KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
59• (Keraguan)


__ADS_3

"Ini serius?"


Mayra mengerutkan dahi dalam keadaan tertunduk. Rasanya aneh saja dengan pertanyaan enigma yang Reynar lontarkan.


"Maksudnya?"


"Iya, ini serius .... lo mau ngajarin gue ngaji?" Reynar memperjelas kalimatnya. Ia tahu jika pertanyannya enigma. "Lo sanggup ngajarin gue yang udah lupa huruf hijaiyyah?"


Mayra menarik napas sebelum ia mantap mengangguk. "Kenapa nggak?"


"What the hell?!" Reynar tertawa lepas membuat beberapa siswa satu sekolah Mayra yang ada di sekitar sana memperhatikan. "No hassle, sorry. Gue percaya kok kalau lo bakal sabar ngajarin gue. Gue percaya lo serius bantuin gue tanpa paksaan."


"Itu tau!"


"Damn it!" umpat Reynar masih terdengar oleh Mayra. Ia berdehem, menetralkan raut wajahnya seperti biasa. "Kita berangkat sekarang. Eh, anyway Fara udah pulang duluan?"


"Nggak, dia lagi pergi ke rumah teman. Kenapa?"


Reynar mengangguk. "Ayok!"


*****


Setibanya Mayra dan Reynar di pelataran masjid tempo hari, nyenyat mengisi langkah mereka. Tanpa Mayra ketahui, jika pemuda di sebelahnya tengah berpikir keras untuk lanjut atau balik atau bahkan kabur. Ia benar-benar kehilangan kepercayaan diri. Ia malu saat ini.


Hingga dua insan itu menapaki anak tangga pertama masjid, Reynar membatu. Mayra pun ikut berhenti dan menoleh ke belakang, ke Reynar yang masih di anak tangga pertama. Padahal, ia sudah di anak tangga keempat.


Meskipun Mayra tidak melontarkan pertanyaan, tapi Reynar paham Mayra yang bertanya lewat diamnya.


"Lain kali aja deh, May. Gue tiba-tiba berubah pikiran."


"Kenapa ... kamu malu dan nggak yakin dengan dirimu sendiri?"

__ADS_1


Tepat sasaran. Reynar langsung mengangguk membuat Mayra menghela napasnya. Apa Reynar tidak menghargainya yang meluangkan waktu jauh-jauh ke masjid ini?


"Apalagi yang kamu ragukan? Ini sudah di rumah Allah."


"Gue ragu ... dan nggak pantas buat belajar ngaji apalagi salat. Gue manusia penuh dosa yang nggak seharusnya dapat ampunan dari-Nya."


Ketahuilah, Reynar benar-benar malu saat ini. Malu dengan Sang Pencipta yang selalu membantunya, memenuhi kebutuhannya, padahal ia manusia tidak taat.


"Kamu ragu sama Allah yang Maha Pengampun dan Penerima taubat? Kalau kamu malu untuk memperbaiki diri, tandanya kamu ingin selalu di jalan yang sesat. Malulah jika kamu maksiat, jangan malu bertaubat."


Kalimat Mayra bak pembangkit keteguhan niatnya yang membuat Reynar mendongak, memadang pintu masjid yang segera ia masuki dengan sorot penuh yakin.


"Thanks. Lagi-lagi lo nyadarin gue, Mayra Athifa."


Mayra merasakan degub jantungnya abnormal kala nama lengkapnya disebut. Ia mengangguk saja karena tidak sanggup berkata lagi.


Mayra menunduk, tersenyum geli karena Reynar yang selalu salah mengucapkan dan mengingat huruf hijaiyyah yang anak TK hafal. Ya, senyumnya hanya mampu selindung dibalik tertunduknya wajah.


Mayra melihat keseriusan Reynar untuk belajar mengaji, dan kesabaran sang marbot dalam mengajari Reynar.


"Kalau kayak angka tiga ada titik satu di atasnya, namanya ghain. Tapi, kalau tanpa titik, namanya 'ain," papar marbot masjid pada Reynar yang salah membaca.


Reynar mengangguk-angguk. Lalu berkata, "Kalau muter-muter kek bianglala ini namanya apa?" Ia menunjuk huruf ha.


"Namanya ha, Mas. Bedain ya kalau baca ha sama kha."


******


"Gue nggak tau kalau lo seperhatian ini sama gue."


Mayra menodongak ke Reynar yang berdiri tidak jauh darinya. Posisi mereka saat ini sedang berada di dalam bus yang padat manusia, ya karena jam pulang kerja. Wajarlah.

__ADS_1


Untungnya ada satu kursi yang bisa ditempati Mayra. Reynar memilih mengalah dan berdiri.


"Maksudnya?"


Reynar menatap Mayra yang menunduk dengan memainkan tasbih digitalnya.


"Lo daritadi nanya maksudnya terus, ya! Nggak ada yang lain apa selain itu?"


Sekarang lihatlah! Reynar pada Mayra seperti Reynar pada Fara. Sifat menyebalkannya keluar sekarang. Dua remaja yang memang tidak pernah dekat ini, seiring berlarinya waktu membuat keduanya lebih mengenal.


"Drop it!" kata Reynar dengan bahasa slang (gaul), ia malas membahas topik tidak penting yang ia bicarakan.


"Gue antar lo sampai depan gerbang rumah."


"Nggak perlu, makasih."


"Gue nggak nawarin tapi maksain."


.


.


.


Lolos revisi 26 Juni 2021


Anak millenial pasti pada tahu apa itu LOL(singkatan), DAMN IT. Karena itu bahasa gaul dalam bahasa Inggris yang tanpa disadari selalu diucapkan. Iya nggak?


Savage : kata ini juga sering diucapin bahkan ditulis di media sosial. Kata ini berarti berani atau nekad tanpa mempedulikan konsekuensi yang didapat.


CMIIW!🤗🍁

__ADS_1


Apaan lagi itu??


__ADS_2