
Tok tok tokk!!
Seketika Mayra menghentikan aktivitas mengajinya. Ia melipat kecil sudut atas lembar Alqur'an yang ia baca sebagai tanda. Setelahnya, Mayra bangkit, menaruh Alqur'annya di atas nakas dan membuka pintu.
Mayra memasang senyumnya. Meski ia tidak tersenyum sedikit pun, wajahnya tetap terlihat ramah.
"May ...." Fara memandang ke dalam kamar Mayra. Ntah apa maksudnya. ".... boleh masuk nggak?" lanjutnya, menatap Mayra.
Mayra mengangguk. Ia masuk lebih dulu dan diekori Fara di belakangnya.
Fara langsung duduk di bibir kasur, sedangkan Mayra melipat mukena dan sajadahnya tidak jauh dari posisi Fara. Hening saat itu, dan Fara mengisinya dengan tatapan-tatapannya yang tak bermakna.
Selesai melipat mukena dan sajadaj, Mayra kembali mengenakan jilbab segiempatnya yang dikunci dengan jarum pentul. Mayra duduk di bibir kasur, tepat di samping Fara.
Kehadiran Mayra tepat di sampingnya tiba-tiba membuat Fara risih. Kenapa? Ntahlah, Fara pun tidak tahu mengapa begitu.
"May ...." Fara canggung.
"Iya?" Mayra menatapnya dengan sorot bertanya. Fara yang ditatap justru salah tingkah dan canggung. Apalagi sekian lama tidak bertemu, sekarang bertemu menjadi canggung dan bingung untuk memulai percakapan.
"May ... ka-kamu beneran keluar dai pesantren dan milih sekolah umum?" Untung tadi kakek dan nenek sempat membahasnya. Fara menjadi ada bahan percakapan meskipun tidak terlalu penting. "Eng-nggak salah?"
Canggung masih berada di antara keduanya. Namun, semuanya seakan sirna begitu saja dengan senyuman Mayra. Kali ini Mayra benar-benar Mayra yang dulu Fara kenal.
"Nggak kok. Memang kenapa, ada yang salah, ya, sama kepergianku dari pesantren?" Mayra menatap hangat Fara. Membuat Fara lebih nyaman dari yang tadi.
Fara menggeleng dengan senyum tipis. Jujur, ia masih canggung tapi berusaha abai.
__ADS_1
"Alasannya kenapa? Ya ... nggak mungkin 'kan kamu tiba-tiba mutusin keluar dari pesantren, terus milih sekolah umum," ujar Fara mulai penasaran. "Aku tau betul kalau kamu udah nyaman di sana, dan nggak nyangka bakal keluar gitu aja."
Mayra menunduk, ia tersenyum sembari menatap lantai. "Nggak apa-apa. Nggak ada alasan penting kok dibalik semuanya," ujar Mayra.
"MAY!!" Fara tidak puas akan jawaban Mayra. Geraman Fara membuat Mayra tersenyum semakin lebar. "Yang bener dong jawabnya...!!" rengek Fara.
Lagi-lagi Mayra tersenyum lebar membuat Fara mengerucutkan bibirnya.
"Aku sadar Ra kalau waktu itu nggak bisa diulang lagi," kata Mayra yang memulai curhatannya. Fara menyimak sangat baik. "Sebenarnya semua tempat itu sama aja, Ra. Akan nyaman kalau terbiasa."
"Terus, May?"
"Kayak yang aku bilang tadi, nggak ada alasan penting dari semuanya!" kata Mayra, ia menatap Fara. "Sekarang aku mau tanya sama kamu, Ra."
Fara menaikkan satu alisnya. "Apa, May?"
"Setelah ini kamu bakal pulang lagi ke Singapura?" tanya Mayra hati-hati. Ia tidak mau menyinggung meski itu pertanyaan biasa.
Fara terdiam, ia menghindari tatapan Mayra. Ia sendiri tidak tahu akan melanjutkan pendidikannya di Singaoura atau negara kelahirannya sendiri. Fara sadar, ia sudah memasuki bangku sekolah menengah atas. Tidak lagi bangku SMP.
Karena tidak tahu harus menjawab apa, Fara hanya bisa menghembuskan napas yang seakan menyumbat ditambah gelengan.
Meski begitu Mayra mengerti. Namun, dalam hati kecilnya ia berharap Fara dan orangtuanya di Tanah Air.
"Jujur Ra, aku pengin kamu tetap di sini, di samping kakek dan nenek..."
******
__ADS_1
Lihat deh dia! Sok banget nggak mau dekat-dekat siswa cowok.
Ngapain juga masih pakai kerudung, padahal 'kan nggak hujan.
Ya ampun, trepes banget tuh body! Emang kolot ya!!
Penampilannya emang beda dari yang lain, tapi dalamnya ... ah, paling sama aja!!
Suara-suara para siswi yang Mayra lewati hanya Mayra anggap angin lalu. Ia tidak masukan dalam hati. Toh, setiap orang punya sudut pandang dan opini masing-masing. Dan atas alasan tersebut, Mayra diam tanda menghormati.
Kalau dikata 'Mayra sok nggak mau deketan siswa laki-laki' itu memang benar. Alasan mengapa Mayra berdiri cukup lama diujung koridor kelas sepuluh, karena ia tidak mau melewati gerombolan siswa laki-laki yang kini telah pergi.
Mayra melakukannya pun demi kebaikannya, bukan sok!
Egois, ya?
Oh, tentu tidak. Mencegah tentu lebih baik daripada nanti ia harus menerima konsekuensi buruk. Dan, lagi-lagi Mayra tidak menganggap suara bak cibiran yang mengiringi langkah kakinya menuju kelas.
Mayra tidak ingin merusak suasana hatinya yang siap belajar menjadi buruk, hanya karena siswi yang menbicarakan tentang dirinya.
Mayra sadar dan tahu, kalau namanya dalam setiap cerita orang itu tidak selalu sama. Sebab, ya tadi ... karena setiap orang memiliki opini masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Lolos Revisi 15 Juni 2021