KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
60• (Mantan santri)


__ADS_3

Hari demi hari, jam demi jam, hingga detik demi detik telah dilalui. Hari ini adalah hari yang cukup menyenangkan karena Zikra mengajak Mayra dan Fara merayakan kemenangan Mayra di lomba tartil Qur'an dua hari yang lalu.


Pukul setengah delapan malam, mobil ayla warna putih berhenti di depan gerbang rumah kakek. Sudah bisa ditebak siapakah pemiliknya, ya Zikra.


"Kalian nunggu lama? Maaf banget, ya."


"Nggak apa kok, Kak. Santai aja sama kita. Ya, 'kan, May?"


Mayra mengangguk, memberi suara dukungan pada Fara.


"Ya udah, yuk masuk!"


Selama perjalanan menuju sebuah restaurant yang Zikra pilih untuk makan malam malam ini, obrolan ringan mengisi mobil didominasi suara Maher Zain.


Hingga mobil ayla putih milik Zikra berhenti di pelataran parkir yang luas namun padat—mungkin karena malam minggu orang-orang hangout—mereka pun turun. Kedatangan tiga remaja itu cukup menarik perhatian beberapa pengunjung. Lebih tepatnya pengunjung remaja perempuan yang mungkin memeperhatikan Zikra.


Namun, ketahuilah bahwa beberapa remaja perempuan itu juga membicarakan gaya penampilan Mayra yang tertutup hingga tidak nampak bagaimana bentuk tubuhnya.


Bukankah yang seharusnya dipakai yang seperti Mayra kenakan?

__ADS_1


Dan untuk perempuan yang tidak menutup auratnya, bukankah dikatakan sebagai berpakaian tapi telanjang?


Dunia semakin aneh memang. Maksiat dan kejahatan semakin merajalela. Membuat para insan yang sadar diri akan kefanaan dunia semakin memperbanyak taubat pada Sang Pencipta. Yang hidup akan mati. Yang fana akan hancur. Yang kekal hanyalah Allah.


"Kalian pilih aja menunya, aku mau ke toilet bentar," ujar Zikra sebelum meninggalkan dua gadis yang dibawanya.


"Aku tau kamu pasti dengar ucapan mereka, May. Jangan dengerin, ya!"


Fara khawatir jika kalimat yang tidak seharusnya keluar dari lisan itu melukai hati sepupunya. Mayra mengulas senyum, tanda ia tidak apa-apa.


Waktu berlalu tidak terasa, acara makan malam kini telah usai. Menyisakan obrolan ringan di meja mereka. Zikra dan Fara lebih mendominasi sedari tadi. Mayra akan bicara jika responsnya benar-benar perlu. Kalau sekadar candaan, ia hanya ikut tersenyum. Senyum yang anggun tentunya, bukan ngakak.


Zikra menatap arloji mahal di lengan kirinya. Ia pun kembali menatap Mayra dan Fara bergantian.


"Kamu gimana, May? Aku, sih, masih pengin di sini. Tapi, kalau kamu pulang sekarang ya aku pulang."


"Iya, Kak. Kita pulang sekarang."


Jawaban Mayra membuat Fara mencebik. "Sudah kuduga. Kak Zikra maklumin aja, ya, kalau Mayra kurang suka di luar apalagi malam lama lagi. Dia mantan santri soalnya."

__ADS_1


Zikra terperanjat. Ia terhenyak dengan kalimat Fara. Sungguh, ia baru mengetahui hal haru dari Mayra.


"Wah, malu banget nih sama kamu, May. Aku yang laki-laki gini aja masih minim ilmu agama. Sedangkan kamu, malah jauh di atasku," kata Zikra bukan mencari muka. "Kalau orang kayak aku dibiarin, hancur imam-imam masa depan, deh!"


Mayra tidak peka. Sedangkan Fara, ia tersenyum melirikan mata ke Mayra.


"Ehem!"


Mayra dan Zikra bersamaan menatap Fara. "Kode ini, ya, Kak?"


"Kode apa?" tanya Zikra sembari mengerutkan dahi.


"Ah, polos juga ternyata Kak Zikra sama kayak Mayra."


Zikra terkekeh kecil mendengarnya. Ia memang tidak peka akan sindiran Fara. Bukan pura-pura bodoh.


.


.

__ADS_1


.


Lolos Revisi 28 Juni 2021


__ADS_2