KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
kosong


__ADS_3

Terlihat Mayra tersenyum ke arah Fara dari sebrang telephon.


// Sertakan Allah dalam setiap masalah yang sedang kamu hadapi, Far. // ucap Mayra lembut.


Fara mengangguk.


// Makasih ya, May. Oya, kamu ada acara lain? Gara - gara aku kelamaan video call kamu, kegiatan kamu tertunda. //


// Aku nggak ada acara apa-apa, Far. Kamu nggak usah merasa bersalah gitu. Aku lagi nemenin temanku di asrama. Kamu makan sendiri? // suara halus Mayra mengalun.


Fara menatap Arnoz dan tunangannya dengan senyum masam sambil menjawab Mayra.


// Dulu ada temanku yang begitu perhatian padaku, May. Tapi, sayang dia nggak bisa sama aku lagi. //


Fara menunjukan kata-kata tersebut untuk Arnoz. Mendengar ucapan Fara, Mayra mengerutkan dahinya tidak mengerti.


// Maksudnya? //

__ADS_1


Fara tersenyum.


// Udahlah lupain aja, May. Oya, aku tutup dulu ya. Aku mau lanjut makan, May. //


Mayra terlihat mengangguk.


// Iya, lanjutin makannya. Assalamualaikum, Fara. //


// Waalaikumsalam, May. //


Setelah melangsungkan panggilan video call bersama Mayra, Fara segera menghabiskan makanannya. Setelah itu, Fara bergegas pulang ke apartemen. Namun, kepergiannya dari resto ternyata bersamaan dengan Arnoz. Saat Arnoz menyapa Fara, Fara hanya berhenti dan menatapnya sejenak, dan kembali melangkah lagi.


Fara menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan ke arah Arnoz.


Mau apa Arnoz panggil aku? Rasanya aku ingin pulang ke tanah air sekarang juga, aku ingin lari darinya.


batin Fara

__ADS_1


Kini Arnoz dan tunangannya sudah berada di sampingnya Fara. Fara melirik mereka sekilas, tatapan tak suka terlihat dari sorot matanya.


"Kamu belum maafin aku, Far? Padahal udah hampir sepekan kamu mengacuhkanku. Apa benar-benar tidak ada kata maaf untukku?" ucap Arnoz menatap Fara dari samping.


"Apa kamu bilang, maaf untukmu? Tidak ada!" timpal Fara sinis. "Luka ini belum sembuh, jadi lebih baik jangan pernah panggil namaku, ataupun menemuiku. Ingat itu, Arn!"


Kali ini Fara terang-terangan meluapkan semua kekecewaannya, kekesalannya pada Arnoz. Walau sudah terlewati hari yang membuatnya patah hati, tetap saja luka di hatinya belum sembuh. Apalagi hampir tiap saat entah di kantin, lorong kampus, kelas Fara bertemu Arnoz. Untung saja Fara sudah hampir lulus, skripsi miliknya hampir selesai.


"Aku tahu kamu kecewa sama Arnoz, tapi bisakah kamu memberikan maaf untuknya? Kudo'akan kamu mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Arnoz." tunangan Arnoz bicara.


Fara diam tak merespon. Ia pun pergi mengacuhkan Arnoz dan tunangannya di sana. Hatinya masih rapuh, ingin rasanya Fara berteriak pada dunia mengatakan kerapuhan dirinya saat ini. Air mata Fara kembali menetes membasahi pipinya.


Ya Allah...berilah aku kekuatan. Mungkin ini teguran dari-Mu untukku. Aku telah melanggar perintah-Mu, aku salah menjalani hubungan ini. Aku sadar, aku belum menjadi muslimah yang baik dan taat pada perintah-Nya. Mulai detik ini, aku ingin berubah. Aku ingin melupakan masa laluku, berilah kemudahan untukku Ya Allah.


Dalam renungan Fara, ia menyadari semuanya. Hatinya bergerak untuk menjadi seorang perempuan muslimah yang taat dan patuh akan perintah-Nya.


* * * *

__ADS_1


Fara tampak menatap dirinya di cermin, hatinya mantap untuk berhijab. Allah benar - benar menggerakan hati Fara saat ini. Fara tersenyum menatap dirinya di pantulan cermin, melihat tampilan baru dirinya yang terbalut hijab dan pakaian tertutup. Walau belum seperti Mayra, Fara tetap berusaha memperbaiki diri.


* * * *


__ADS_2