KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
21• (Percakapan tak diminta)


__ADS_3

"Look at me, Fara."


Siswi berkacamata yang memang bukan orang Melayu, asli orang barat itu memapah Fara agar duduk di bangku yang ada di sepanjang lorong sekolah.


"Fara ... I'm afraid you're in bad shape. What happened to you?"


Meski diabaikan segala pertanyaannya. Siswi berkacamata itu pantang menyerah agar Fara merespons. Merasa siswi di sampingnya tak ada pergerakan, Fara menatapnya.


Apa yang dia lihat?


Siswi berkacamata itu tengah membaca buku yang tadi ia dekap. Dua buku dengan ketebalan berbeda kini berada di pangkuan. Fara merasa tak asing dengan buku yang dibaca siswi di sampingnya.


"What are you reading, F-friend?"


Mata yang semula menatap lekat deretan kata berbahasa Inggris kini beralih ke Fara. Dia terlihat bahagia dengan kalimat yang Fara lontarkan baru saja.


"Are you serious?" Mata bening dibalik kacamata minus itu berbinar. Ntah karena apa, Fara tak peduli.


"Seriously for what? Please speak clearly!" Fara jengah dengan keadaan ini, percakapan ini. Ia serasa ditarik paksa bicara dengan orang asing sekalipun itu teman satu sekolahnya.


"Okay." Siswi itu tersenyum. "Forget it. But, are you okay now?"

__ADS_1


Fara mengangguk. Tak berniat memperpanjang percakapan garing ini dengan siswi di sampingnya. Bukan hanya style Fara saja yang berubah, tapi juga dengan sikapnya.


"I am glad to hear it."


Fara berdiri. Ia lebih baik pergi dari sana. Jujur, Fara ingin tak banyak bicara. Ia hanya ingin tenang tanpa seorang pun. Termasuk siswi di sampingnya. Siswi berkacamata ntah siapa namanya. Fara tak berniat menambah teman.


"You want to go?"


Lagi-lagi siswi berkacamata itu bertanya membuat Fara menghela napas panjang. Memang seharusnya ia tak menggubris siswi yang kenal dengannya. Padahal dia saja tak tahu nama dan kelas siswi itu.


"I HOPE WE MEET AGAIN!!"


Kali ini teriakan itu Fara abaikan. Biarlah perhatian siswa lain tersita. Toh, Fara tidak meminta. Tapi mereka saja yang meluangkan waktu untuk menoleh ke TKP.


"Ngapain cupu nyamperin lo, Ra?"


Reynar lagi-lagi muncul. Makhluk satu ini memang tak ada habisnya untuk meresahkan orang lain. Bahkan, meninggikan tensi darah. Fara yang baru saja istirahat di kamarnya dengan sebuah buku novel genre teenlit di pangkuan, menghela napas.


"Ngapain ke sini, Rey? Kayaknya hampir tiap hari ngusilin ke sini deh!" kata Fara. Ia terganggu dengan adanya Reynar.


"Aelah, ketus banget." Reynar fokus dengan sesuatu di tasnya. "Kalau gue ke sini lo keganggu, ya? Om Tante marah, ys? Lo ngerasa kedamaian lo terusik, ya?"

__ADS_1


"IYA!" Tak ragu Fara menjawab. Tiga huruf itu mampu membuat Reynar tercengang. Jadi, selama ini hadirnya ia hanya dianggap nyamuk. Yang hanya bisa menganggu orang.


"Fine. Besok gue nggak datang lagi ke sini. Gue bakal pulang ke apart gue sendiri. Gue bakal sendirian tanpa mama gue."


"Baguslah!" Lagi-lagi Reynar tercengang. Ia menghela napas. Baru sadar jika kehadirannya sangat menganggu. Rasanya pengin terbang langsung ke Indonesia. Sekarang juga!


Reynar bangkit dari single sofa milik Fara. Berjalan mendekati penguasa kamar ini dengan santai ala pantai.


"Before I go I have something for you." Kalimat itu membuat Fara menatap Reynar. Ia alihkan sejenak atensinya dari novel di pangkuan.


"THIS IS YOUR POLAROID PHOTO."


Kali ini Fara yang tercengang. Akhirnya ia dapatkan kembali polaroid photo miliknya. Sebuah foto yang diisinya dengan Mayra. Memiliki arti penting bagi Fara.


"Thanks, Rey!"


.


.


.

__ADS_1


Anti Bucin🤧


__ADS_2