
Satu minggu setelah hari pemakaman Mayra, kakek dan nenek. Suasana duk masih menyelimuti rumah almarhum kakek. Rasa kehilangan pun kentara di sisa anggota keluarga.
Namun, kehilangan itu tidak hanya dirasakan oleh anggota keluarga saja. Melainkan ada seorang remaja lelaki—Reynar—yang juga merasakan kehilangan itu, bahkan untuk kedua kalinya.
Rasa kehilangan akan sosok ibu masih membekas, dan kini rasa kehilangan kian membekas karena kepergian abadi seorang gadis berjilbab yatim piatu, yang kadanh dipandang sebelah mata karena penampilannya, bernama Mayra Athifa.
Jika ingin mengingat kisah Rasulullah, maka rasa kehilangan Reynar saat ini tidak sebanding dengan rasa kehilangan yang Rasulullah rasakan. Rasullah adalah orang yang benar-benar mengerti tentang kehilangan.
Sejak beliau—Rasulullah—masih dalam kandungan sang ibu, ia sudah kehilangan ayahnya. Setelah beliau lahir, beliau harus kehilangan ibundanya. Hingga beliau berada diasuhan sang kakek, dan kakeknya pun meninggal, beliau diasuh oleh pamannya—Abu Thalib.
Kehilangan yang Rasulullah alami bukan hanya itu. Beliau juga merasa kehilangan hingga sedih, karena Malaikat Jibril yang biasanya datang menemui sembari membawa wahyu Allah, untuk beberapa hari tidak mendatangi beliau.
Jadi, benar bukan kalau Rasulullah-lah yang begitu mengerti arti kehilangan?
Reynar duduk di pembatas balkon dengan kaki ditekuk setinggi dada. Ia memandang birunya langit hari ini. Hatinya tidak dapat didefiniskan sedang condong ke mana. Sebab sedih, duka, kecewa, menyesal, dan kehilangan bercampur membentuk luka di hatinya.
Tanpa almarhumah Mayra sadari, jika kehadiran dan kalimat singkatnya begitu berarti bagi Reynar Adhiswara—remaja yang sempat menolongnya, meminta bantuannya bahkan berpamitan padanya akan pergi mondok.
Almarhumah Mayra benar-benar tidak tahu jika ia mampu menempati sebagian celah kosong pada hati remaja lelaki itu.
Sekali lagi, Reynar bergumam dalam hati, "Bak mutiara bersama bebatuan, dialah yang tampak bersinar dari yang lainnya."
******
Disisi lain, masih di hari yang sama. Fara tertunduk dengan gelisah melanda. Ia pun sedang menata hati agar tidak kacau seperti sebelumnya. Fara ingin tegar meski duka melanda.
__ADS_1
"Kenapa diam? Mayra ada atau nggak sebenarnya?"
Itu Zikra. Iya, Zikra Hadid. Kakak kelas populernya semasa SMA yang kini telah lulus, dan segera menepuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini.
Zikra merasa ada sesuatu terjadi pada Fara—sepupu dari pemilik hatinya. Namun, Zikra tidak mampu menerka sesuatu itu. Daripada menerka, lebih baik ia bertanya langsung.
"Kok tegang gitu, Ra? Ada sesuatu terjadi padamu, ya?"
Fara masih bungkam. Ia mencoba bisa untuk mengatakan kenyataan pilu yang akan segera menghancurkan hati kakak kelasnya.
"Ada, Kak." Fara menatap Zikra kikuk. "Bukan aku tapi Mayra."
"Mayra kenapa?"
Sejak semalam, Zikra baru kali itu menginginkan pagi cepat menyapanya. Padahal, saat itu ia sangat lelah dari biasanya. Namun, demi cepat berjumpa si pemilik hatinya, Zikra berharap keinginan pagi cepat menyapanya lekas terwujud.
Zikra menghubungi Mayra satu minggu yang lalu, tepatnya di hari Mayra kecelakaan. Nomornya tidak aktif. Zikra bertekad akan menemui keesokannya, tapi banyak urusan—sebagai maba—yang membuatnya sibuk hingga tidak terasa telah seminggu ia mengulur waktu bertandang kemari, ke rumah pemilik hati.
"Kak Zikra lupain Mayra kalau nggak mau luka di hati Kakak."
Kalimat yang cukup mencengangkan Zikra.
"Kenapa harus lupain Mayra, kalau sebelumnya aku pernah bilang ke dia, aku akan menghalalkannya setelah lulus S1?"
Kali ini Fara yang tercengang. Di luar dugaannya, Zikra telah melontarkan niat seriusnya pada Mayra yang kini telah terpisah alam dengan mereka. Mayra telah pergi ke tempat dan menjalani kehidupan abadinya disisi Ilahi.
__ADS_1
"Kak Zikra lupain juga niat itu."
"Kenapa? Bukannya kamu sebelumnya nggak pernah nentang aku dekat dengan Mayra, 'kan?"
Fara mengangguk. Ia membenarkan Zikra. Ia senang jika suatu hari nanti Zikra bisa bersama Mayra, karena Fara melihat Zikra adalah sosok yang baik yang pasti mampu melindungi Mayra. Namun, itu semua runtuh saat maut menjemput Mayra lebih dulu.
"Karena Mayra udah pergi, Kak ...." kata Fara lirih dengan setetes air mata.
"Maksudnya?" Zikra mengerutkan dahi.
"Mayra udah nggak ada karena kecelakaan beberapa waktu lalu."
Deg!!
Detik itu, daksa Zikra lemas dan pandangannya melayu sayu. Kepalanya tertunduk, mencoba menyembunyikan patah dan hancur di hatinya. Mata Zikra memanas, air mata siap meluncur dari pelupuknya. Namun, ia masih bisa menahannya.
"Kenapa dia pergi secepat ini? Apa kalimatnya tempo hari lalu adalah tanda kepergiannya?" senandika Zikra dalam hati.
.
.
.
Lolos Revisi 5 Juli 2021
__ADS_1