KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
07• (Bertemu)


__ADS_3

Rembulan amat benderang malam ini berada di hamparan langit kelabu bersama kerlip bintang. Angin malam berhembus cukup kencang, menerusuk hingga ke tulang.


Masih dengan rembulan yang benderang, perlahan bentuknya yang semula purnama kini sabit. Gumpalan awan perlahan menutupi sinar rembulan yang benderang.


Pemandangan itu disaksikan secara langsung oleh Candra, putra bungsu di keluarga Pernama. Lelaki empat puluh tahunan itu berdiri diam di depan jendela kamarnya dari tadi.


Diamnnya ia mengundang perhatian istrinya. Ting, dentingan cangkir dengan meja kaca membuyarkan lamunan Candra. Netra hitam itu sejenak menatap istrinya, lalu disudahi dan memilih mengangkat cangkir yang istrinya bawa.


Kepulan asap dari kopi panas itu melayang-layang di wajahnya. Candra masih diam, memilih meniupi kopi panasnya.


"Lusa kita pulang ke Singapura, ya?" Rika membuka laptopnya. Beberapa email masuk, tergerak hatinya untuk membuka.


Candra masih diam ... ia terkejut sebenarnya mendengar permintaan istrinya. Tapi, ia juga setuju. Hatinya berkata seperti itu.


"Bagaimana, Pa?" Rika menanyakan pendapat suaminya. Tangannya bergerak di atas keyboard mengetik balasan untuk email yang masuk. "Hiihh ... Papa ditanya malah diam, jawab gitu! Gimana, Pa?


"Oke." Hanya segitu dan sesingkat itu balasan Candra.


*****


Air mata yang sedari tadi berlinang hingga sesenggukan perlahan sirna. Perlahan pula gadis berbaju merah muda dengan celana jeans di atas lutut, mengangkat kepalanya memandang ke depan.


Lama memandang kekosongan, tak memandang apa-apa. Gadis itu yabg tak lain tak bukan adalah Fara, mengamati lekat sebingkai foto di atas nakas samping kasurnya.


Mayra!


Bingkai itu berisi fotonya bersama Mayra. Mengingat Mayra membuat Fara bertanya dalam hatinya.


Apa kabarmu, May? Lama 'kan tidak bertemu?


Seperti itulah batinnya bicara. Fara lupa jika Mayra adalah saudari sekaligus sahabat terbaiknya. Fara sendu mengingat Mayra di hari kepergian abadi orangtuanya. Saat itu ... Fara jelas melihat Mayra menangis terpukul. Senyum Mayra menyurut digantikan tangis pilu saat itu.

__ADS_1


Mengingat seorang Mayra Athifa membuat Fara memutar semua tentangnya. Seperkian detik berlalu, senyum masam terbit di bibir Fara.


"May, aku kangen kamu ... aku kangen." Tanpa sadar Fara bergumam seperti itu. "Kenapa kamu tidak di sini saat aku kembali? May ... cuma kamu yang bisa ngasih perhatian dan pengertian ke aku. Aku takut, May ... takut."


Gumaman Fara semakin tak jelas. Ntah maksudnya apa, tapi satu hal yang pasti. Hanya dia dan Sang Khaliq yang tahu apa maksudnya.


Aku sekarang berubah. Aku sekarang bukan Fara yang dulu. May, maaf karena pertumbuhanku yang buruk. May... Apa kabarmu sekarang? Di sana kamu bahagia? May... Aku butuh kamu. Aku pengin ketemu kamu. May...., batin Fara.


*****


Malu,


Terlalu malu di tempat yang penuh dengan orang-orang suci berhasil menundukkan kepala serta pandangan Fara. Saat ini, Fara bersama kakek dan nenek berada di pesantren As-Salam—sebuah pesantren modern yang menjadi tempat Mayra hidup sekarang.


Bagi Fara, pesantren tempatnya berada sekarang adalah tempat orang suci. Suci karena para santri akan menjaga ibadah mereka, pandangan mereka serta aurat mereka. Fara tak pernah berkunjung ke tempat seperti ini sebelumnya.


Manusia cukup ambigu bila dijuluki 'suci'. Karena pada dasarnya, manusia adalah tempat salah dan dosa.


Ingatlah, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Di dunia ini tidak ada manusia yang tak luput dari dosa.


Mereka yang dekat dengan Allah pun tak pantas disebut manusia suci. Ingatlah!


Sebuah kesengajaan Fara dan kakek-nenek datang ke pesantren As-Salam. Berawal dari ketidaktegaan hingga berujung kerinduan.


Kakek mendengar semua keluh Fara tadi malam. Awalnya ingin menemui Fara dan menasehatinya, tapi niat kakek urung, dan berganti dengan iba karena gumaman Fara.


"Nak Fara, kalau mau ketemu Nak Mayra biar diantar putri Bu Nyai, mau?"


Kikuk Fara mengangguk. Ia begitu asing dengan lingkungan seperti ini. Pesantren, tempat yang mampu membuat Fara malu sendiri. Cukup lama berbicara dengan pemilik pesantren, kini akhirnya Fara akan diantar menemui Mayra.


"May ....."

__ADS_1


Dua gadis seumuran saling mematung ditempatnya. Mata mereka saling memandang namun mulut mereka terkunci.


"Fara ...." Mayra menatap lekat gadis berjilbab pashmina yang tak dikunci alias rambutnya masih terlihat. Ini Fara yang selama ini aku rindukan, ya Allah? Kau jawab do'aku hari ini, batin Mayra.


Berdua bersama, saling melepas rindu. Saat ini Mayra dan Fara berada di taman pesantren. Mereka cukup lama di sana tapi tak ada percakapan, hanya ada suara riuh santriwati yang ada di sekitar.


"May, apa kabarmu?" Tak ingin waktu keburu habis, Fara buka bicara. Ia rindu Mayra, tapi saat bertemu mengapa tak bicara dan berlepas rindu?


Mayra menatap Fara. Seukir senyum terbit di bibirnys. "Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, aku baik." Mayra juga tak ingin membuat Fara canggung. "Sampai kapan di Indonesia? Seminggu ada?


Fara menggeleng diiringi senyum masamnya. "Besok aku pulang ke Singapura, May. Jadi hari ini, aku mau kita mengobrol lama."


"Secepat itu kamu kembali, Fara? Kenapa nggak seminggu di Indo, nggak betah?"


"Aku ikut Papa Mama, May. Mereka yang mengajakku ke sini dan mereka juga yang mengajakku pulang, aku ikut mereka."


"Semoga kamu sekeluarga kembali ke Singapura dengan selamat, ya. Aamiin." Mayra tersenyum tapi menunduk. Ia cukup sedih dengan hadirnya Fara yang singkat di Tanah air.


Aamiin, batin Fara sembari menatap Mayra. Matanya berair hendak menangis. May, aku masih ingin bersamamu. Maaf karena aku berubah, May.


"Jangan lupa salat lima waktu juga, ya, Fara."


Salat?


Fara terkejut. Sudah lama ia tak memakai mukena dan sajadahnya. Sudah lama ia tak menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Fara tersenyum masam.


.


.


.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE!! ARIGATOU🤩


__ADS_2