
Furqon mengangguk, "Iya, Bah. Furqon ngerti kok. Do'akan saja yang terbaik untuk Furqon, Abah, Umi."
"Pasti, Nak."
Furqon kembali terfokus mengemudi mobil. Senyuman masam tampak di wajahnya, ia benar-benar bimbang. Namun tiba-tiba saja dirinya teringat akan Mayra dan surat Kayla, hal itu membuat dirinya frustasi. Furqon menghela nafasnya guna meringankan beban yang ada.
Di lain sisi, tepatnya di kediaman Om Candra dan Tante Rika. Di jam istirahat makan siang kali ini, Om Candra dan Tante Rika makan siang di rumah. Kebetulan juga kelas Meyna telah selesai, jadi ia bisa pulang lebih awal dan makan siang bersama di rumah. Di sela makan mereka, mereka tampak membicarakan prihal Mayra.
Mereka tampak tidak sabar untuk menyambut kedatangan Mayra di rumah ini. Rindu berat begitu mereka rasakan pada Mayra begitupun dengan Fara kemarin. Raut bahagia terpancar dari wajah mereka semua. Meja makan terlihat begitu ramai dengan canda tawa mereka.
Bi Ina kali ini ikut makan siang bersama mereka. Fara sengaja mengajak Bi Ina makan siang bersama di sana, anggap saja perayaan menyambut kedatangan Mayra yang pulang hari ini ke Tanah air.
Setelah makan siang bersama usai, Om Candra dan Tante Rika pamit untuk kembali bekerja di empu masing-masing. Sementara Fara dan Meyna, mereka menonton acara televisi sambil memakan cemilan yang ada. Terlihat kehangatan antara adik dan seorang kakak.
* * * *
Kini Furqon sekeluarga telah tiba di pesantren As Salam. Mereka langsung beristirahat di kamar masing-masing, karena perjalanan dari Jombang cukup melelahkan. Baru sejenak istirahat, adzan dhuhur berkumandang. Para santri santriwati dan penghuni pesantren lainnya bergegas pergi ke masjid.
__ADS_1
Begitupun dengan para santri santriwati As Salam 2, mereka langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur berjama'ah. Kayla yang tertidur setelah menangis hampir setengah hari, ia pun terbangun mendengar adzan berkumandang. Di usap-usapnya matanya yang terlihat sayu, kemudian bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Safa dan Jihan yang baru saja masuk, telah mendapati Kayla yang baru keluar dari kamar mandi mengambil air wudhu. Safa dan Jihan hanya tersenyum menatap Kayla.
"Kay, yuk ke masjid sekarang! Udah mau iqomah soalnya," ajak Safa.
Kayla mengangguk, "Yuk!! Eh tapi kalian udah selesai ngebersihin aula kan?"
"Udah" jawab Safa dan Jihan bersamaan.
"Ya udah, sekarang langsung ke masjid aja. Yuk!" ucap Kayla diangguki Safa dan Jihan.
Suasana asri nan sejuk rindangnya pepohonan membuat mata sayup-sayup mulai terkantuk. Suasana ini sangat cocok untuk mengistirahatkan raga yang lelah dan sangat mendukung untuk merenung sendiri. Setelah melaksanakan sholat dhuhur berjama'ah, Furqon pergi ke taman belakang pesantren.
Kebetulan juga ia tidak ada jadwal mengajar mengaji siang ini. Seorang diri Furqon pergi ke taman untuk merenung. Benaknya mulai kembali memutar pernyataan ta'aruf yang ditawarkan Abahnya beberapa waktu lalu tadi. Bimbang, bingung yang sedang dirasakan Furqon kali ini.
Namun, ditengah keheningan suasana taman yang disertai angin sepoi-sepoi dan suara mengaji di speaker masjid pesantren tiba-tiba Alif mengejutkan dirinya. Yang membuat Furqon hampir jantungan justru tertawa tak berdosa. Melihat raut wajah Furqon, Alif dapat menyimpulkan jika temannya sedang ada masalah.
__ADS_1
Alif berniat untuk bertanya, namun ia ragu. Ragu saja untuk bertanya prihal masalah yang sedang menimpa Furqon. Raut kusut tak nyaman begitu tampak, Alif yang melihat saja rasanya pun ikut jenuh. Melihat Alif diam, Furqon sejenak menatap ke arahnya. Ia heran, tumben sekali jiwa kepo Alif tak meronta.
"Lif, apakah tahun ini kamu ada rencana untuk naik pelaminan?"
Tiba-tiba Furqon bertanya seperti itu hingga Alif hampir tersedak saliva nya sendiri. Alif menatap Furqon bingung dan heran. Furqon menatap Alif yang juga sedang menatap ke arahnya dengan sorot mata bingung.
"Maksudmu mencari pendamping? Kalau soal itu, aku pasrahkan saja sama Allah. Tumben ngomongin soal pendamping, ada apa?" Alif mengernyit.
Furqon menatap kosong ke bawah, ia menjadikan tangannya untuk menopang wajahnya yang kusut bimbang.
"Fur, apa jangan-jangan Abahmu menyuruhmu untuk mencari pendamping? Betulkan?" tanya Alif kembali.
Furqon mengangguk, memang benar jika Abahnya ingin ia memiliki pendamping. Lebih parah lagi bahwa Abahnya sudah memiliki calon untuknya, yaitu putri Kyai Abdillah.
"Abah hendak menta'arufkan aku dengan putri Kyai Abdillah," jawab Furqon berat.
Alif terkejut, "Benarkah? Jadi, tadi kalian ke Jombang ingin membicarakan soal ta'aruf itu?"
__ADS_1
Furqon menggeleng, "Awalnya hanya berbicara biasa saja di sana, Abah hanya ingin tilik sahabat almarhum Pakdhe. Tapi lama-lama makin kececer kemana-mana, ya sampai niat ta'aruf itu."
Alif mengangguk-ngangguk, "Lalu bagaimana pendapat mu, apa kamu menerima ta'aruf itu? Atau jangan-jangan - - -" Alif tersenyum