
"Nggak usah sok tau bisa nggak, Rey!?!"
Suara Fara yang tak santai hanya diacuhkan Reynar. Ia fokus ke game online-nya meski suara Fara begitu nyaring di telinga.
Lagi-lagi Fara mendengus kesal. Bicara dengan Reynar—Tetangga menyebalkan—hanya membuang waktu dan tenaga. Untuk meredamkan kekelasannya balkon menjadi tujuan Fara sekarang.
Ia menerawang pemandangan indah siang ini. Gedung pencakar langit, sinar mentari, kepadatan jalanan, dan lainnya bisa ia lihat dari balkon kamarnya.
Fara menghembuskan napasnya kala mengingat mimpi yang rasanya seperti kenyataan. Dalam hati ia berkata, Kenapa hanya mimpi, kenapa nggak kenyataan? Kenapa Allah tega kasih mimpi itu?
Terik mentari mulai menyengatnya. Fara kembali masuk, namun ia terpelonjak kaget sekali lagi saat sosok Reynar tidak ada di sana, di single sofa tempatnya.
"Suka banget ngilang terus tiba-tiba ada. Lama-lama mirip jinnya aladdin tuh si Rey!!" gumam Fara. Ia menutup pintu balkon.
Setelahnya, Fara duduk di bibir kasur. Mengamati tiap sudut kamarnya dengan saksama. Hening menyelimuti. Rasanya Fara ingin kembali ke Indonesia, berjumpa dan berkumpul dengan kakek neneknya.
Tapi....
Fara segera menepis rasa rindunya. Ia masih merasa kesal karena kakek dan neneknya mengomentari gaya pakaiannya. Dan itu adalah hal yang Fara benci.
__ADS_1
Fara membenci orang yang suka mencampuri hidupnya. Fara membenci orang yang sukanya mengurusi hidup orang lain. Toh, jika mereka sadar diri seharusnya tak perlu repot mencampuri hidup orang lain yang jelas-jelas tak diminta.
"Hah! Ngelamun sekarang!"
Fara menoleh tepat di ambang pintu kamar. Sosok Reynar yang sempat hilang ntah ke mana kini hadir lagi.
"Kenapa bengong?" tegur Reynar. Lagi-lagi membuyarkan Fara dengan segala isi benaknya. "Nggak mau jadi patung sekalian?!"
Bugk! Satu tinjuan mendarat di lengan kiri Reynar. Fara menghela dan menghela napas kembali. Sedangkan, yang ditinju hanya bisa menggerutu sembari mengusap lengannya.
"Kalo kesel jangan sama gue deh Ra yang jadi pelampiasan!!!" gerutu Reynar. Padahal ia sudah baik membelikan sesuatu untuk Fara. Tapi, ia justru dibalas tinjuan. Nggak ada terima kasihnya nih anak!
"Hah, gitu aja sakit!" ejek Fara. Ia tak menatap Reynar yang kini di sampingnya. "Lagian jadi orang kayak jin, sih!! Ngilang ada ngilang ada!!"
"Ya, memang!"
"Lo lama-lama tuh nyebelin banget, ya, Ra!!" Reynar kesal sejadi-jadinya. "Gue padahal baik sama lo, beliin lo coklat. Eh, lo malah ninju gue gitu! Mana terima kasih lo ke gue!!?!"
Keadaan di sana memanas akibat adu mulut antara Fara dan Reynar. Dua manusia itu sama-sama tak mau damai menurunkan ego untuk minta maaf, terutama Fara.
__ADS_1
Fara berdiri, memutar tubuhnya untuk menatap Reynar. Tatapannya menyorotkan api kemarahan.
"SIAPA YANG NYURUH LO BUAT BELIIN GUE SESUATU!!?" sentak Fara kesal.
Reynar mendengus kesal. Ia berdiri menjajarkan tubuhnya dengan Fara. Menatap Fara lekat dengan tatapan amarah.
"SEHARUSNYA LO NGEHARGAI GUE!!" sentak Reynar sangat kesal. "LO TUH EMANG NGGAK ADA ADAB TAU NGGAK!!?!"
Fara dan Reynar beradu tatapan. Tatapan yang sama-sama menyorotkan amarah dan kesal. Intinya keadaan di sana sedang tak baik-baik saja. Ntah mengapa pertengkaran bisa terjadi hingga seperti ini.
Fara menunjuk ke arah pintu dengan telunjuk kirinya. Ia masih menatap Reynar sengit. "PERGI!!"
"TANPA LO SURUH GUE SIAP PERGI!!"
Reynar menghilang dari hadapan Fara. Ia benar-benar pergi dari kamar Fara. Tetapi, ia meninggalkan kantong kresek kecil di sana, di atas kasur Fara.
.
.
__ADS_1
.
Lolos Revisi 11 Juni 2021