KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Siang berganti sore, Mayra dan Ana kini baru saja selesai mengerjakan sholat ashar di masjid. Sekalian mereka juga ingin mencari makanan untuk berbuka puasa, juga siapa tahu dapat bertemu dengan Furqon.


Mayra kini sedang menunggu Ana yang sedang ke toilet masjid, ia memilih menunggu dipelataran teras masjid. Saat sedang menunggu, Mayra seperti kenal seseorang. Ia pun berpikir jika orang tersebut adalah orang yang ia tabrak tadi pagi. Ragu - ragu Mayra ingin menghampirinya, sekalian mengembalikan buku yang tertukar.


Mayra akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri seorang pemuda yang sedang duduk dipelataran masjid juga. Ia harap dugaannya benar kali ini, tidak salah orang.


"As-assalamu'alaikum" salam Mayra lirih.


Furqon yang mendengar salam langsung menoleh, melihat Furqon menoleh Mayra langsung menundukkan pandangannya. Furqon mengernyit, ia heran akan kedatangan Mayra.


"Waalaikumsalam. Ukhti siapa?" jawabnya.


"Maaf akhi, apakah akhi tadi pagi tanpa sengaja bersenggolan dengan seorang perempuan?" ucap Mayra ingin memastikan, apakah pemuda di depannya itu orang yang benar atau tidak.


"Benar, ada apa Ukhti?" balas Furqon.


"Saya perempuan tersebut Akhi. Saya menghampiri akhi karena, ingin menukar buku yang tertukar. Saya sudah bawa buku akhi." ucap Mayra kembali.


"Ooh iya, buku Ukhti ada sama saya. Tapi, maaf Ukhti bukunya ada dirumah saya. Mungkin esok saya kembalikan bagaimana?" balas Furqon.


"Tidak apa, Akhi. Ini buku milik Akhi, kalau begitu saya permisi." ucap Mayra menyodorkan buku tafsir milik Furqon.


Furqon menerima bukunya, "Syukron ya Ukhti."


"Afwan. Akhi kembalikan buku saya besok disini saja, ba'da dhuhur saya kemari." ucap Mayra sebelum pergi.


Furqon mengangguk, "Baik Ukhti.""


"Assalamualaikum" salam Mayra.


"Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabbarakatuh" jawab Furqon.


Mayra pun meninggalkan Furqon, ia menghampiri Ana yang sedang menatapnya dari kejauhan. Sorot mata Ana dapat diartikan jika ia sedang bertanya - tanya pada Mayra.


"Assalamualaikum, An."


"Waalaikumsalam ,May. Kenapa kamu sama pemuda itu?"


"Aku hanya mengembalikan bukunya. Dia akan mengembalikan bukuku besok disini, aku ingin minta tolong temani aku besok ya An?" ucap Mayra.


"Iya, May. Kita cari makanan buat buka yuk!" balas Ana.


Mayra mengangguk.


Mereka pun pergi mencari makanan untuk berbuka puasa. Dilain orang, entah kenapa Furqon seakan merasa damai mendengar suara Mayra. Suara yang begitu lembut yang mampu membuat hatinya berdebar tanpa alasan jelas. Furqon yang tersadar langsung istigfar.


"Astagfiirullah, ampuni hamba-Mu Ya Rabb. Maafkan hamba atas kekhilafan hamba ini." gumam Furqon.


Ia membuang jauh - jauh pikirannya tentang Mayra, gadis yang baru ia kenal walau hanya sebatas nama.


"Fur, ngapain bengong?" tiba - tiba temannya datang menghampiri.


"Eeh kamu sudah datang, Lif. Buat kaget aja." balas Furqon.


Alif temannya hanya terkekeh kecil melihat reaksi Furqon.

__ADS_1


"Alah kamu kaget kenapa? hayoo mikir apa kamu, Fur? baru aja sampai di Kairo, kok dah mikir sesuatu." ucap Alif mencandai temannya, Furqon.


Furqon geleng - geleng sambil tersenyum.


"Ndak ada" timpal Furqon.


"Halah bohong kamu nih, Fur. Kelihatan dari gelagatmu!" ucap Alif menjahili.


"Kita langsung cari makan buat buka saja yuk, Lif! Ngomongmu ngalor ngidul lama - lama." ucap Furqon seraya merangkul Alif.


Alif hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti papahan Furqon.


* * * *


Indonesia...


Dirumah Kakek tampak sepi, karena Om Candra dan Tante Rika sedang menghadiri undangan dari rekan bisnisnya. Dirumah hanya ada Kakek, Bi Ina, dan Satpam saja. Kakek yang merasa kantuk berat, ia akhirnya memilih untuk mengambil air berwudhu.


Namun, saat selesai mengambil air wudhu tiba - tiba Kakek terpeleset saat hendak melangkah keluar.


BRUGK!


Kakek terjatuh ke lantai kamar mandi. Ringisan sakit terlihat dari wajah Kakek, kaki Kakek juga sedikit terkilir akibat terpeleset.


Astagfiirullah.. batin Kakek.


Kakek akhirnya mencoba berdiri sendiri, namun sayang ia kesulitan karena kakinya terkilir. Akhirnya, Kakek berteriak minta tolong.


"Bi, tolong saya! Bi Ina??! Tolong!" teriak Kakek.


Bi Ina yang sedang membereskan bahan masakan samar mendengar suara minta tolong. Ia pun mencoba memekakan telinganya kembali pada suara tersebut.


Bi Ina pun langsung berlari kecil menuju kamar majikannya, Kakek. Ia terkejut saat melihat majikannya terduduk dilantai kamar mandi. Dengan cemas Bi Ina menghampiri majikannya, Kakek.


"Ya Allah, Bapak! Bagaimana bisa begini, Pak?" ucap Bi Ina.


"Saya terpeleset, Bi. Tolong bantu saya berdiri, kaki saya terkilir." balas Kakek.


Bi Ina pun membantu Kakek berdiri, dengan hati - hati Bi Ina mencoba membangunkan Kakek dari duduknya. Lalu, Bi Ina memapah Kakek ke tempat tidurnya. Terlihat agak kesulitan Kakek berbaring ke atas tempat tidur.


"Pak, apa perlu saya panggilkan tukang urut komplek? Kalau iya, saya akan minta bantuan sama Pak Ade (Satpam rumah Kakek)." ucap Bi Ina cemas.


Kakek menggeleng, "Buatkan saya teh hangat tawar, Bi. Suruh Candra dan Rika cepat pulang, telepon mereka." ucap Kakek.


Bi Ina mengangguki perintah Kakek. Ia pun pamit ke dapur untuk membuatkan teh yang diminta Kakek, majikannya. Sebelum membuat teh hangat, Bi Ina menelphon Om Candra terlebih dahulu.


// Halo assalamualaikum, Pak. // awal Bi Ina.


// Waalaikumsalam, Bi. Ada apa telepon, Bi? Bapak baik - baik sajakan? // timpal Om Candra dari sebrang.


// Bapak kurang baik, Pak. Baru saja Bapak terpeleset dikamar mandi, Bapak yang nyuruh saya buat telepon Pak Candra. //


// Astagfiirullah, Bapak terpeleset Bi?! Ya sudah sebentar lagi saya pulang. Jaga Bapak ya Bi! // ucap Om Candra cemas.


// I-iya, Pak. Saya tutup dulu telepon nya ya, Pak? //

__ADS_1


// Ooh, iya Bi. Makasih infonya juga, Bi. //


// Sama - sama, Pak. Assalamualaikum //


// Waalaikumsalam //


Telepon terputus, Bi Ina pun segera membuatkan teh hangat untuk Kakek. Tidak butuh waktu lama teh hangat tawar, yang diminta Kakek pun jadi. Bi Ina langsung mengantarkan teh tersebut ke kamar Kakek.


Tok.. tok..tok..


"Masuk!" ucap Kakek.


Tampak Bi Ina datang dengan teh hangat tawar diatas nampan yang ia bawa. Bi Ina meletakkan teh tersebut diatas nakas dekat tempat tidur.


"Pak, Pak Candra dan Bu Rika akan segera pulang. Jika ada sesuatu Bapak bilang saja ke saya." ucap Bi Ina diangguki Kakek.


"Makasih, Bi. Bibi bisa kembali ke belakang, saya sudah tidak apa - apa." ucap Kakek.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu, langsung panggil saya saja jika butuh sesuatu atau minta di panggilkan tukang urut." balas Bi Ina.


"Iya, Bi."


Bi Ina pun kembali ke belakang. Kakek langsung meminum teh tawar yang ia minta. Dapat dimaklumi jika ini terjadi, apalagi jalan Kakek kini sudah tidak seperti dulu. Sekarang Kakek berjalan dengan sedikit tertatih - tatih, biasanya Kakek ikut ke kantor dengan tongkatnya. Hanya pekerjaan ringan saja Kakek ikut berbaur selainnya Om Candra yang menghandle.


15 menit kemudian...


Om Candra dan Tante Rika yang baru saja tiba dirumah, langsung tergesa menuju kamar Kakek. Mereka begitu khawatir, takut jika Kakek kenapa - napa. Namun, mereka merasa nafasnya lega setelah melihat Kakek tidak apa - apa.


"Pa, Papa kok bisa terpeleset bagaimana?" ucap Om Candra khawatir.


"Biasa, Papakan sudah tua jadi jalannya tertatih dan tidak seperti dulu." balas Kakek.


"Maafkan kami ya, Pa. Papa terpeleset dikamar mandi karena kami juga kelamaan diacara teman Mas Candra." ucap Tante Rika merasa bersalah.


Kakek tertawa kecil, "Kamu ini bicara apa sih, Rik?! Ini sudah musibah, musibah ringan. Lagi pula Papa juga nggak kenapa - napa."


"Pa, apa perlu panggil tukang urut? Nanti Candra minta Pak Ade untuk panggilkan kesini." tawar Om Candra.


Kakek menggeleng, "Tidak usah, terima kasih Ndra. Tadi Bi Ina juga sudah menawarkan itu."


"Ya sudah kalau begitu, Pa. Papa istirahat saja, kalau butuh sesuatu panggil Candra atau Rika saja ya." ucap Om Candra diangguki Kakek.


"Kalian istirahat juga, delamat malam." ucap Kakek.


Om Candra dan Tante Rika tersenyum.


"Malam juga, Pa."


Om Candra dan Tante Rika pun keluar menuju kamar mereka untuk istirahat. Kakek yang telah menghabiskan setengah cangkir teh kini memilih merebahkan tubuhnya.


Hari yang semakin malam membuat udara semakin dingin. Suasana juga semakin sunyi karena banyak penduduk yang telah beristirahat.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!! Makasih♥


__ADS_2