
Riuh ricuh memenuhi koridor kelas dua belas. Hari ini mereka tersenyum lebar nan girang karena hari kelulusan telah tiba. Banyak yang saling bertukar tanda tangan sebelum mereka benar-benar berpisah dan melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi.
"Segitunya, ya, lo dapetin tanda tangan tuh cewek."
Sontak Zikra mendongak. Dihadapannya—dibatasi meja—berdiri seorang siswi berambut hitam kecoklatan dengan bando cantiknya menatap Zikra dengan tak suka. Sebut saja dia adalah salah satu dari sekian banyak siswi yang mengangumi bahkan menyukai seorang Zikra.
Zikra menutup bukunya. Ia menghela napasnya. "Nggak boleh?" Satu alisnya terangkat. Raut Zikra datar nan dingin. Padahal, ia dengan seluruh warga sekolah keculi siswi di hadapannya selalu tersenyum ramah.
Tapi, kenapa dengan siswi di depannya ia sedingin es?
"Zikra ... aku mohon maafin aku!" Sorot mata siswi ber-name tag 'Shifa' di depannya menyendu.
Zikra mengalihkan pandang sejenak dengan hembusan napas, lalu kembali menatap Shifa—siswi di depannya yang merupakan mantannya. Iya, Zikra memiliki mantan tapi sejak dia putus dari Shifa, ia tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun.
"Gue udah maafin lo, Fa. Tapi, kalau gue harus balikan sama lo, gue nggak bisa!" kata Zikra tegas. Perlahan matanya menatap Shifa memohon. "Please, hargai keputusan gue ...."
Shifa menghapus air matanya yang tak terbendung. Ia menarik napas kemudian berusaha tersenyum meski terpaksa.
"Thanks. Aku bakal hargai keputusanmu. Aku sadar diri kalau aku cuma nyakitin kamu," kata Shifa dengan senyum getirnya.
Zikra mengangguk pelan. Membuat Shifa semakin membancang getir dan gemuruh pilu di hati.
*****
__ADS_1
Mayra menunduk. Ia memainkan jemarinya karena gugup dan bimbang. Di hadapannya saat ini, ada Zikra yang sedari tadi mencoba membujuk Mayra agar mau menerima permintaanya untuk datang ke acara perayaan kelulusan nanti malam.
Saat ini mereka berdua tengah berada di depan musala sekolah. Sedikit jauh dari warga sekolah yang pasti selalu beralasan jika ke masjid. Lalu lalang warga sekolah pun jarang dilihat di sini.
"Tapi, Kak aku beneran nggak bisa."
Zikra menunduk sayu, ia mencoba menutupi kekecewaanya saat ini. Mayra adalah sesuatu yang spesial baginya. Sosok Mayra adalah seperti sosok pengganti seseorang yang telah mengubahnya selama ini.
"Maaf, ya, Kak ... maaf...."
"Lo penuhin aja kenapa, sih!?!"
Suara seseorang itu membuat Mayra dan Zikra menoleh ke belakang.
"Ini cucu-cucu nenek mau pada ke mana udah rapi begini?"
Nenek tidak mengalihkan pandang dari kegiatannya menata makanan di atas meja makan.
"Nek ...." Mayra dan Fara berjalan mendekat ke meja makan. "Aku sama Fara pamit, ya, mau ke acara kelulusan kakak kelas kami."
Nenek mengerutkan dahinya. "Kalian kok diundang kalau ini acara kakak kelas?"
Fara berdehem. "Soalnya yang ngundang itu orang spesialnya May—"
__ADS_1
"Kami diundang masak nggak datang, Nek? Bukannya memenuhi undangan itu diwajibkan selagi tidak ada halangan?" kata Mayra memangkas kalimat Fara. Fara mencebik di sampingnya.
"Ya sudah, sana. Jangan pulang terlalu malam tapi, ya!" kata Nenek sembari menyambut uluran tangan cucunya. "Diantar pak sopir, lho! Hati-hati!"
"Assalamualaikum, Nek."
Setelah Mayra dan Fara hilang dari ruang makan. Kakek tiba di sana. Merasakan sunyi, tidak ada suara cucunya, hanya istrinya dan ART membuatnya bertanya.
"Mayra Fara ke mana, Ma, kok sepi sekali?"
Sembari mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk kakek, nenek menjawab, "Mereka barusan pamit pergi, Pa. Ke acara perayaan kelulusan kakak kelas mereka."
Sama halnya nenek tadi, kakek pun mengerutkan dahi. "Lho?"
"Sudahlah Pa, nggak pa-pa. Mama yakin mereka baik-baik saja di sana. Apalagi ini habis ujian, mereka pasti butuh refreshing."
.
.
.
Lolos Revisi 30 Juni 2021
__ADS_1