KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
09• (Menjenguk Safa)


__ADS_3

"Nanti jadi ke kamar jengukin Safa nggak, May?"


Di tengah berlangsungnya pengerjaan soal, Kayla berbisik pada Mayra. Sudah dua hari ini memang Safa sakit. Dan itu membuat Kayla cukup sedih karena tidak ada yang dapat diganggunya. Kalau Mayra, bagi Kayla tidak mungkin. Baginya Mayra beda dari Safa.


Mayra hanya mengangguk sebentar dengan tangan yang tak berhenti menuliskan jawaban soalnya. Mendapati respons Kayla kembali mengerjakan soalnya yang mungkin tertinggal dari Mayra.


*****


Jam istirahat telah tiba. Mayra dan Kayla saat ini telah berada di kamar asrama mereka. Mereka berdua menghibur Safa agar tidak bosan. Mereka juga bersyukur karena kondisi Safa yang sudah lebih baik. Lagipun Safa hanya demam. Sebentar lagi pasti pulih.


"Assalamu'alaikum."


Salam terdengar. Seorang perempuan muda dengan jilbab segiempat besarnya berdiri di ambang pintu dengan senyum teduhnya. Dia adalah putri pemilik pesantren yang lebih sering dipanggil ustadzah daripada ning —panggilan untuk putri Kyai Jawa.


Ustadzah Aina.


"Waalaikumsalam, ustadzah." Tiga orang —Mayra, Kayla, Safa— di sana menjawab dengan sopan.


Ustadzah Aina menghampiri Safa. Ia meletakan obat paracetamol untuk Safa. Kebetulan paracetamol kemarin tersisa sedikit.


"Gimana keadaanmu, Safa? Sudah lebih baik?" Senyum teduh ustadzah Aina masih terukir.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Ustadzah." Safa sedikit segan disaat seperti ini. Canggung. "Panasnya juga sudah turun. Mungkin besok atau lusa bisa masuk madrasah lagi."


Ustadzah Aina mengangguk, lega mendengar penjelasan Safa.

__ADS_1


"May, kayaknya kita cuma nyamuk. Yuk pergi aja," bisik Kayla.


Mayra menghela napasnya, ia tersenyum simpul akan ucapan Kayla.


"Kalian tidak kembali ke kelas?" Sekarang giliran Mayra dan Kayla ditanya ustadzah Aina. Dua gadis itu tersenyum canggung. "Lima menit lagi bel, lho."


"Na'am (iya), ustadzah. Kami pamit sekarang." Mayra mencium punggung tangan ustadzah muda di depannya, diikuti Kayla.


Mereka berjalan dengan sedikit membungkuk dan sampai di luar asrama, mereka jalan biasa. Santri memang istimewa.


*****


Semburat jingga di cakrawala barat membuat sore ini terlihat indah. Angin berhembus, menerpa kulit wajah gadis berambut hampir sepunggung yang tengah berdiam diri di balkon.


Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat. Akan tetapi, netra mata hitamnya tak henti memandangi cakrawala negara tetangga tanah airnya.


Suara itu membuat Fara melepas pandangannya dari cakrawala alap sore ini, berganti ke arah seorang anak lelaki sebayanya.


Anak lelaki itu masih dengan seragam sekolahnya. Hari sudah hampir petang namun anak lelaki itu belum mengganti seragamnya, pasti kelayapan.


Tas ransel yang menggantung di bahu kiri anak lelaki itu ditaruh asal dekat kasur Fara. Dia memilih menghampiri Fara yang sedari tadi hanya memandangnya tanpa suara.


"The sky is beautiful."


Anak lelaki itu bergumam. Rupanya ia juga suka dengan pemandangan langit sore ini. Fara terus menatap teman lelakinya tanpa suara membuat empunya mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Non Fara," sapa seorang perempuan sedikit lebih tua dari Mamanya. Dia ART di apartemen keluarganya. Kebetulan orang Indonesia juga.


"Ada apa, Bi?" Fara menyahut.


"Mau makan malam apa, Non? Biar bibi buatkan," jawab ART. Fara terlihat berpikir sejenak kemudian ia hendak bicara namun sudah didului ART-nya. "Bapak sama Ibu pulang lambat, Non."


Rupanya ART Fara sangat peka. Ia tahu apa yang akan Fara lontarkan sebelum terlontar. Oh, sungguh Fara beruntung memiliki ART sebaik dan sepeka itu.


Sekilas Fara melirik teman lelakinya yang sibuk memotret langit jingga sore ini, lalu beralih ke ART-nya lagi.


"Terserah Bibi mau masak apa, yang penting ada makanan." Begitu jawaban Fara. Dan langsung direspons anggukan.


"Ngapain masih di sini? Nggak pulang, eum?" Fara bertanya kali ini.


"Oh, udah nggak marah lagi." Sahutan anak lelaki itu membuat Fara memukul lengan kanannya. "Marah aja terooss, cepet tua ntar."


Fara memutar bola matanya jengah. Nasib punya teman setanah air yang hobinya nyindir, ngegame sampai lupa waktu bahkan dia juga jahilnya minta ampun.


"Sana pulang! Apartmu sepi tuh," kata Fara sengaja mengusir tetangga apartemennya. Iya, mereka tetanggaan. Beruntung, bukan?


"Dasar tukang ngusir, tukang ngomel, tukang— AAWW!!" Dumelan anak lelaki itu berakhir pekikan karena Fara mencubitnya keras.


"Woyy!!!" Anak lelaki itu menatap kesal Fara. "Ngapain nyubit? Nggak ada apa selain nyubit, mukul, nabok, ninj—AAWWWW!!!"


Kali ini pekikan anak lelaki itu lebih keras dan panjang. Fara mencubitnya tak tanggung-tanggung.

__ADS_1


Dia pikir dicubit tak sakit apa?


Sakitnya sungguh WOW!!!


__ADS_2