
Muka yang begitu putih pucat, badan yang begitu dingin untuk disentuh membuat keluarga tak kuasa menahan tangis. Mereka begitu kehilangan, orang-orang yang kenal dan dekat dengan almarhumah begitu sedih mendapati kabar duka ini.
Setelah perjalanan dari rumah menuju makam ditempuh sekitaran 30 menit, akhirnya ambulan yang membawa jenazah Mayra dan rombongan pun tiba. Langkah gemetar nan gontai keluarga melangkah mengikuti peti jenazah Mayra. Lembar demi lembar tissue digunakan untuk menghapus air mata yang tidak ingin berhenti rasanya.
Lubang yang terlihat terbuka siap untuk mengubur jasad Mayra. Alam kubur telah menanti. Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam lubang kubur, rombongan dari pesantren As Salam datang. Ada Kayla, Safa, dan Jihan juga di sana. Hidung merah, mata sembab terlihat dari wajah ketiga sahabat Mayra.
Furqon dan Alif ada diantara barisan rombongan pesantren As Salam. Kedatangan mereka juga disusul oleh Pak Sanjaya sekeluarga. Ternyata begitu banyak yang mengantar almarhumah untuk memasuki alam kubur nya.
"Bu Rika, sabar ya! Kami begitu berduka atas meninggalnya Mayra, putri Pak Heru dan Bu Ratna," Ibunda Arnoz dan Arnold memeluk Tante Rika.
"Terima kasih, Bu."
__ADS_1
Air mata berderai tanpa henti. Kini giliran Kayla, Safa, dan Jihan yang mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya sahabat
Kayla, Safa,
Di sana menyisakan Om Candra sekeluarga, Pak Sanjaya sekeluarga, dan rombongan pesantren As Salam. Bu Nyai mengusap panggung Tante Rika penuh kelembutan.
"Sabar ya, Bu Rika. Do'akan Mayra agar terhindar dari siksa Allah SWT."
"Tidak repot, Bu Rika."
Furqon menatap sendu gundukan tanah penuh bunga milik Mayra. Alif yang melihat raut lesu Furqon pun menepuk bahunya, ia memberi semangat sahabatnya.
__ADS_1
"Semoga Allah memberimu tempat terbaik. Kaulah perempuan sholehah yang kukenal. Kau pantas untuk mendapatkan surga-Nya, karena kau adalah wanita surga. Semoga Allah mengampuni segala khilafmu, Mayra. Maafkan aku lancang menaruh rasa padamu," batin Furqon seraya menatap batu nisan Mayra.
Selesai sudah kisah hidup Mayra di dunia ini. Semoga amal yang dilakukan semasa hidupnya diterima oleh Allah SWT. Perlahan langkah kaki keluarga dan orang-orang yang tersisa di sana menjauh pergi. Tante Rika menjauh dengan terus memeluk cadar milik Mayra. Di saat langkah itu pergi, malaikat pun datang menghampiri jasad almarhumah.
* * * *
Selama satu minggu ini dirumah Om Candra digelar acara tahlilan untuk almarhumah yang telah pulang ke haribaan Allah SWT. Suasana duka masih begitu terlihat dari wajah keluarga yang di tinggalkan. Bahkan tidak jarang air mata mereka lolos saat mengenang sang almarhumah.
Hanya do'a yang bisa keluarga panjatkan untuk mengobati kerinduan mereka pada sang almarhumah. Bayangan Mayra masih begitu melekat dalam hati dan pikiran keluarga. Bahkan hampir tiap pagi Om Candra sekeluarga memasuki kamar Mayra yang penuh kenangan.
Foto-foto Mayra yang menempel di dinding begitu mengingatkan mereka pada Mayra. Pakaian Mayra yang tersisa di lemarinya masih tersusun rapi dan tidak ada niatan untuk memindahannya. Bahkan terkadang Tante Rika, Fara, juga Meyna memeluki barang-barang almarhumah. Kini tinggallah kenangan bagi mereka.
__ADS_1