KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Letih yang sekarang di rasakan setelah mengikuti kelas di kampus, sore ini gadis berhijab yang membawa buku di salah satu tangannya hendak kembali pulang ke rumah. Matanya menyapu sekitarnya, ia sedang menunggu taxi untuk mengantarkan ia pulang.


Akhirnya sebuah taxi lewat di depannya, dengan segera ia menghentikan laju taxi tersebut tepat di hadapannya. Gadis yang tidak lain adalah Meyna itu langsung memasuki taxi tersebut. Di hempaskannya tubuh Meyna ke kursi sambil menghela nafasnya, untuk meringankan letih tubuhnya.


Sang supir taxi lantas bertanya pada penumpangnya dengan sedikit mengubah posisi kepalanya condong ke belakang, tepat ke Meyna. Meyna yang melihat wajah supir taxi tersebut membelalakan matanya tidak percaya dan sedikit merasa takut.


Meyna mematung di posisinya, perlahan ia menggapai handle pintu disamping kirinya. Namun, supir taxi tersebut langsung menghentikan Meyna. Ia mencoba menenangkan Meyna agar tidak takut padanya.


Namun, Meyna tidak berani bertanya - tanya. Jujur ia belum bisa percaya sepenuhnya dan menghapus rasa takutnya begitu saja. Mulut Meyna terkunci rapat, tapi hatinya tidak berhenti untuk mengoceh.


Hingga akhirnya Meyna tiba di rumah dengan aman dan selamat.


Tanpa disadari Meyna menyunggingkan senyuman nya, entah apa arti senyuman itu.


"Terima kasih, Bang. Maaf ini uangnya ya, permisi." Meyna langsung turun.


Supir taxi tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala pada Meyna. Ia kembali melajukan laju taxi nya tanpa berbicara sepatah kata apapun pada Meyna.

__ADS_1


Alhamdulillah jika Abang sudah taubat, ini benar - benar kejutan. Aku sangat percaya jika Allah Maha Membolak - balikkan Hati Manusia. Dulu Abang begitu tega membuat anak - anak mengais uang di jalanan dan mengambil haknya, tapi sekarang Abang mengais uang dengan cara sebagai supir taxi. Semoga Abang istiqomah.


* * * *


Beberapa bulan kemudian…


Malam yang begitu indah di langit negara Singapura, saat ini Fara sedang makan malam bersama keluarga Arnoz. Hati Fara Begitu bahagia saat dirinya diundang oleh keluarga Arnoz untuk makan malam bersama, bagaikan kejutan yang special.


Senyuman Fara tidak henti - hentinya memudar, ia sesekali melirik ke arah Arnoz di sampingnya. Raut anggota keluarga Arnoz juga tampak bahagia dan tidak ada raut tidak suka disana.


Tidak terasa makan malam mereka telah usai, selanjutnya mereka berbincang - bincang santai sekaligus serius. Fara tampak mengernyit saat orang tua Arnoz membicarakan design dekorasi semacam dekorasi acara pertunangan.


Sesekali Fara melirik Arnoz, hanya saja Arnoz selalu menyunggingkan senyuman nya pada Fara. Fara juga sempat berpikir kalau mereka berbicara tentang pertunangan nya dengan Arnoz. Tidak perlu ragu lagi, sebab dalam waktu beberapa bulan ini Fara juga telah mendapat restu dari orang tuanya.


Namun, kemantapan itu masih di dominasi oleh keraguan Fara. Fara tidak yakin sepenuhnya begitu saja tentang dekorasi pertunangan itu adalah pertunangan nya. Apalagi mengingat Kakak Arnoz juga belum menikah hingga saat ini.


Setelah cukup lama berbincang - bincang orang tua Arnoz pun pamit, begitu pun sang kakak. Ibunda Arnoz tidak lupa memberi kecupan cepika - cepiki pada Fara.

__ADS_1


"Gue balik duluan yaa. Have fun with your girl tonight, see you." ucap sang Kakak.


"Ati - ati lo! See you too." balas Arnoz.


Pamitan mereka diakhiri dengan pelukan khas anak millenial. Fara hanya tersenyum pada calon iparnya, begitupun sang calon Kakak ipar.


"Aku heran, kenapa tadi orang tua mu membicarakan prihal design dekorasi pertunangan? Apakah Kakak mu akan bertunangan?" ucap Fara setelah kepergian keluarga Arnoz.


Arnoz menatap Fara dengan tatapan terkejut, "Sepertinya begitu, aku juga tidak tahu."


Fara menyipitkan matanya dan memberikan tatapan menyelidik, "Masak kamu tidak tahu, Arn? Ha ha yang benar saja, kalian itu kakak beradik loh." Fara menggelengkan kepalanya.


"Serius, aku tidak tahu. Memang kalau iya, kenapa?"


Fara menghentikan tawanya, "Mmmm... tidak apa, tapi kamu tidak bohongkan? jangan - jangan kamu tidak mau jika aku hadir diacara Kakak mu itu."


Arnoz tertawa geli, "Mana mungkin aku tidak ingin kamu hadir diacara Kakak ku, justru aku sangat ingin. Ada - ada

__ADS_1


__ADS_2