KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
48• (Popular seniors)


__ADS_3

Masih dengan malam di mana Mayra dan Fara berada di cafe kawasan Simpang Lima. Setelah banyak mengobrol, mereka berdua pun memutuskan pulang tepat jarum jam di angka sembilan. Tidak baik bila anak gadis di luar terlalu lama apalagi malam hari.


Setelah memastikan sopir kakek tiba di cafe, barulah Mayra dan Fara beranjak. Sebenarnya Fara sudah mengajak keluar dari tadi, namun Mayra mencegahnya. Katanya, takut terjadi apa-apa. Apalagi kawasannya ramai. Bisa saja 'kan ada orang jahat di sana.


Tepat saat mereka berdua bersama sopir berada di dekat mobil, tanpa sengaja Fara melihat sosok Reynar di dekat sana. Benar atau tidak, Fara langsung memanggilnya.


"REYNAR!!"


Remaja lelaki berjaket denim dengan celana jeans hitam di sana menoleh ke belakang. Fara tersenyum lega, akhirnya ia tidak salah panggil orang. Kalau salah? Ya, pasti ia akan malu.


Reynar yang dipanggil tidak bergeming. Hanya berdiri di dekat sebuah motor dengan ekspresi datarnya.


"May, kita susul Reynar dulu, yuk?"


Melihat binar di mata Fara membuat Mayra segan untuk menolak. Akhirnya ia setuju.


Setibanya di dekat Reynar, tiba-tiba dua gadis itu hanya diam. Fara yang tadinya sudah menyusun kata pun mendadak blank. Tampang Reynar yang dingin membuat malam dingin ini semakin mencekam.


Fara sempat menoleh ke Mayra, meminta persetujuan ntah apa. Namun, Mayra hanya mengangguk.


"Rey ..." Fara menatap takut-takut. Jantungnya berdegub abnormal. "... maaf, ya."


Reynar yang tadinya menatap ke arah lain, kini beralih ke Fara. Eh, tepatnya dua gadis di depannya. Yang satu menatapnya antara takut dan gelisah. Yang satu hanya menunduk, seperti biasa.

__ADS_1


Helaan napas terdengar dari Reynar. "Maaf ... buat apa?" tanyanya.


"Buat ... bu-buat kejadian terakhir waktu di Singapura," balas Fara reflek namun terbata.


"Oh ... oke."


Reynar menaiki motornya, bukan motor lelaki yang keren nan gagah. Tetapi, hanya sebuah motor matic scoopy warna hitam. Fara terdiam di tempat. Saat motor Reynar melaju hilang pun ia masih membeku di sana.


"May ... Reynar marah, ya?"


"Nggak tau. Tapi, yang penting kamu udah minta maaf dan dia juga udah bilang 'oke'."


******


Mayra yang tadinya berjalan menunduk sembari mendekap mukenanya pun menoleh ke Fara. Ia tersenyum sembari menggeleng. Lantas, ia pun kembali berjalan keluar kelas menuju musalla untuk melaksanakan salat dhuha.


Perlu diketahui, sepanjang koridor yang Mayra lewati. Ia mendengar cukup banyak warga sekolah membicarakannya. Tentu macam-macam apa yang dibicarakan. Namun, Mayra cuek.


******


Jam istirahat telah tiba. Para siswa berhamburan keluar kelas seperti biasanya. Kali ini, hanya ada Fara dan Mayra di kelas mereka. Tetapi, kedatangan seseorang membuat dua gadis itu membeku ditempat.


"Kalian mau ke kantin?"

__ADS_1


Itu Zikra. Ntah mengapa sejak insiden tabrakannya dengan Fara, kakak kelas populer satu ini sering mengunjungi mereka berdua. Ntah siapa yang dikunjungi, tetapi Zikra selalu datang menemui keduanya.


"Iya, Kak." Fara mewakili. Tidak mungkin Mayra menjawab, palingan anggukan yang diberikan. Ya, benar itu. Saat Fara menjawab saat itulah Mayra mengangguk.


"Boleh bareng nggak?" tanya Zikra. Wah, bau mau modus kecium, nih! "Eh, nanti kelas kalian 'kan yang ada jadwal mapel olahraga?"


"Iya, Kak." Fara kembali yang mewakili. Mayra sibuk memasukkan alat tulisnya. Ia memang hati-hati sekali kalau menjaga barang, takut rusak.


Zikra tersenyum. "Cewek berkerudung emang gini, ya, kalau ditanya? Nggak pernah jawab," sindir Zikra ntah apa maksudnya.


Perlu diketahui, kalau ternyata di luar kelas Mayra sudah banyak siswi—terutama pengagum Zikra—mengintip dari jendela. Kurang kerjaan memang.


"Maaf Kak bukan gitu maksudnya," kata Mayra yang tetap menunduk. Ia menarik tangan kanan Fara. "Kita duluan, ya, Kak."


"LHO, GUE 'KAN MAU BARENG!!?"


.


.


.


Lolos revisi 19 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2