
"InsyaAllah..."
Setelah kalimat itu terucap, senyum nenek terbit. Dua insan usia senja yang usai membahas duka lalu kini menatap gedung pencakar langit, pepohonan yang jarang terlihat bahkan kendaraan lain.
Ratusan bahkan ribuan kendaraan di jalan yang alus itu melaju mulus. Rodanya berputar ke mana tujuan si pengemudi. Ibaratkan Allah adalah pengemudinya, dan manusia kendaraannya.
Sepeeti itulah kehidupan ini. Banyak memberi kejutan, tawa, duka, hingga musibah tak terduga. Semua karena Allah. Dan, akan kembali pada Allah.
*****
Terlihat damai kala memandang barisan shaf yang penuh nan rapat diisi hamba Allah yang tengah khusyuk menghadap diri ke Sang Pencipta. Di mana semuanya dilaksanakan dengan urut, dari takbiratul ihram hingga tahiyat akhir.
Ada yang berbeda kali ini. Jika yang lainnya sudah bangkit dari sujudnya dan bertahiyat akhir. Mayra justru masih saja betah dengan sujudnya.
Dan yang berbeda lagi. Ketika semua memulai khusyuk wirid, gadis bermukena terusan warna putih dengan motif bunga biru masih menempelkan dahi dan hidungnya di bumi.
Membuat beberapa santriwati di dekatnya langsung cemas. Tak biasanya Mayra bersujud selama ini. Bahkan, ustadzah Aina sempat memanggil nama Mayra.
Satu detik!
Dua detik
__ADS_1
Tiga detik!
Belum berubah. Mayra tetap bersujud meski banyak yang mengerumuninya saat ini. Mengelilingi seorang gadis yang bersujud tapi tak bangun-bangun.
Air mata Kayla menetes. Ia menutup mulutnya agar suara isakan tangis yang semakin keras tak meluas. Ia menyentuh punggung Mayra. Lembut mukenanya terasa di telapak tangan Kayla.
"May ...!!"
Panggilan itu berasal dari Safa. Gadis itu sama seperti Kayla. Meneteskan air mata tanpa aba. Membuat suasana di sana menegang. Sangat tegang!
"Attahiyatul mubarakatussholawatut thoyyibatulillah...."
Perlahan santriwati yang mengelilingi Mayra kembali ke sajadah masing-masing. Hanya menyisakan ustadzah Aina, Kayla dan Safa di dekatnya. Mereka menunggu Mayra hingga salam.
******
Selembar handuk kecil yang sering digunakan untuk mengompres, kini menempel di dahi Mayra. Ada Kayla yang duduk di tepian kasurnya. Yang selalu mengompresinya menerus.
Jika air di handuk itu telah hilang, kembali Kayla celupkan di baskom kecil yang diambilnya.
Bibir Mayra sedikit pucat. Matanya tak seperti tadi dan hari sebelumnya. Kini mata itu terlihat sayu. Namun, satu hal yang tak pernah berubah meski kondisi Mayra sedang tak baik. Senyuman Mayra tak pernah tenggelam. Itu yang tak berubah.
__ADS_1
"Udah deh May, kamu ini lagi sakit. Banyakin istirahatnya jangan senyum melulu." Itu Kayla. Mencoba memecah hening di kamar asrama mereka. Karena santriwati lain sedang mengikuti kegiatan pesantren.
"Apa sih kamu, La?" Mayra semakin melebarkan senyum. Senyum hangat yang meneduhkan. "Kamu kenapa nggak turun? Mau bolos?"
Kayla cengengesan. "Peka banget, May. Nggak pa-pa lah sekali-kali. Aku di sini izinnya juga buat jagain kamu, May. Dan itu termasuk perbuatan baik, 'kan?"
"Iya, memang perbuatan baik. Tapi ... apa kamu nggak nyesel malam ini nggak ikut kajian kitab kuning di ndalem?"
Sekali lagi Kayla cengengesan. "Mana ada nyesel, May? Justru senanglah aku. Soalnya lolos dari—"
"Kayla!" Panggilan itu menolehkan dua gadis di sana. Ada ukhti Indah. "Kamu kenapa di sini? Gih ke ndalemnya Abah."
Pupuslah sudah harapan Kayla lolos dari tes kitab kuning yang pasti akan menimpanya. Kayla berubah lesu.
.
.
.
Satu emoji dari part ini: 😂
__ADS_1