkadang menjelma menjadi tom and jerry. Sedangkan, Safa dan Kayla terkekeh kecil. Jangan sampai ganggu santriwati lain yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Satu kamar asrama diisi oleh sepuluh orang. Jadi, wajar kalau kadang ramainya kayak pasar. Tapi seru juga. Sebab, waktu yang dijalani menjadi berwarna dan tak hampa. Banyak cerita yang dibagi. Banyak kenangan pula yang diukir.
.
.
__ADS_1
.
Selesai revisi🤩