KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
28• (Very different)


__ADS_3

"Syukurin lo, Ra!"


Kalimat itu mengundang tatapan tajam Fara. Ia kali ini benar-benar kesal karena ceritanya justru ditanggapi Reynar dengan tawa puas, bahagia melihatnya tertindas.


"Terus apalagi selain itu?"


Reynar ingin tahu lebih cerita Fara dan siswi berkacamata yang terkenal cupu. Menurutnya, cerita kisah gadis acuh seperti Fara dengan gadis riang namun cupu menarik jika di dengarkan. Mungkin jika dijadikan novel akan mengundang banyak calon pembaca.


"Terus Rey, terus ... laugh until satisfied!" ketus Fara. Bodohnya ia menceritakan kejadian hari lalu pada Reynar yang notabene-nya sama seperti siswi berkacamata itu.


"I'm sorry Sister." Walau melontarkan kata maaf, tetap saja Reynar terkekeh geli ditempat. Memang tidak tulus kata maafnya. "Fara ... why don't you try to be his friend? Whould have been nice!"


Kembali, Reynar tertawa keras. Malam ini seharusnya mereka belajar untuk ujian pertama esok, tapi semua kacau karena cerita Fara dan tawa Reynar. Maka, tidak ada yang bisa disalahkan, bukan?


Fara mendengus kesal sembari berjalan ke kasurnya. Kasur di mana menjadi tempat bukunya berada dan tergelar. Jika Fara dihadapkan tiga buku maka Reynar hanya satu buku. Berniat belajar atau tidak, Fara tak peduli pada Reynar. Toh, ia tak mengajak. Reynar saja yang main nyelonong gabung.


"Belajar belajar!" tegur Fara. Ia semakin kesal karena Reynar terus tertawa. "Kalau cuma mau ketawa, balik sono ke apart! Ganggu konsentrasi aja!"

__ADS_1


"Yee... Marah nih yee?" Reynar membuka bukunya. Membuka tiap lembar dan begitu seterusnya hingga halaman belakang. Tak ada yang ia baca, hanya buka tutup buku saja.


"Ra ..." Reynar memanggil membuat pemilik nama mendongak dan menatapnya. Raut Reynar datar, tapi sorot matanya seakan ingin bicara suatu hal penting.


"Apa?" Hanya kata 'apa' sahutan dari Fara. Walau singkat, tapi gadis itu telah siap mendengarkan Reynar. Nyatanya, bantal telah ia pangku dan tangan ia letakkan di atasnya, menopang dagu.


"Lo kok bisa beda banget sama saudara lo yang di foto itu? Very different."


Kalimat itu mulus terlontar dari lisan Reynar. Tapi tak mulus untuk Fara menjawabnya. Ia sadar dengan perbedaannya dengan Mayra, saudaranya.


Terkadang, hati nurani Fara menuntun kebaikan namun Fara tak hiraukan. Ia menolak hati nuraninya. Memilih sesat sebagai jalannya. Sungguh aneh memang, tapi nyatanya Fara tak sebaik Mayra. Ia jauh dari Allah. Jauh dari agamanya.


Fara selalu bergumam dalam hati, aku masih kurang dewasa untuk merangkul papa mama kembali ke kebaikan. Dan itu masih bertahan, masih ia gumamkan hingga sekarang.


"Lo tersinggung sama gue, Ra?" Reynar kembali bicara. Membuat Fara menatapnya datar. "Sorry banget, deh!"


Fara menggeleng. "Nggak kok, I'm fine now, Rey! Semua kalimatmu benar, Rey. Aku sama Mayra beda. Very different!"

__ADS_1


"Gue juga beda, Ra." Mata Reynar beralih memandang pintu transparan balkon, yang menyuguhkan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit dan langit malam yang kelabu dengan bulan sabit.


"Memang, dari dulu emang beda. Jahilnya, narsis-nya, bahkan tingkah absurd-mu bikin istigfar seribu kali." Saat itu juga Reynar memandang Fara tajam.Timpalan Fara ini terlalu jujur.


"Ngeselin lo!" gerutu Reynar.


"Lho, memang nyatanya gitu," sanggah Fara. "Bohong tuh dosa, makanya aku jujur!"


"Serah!"


.


.


.


Jangan jadi SIDER, ya! Meski ini udah tamat dan lagi proses revisi alur, tetap komen beri semangat dan pendapatnya.

__ADS_1


SIDER/SILENT-READER🤧


__ADS_2