KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
22• (Senja usia)


__ADS_3

Tuk!!


Gelas kaca membentur meja kaca, berhasil mengisi keheningan walau sesaat. Mata yang mulai kurang jelas, alhasil harus memakai kacamata. Terfokus pada map di tangannya.


Rambut yang sudah mulai beruban menambah kesan kematangan usia di masa senja.


Kakek, diusianya yang tak lagi muda. Ia masih kuat mengemban tugasnya. Mengurus toko furniture yang sudah memiliki beberapa cabang di kota tinggalnya ini. Meski tak banyak, sepuluh pun tak ada. Boro-boro sepuluh, lima saja tak ada juga.


Meski tak sesukses orang lain, Kakek tetap bersyukur. Setidaknya ia dan keluarganya mampu bertahan hidup tanpa hasil menadahkan tangan pada manusia. Pura-pura melas bahkan penampilan compang-camping.


Naudzubillah!


Jangan sampai seperti itu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang meminta-minta. Allah lebih menyukai hasil sedikit namun dengan usaha sendiri. Sekalipun sedang tak punya, Allah menyuruh agar hamba-Nya menutupinya.


"Pa, masih lama?"


Tiba-tiba Nenek muncul. Membuat kulit yang telah mengkerut ditambah mengkerut. Kakek menatap arloji di tangan kirinya. Baru pukul sebelas. Biasanya Nenek akan menelpon jika mengajak makan siang bersama.


Tapi ini?

__ADS_1


"Masih lama banget apa dikit, Pa?" Nenek kembali bertanya. Wanita paruh baya itu terlihat sehat nan bugar meski usianya telah senja. Sama seperti Kakek.


Kondisi kakek dan nenek yang seperti ini membuat Candra, Rika dan dua cucunya lega meski jarang bertemu dan berkumpul. Walau begitu, masih ada ponsel untuk menghubungi. Jaman sekarang sudah canggih. Menuntut manusia juga agar turut mengimbanginya.


"Kenapa tiba-tiba kemari, Ma?" Kakek bertanya. "Biasanya—"


"Mau ngajak ke panti asuhan, Pa. Bisa, 'kan?" pangkas Nenek. Membuat kakek mengangguk paham.


"Ayo, kita berangkat sekarang." Nenek melambaikan tangannya pada kakek, memintanya agar segera bangkit.


******


Di dalam mobil xenia itu hanya diisi pembahasan ajal oleh nenek. Sesekali kakek mengangguk jika ia setuju dengan ungakapan istrinya. Yang ternyata mampu memerindingkan tubuhnya.


"Mama sadar, Pa. Kalau ternyata Allah lebih sayang pada putra sulung kita dan istrinya." Tiba-tiba percakapan yang membuat kakek resah beralih membuat kakek mengenang melankolis memori.


"Pa ... andai waktu dapat diputar kembali. Mama mau semuanya seperti dulu. Lengkap dan penuh kebahagiaan. Apa ada gunanya mama bicara ini, Pa?"


Kakek merasakan perbedaan suara istrinya. Ada sendu yang membalut membuat pikirannya kalut ke melankolis memori beberapa tahun lalu. Meski telah berlalu, tapi tak tenggelam begitu saja di ribuan memori baru.

__ADS_1


"Takdir itu rahasia Allah. Sebagai makhluk biasa, makhluk tak berdaya, kita hanya bisa menerima dan sadrah pada Kuasa," ujar kakek.


Mengatakannya memang mulus tapi merasakannya sangat memilukan. Duka lalu kini terkenang lagi. Menggetirkan dua hati pasangan senja itu. Sopir mereka pun juga bisa merasakan betapa pilunya sang majikan saat ini.


"Berhenti berandai-andai, karena sesungguhnya kata itu membuka tipu daya setan."


Kakek rasa cukup kalimat itu sebagai pamungkas. Kakek rasa sudah cukup kalimat itu sebagai pengunci memori lama yang terbuka. Kakek rasa ini bukan waktu yang pas untuk berlayar ke samudera kepiluan.


"Bila nanti salah satu dari kita tiada, jangan tangisi kepergian itu. Jangan ratapi sebagaimana kita meratapi kepergian putra sulung kita, Pa," ujar Nenek. Jelas suaranya menahan tangis.


"InsyaAllah..."


.


.


.


🤧😪

__ADS_1


__ADS_2