KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
53• (Usikan)


__ADS_3

Ddrrrrssss!


"Allahumma soyyiban nafi'an (Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)."


Netra hitam kecoklatan Mayra memandang ke arah jendela, menyaksikan hujan turun amat lebat di malam ini. Pun tangannya melipat mukena dan sajadah yang usai ia kenakan untuk salat isya'. Dan, meletakkannya di atas nakas.


Setelahnya, Mayra berjalan ke meja belajar. Ia memilah buku dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Lantas, Mayra pun duduk dan berkutat dengan PR-nya.


Tok!!


Sekali ketukan pintu, disusul pintu yang dibuka dari luar. Tampak Fara melongokkan kepalanya ke dalam kamar Mayra dengan menyengir.


"Lagi ngerjain PR tadi siang, ya, May? Boleh masuk nggak, nih?"


Meski Fara melontarkan pertanyaa, ia tetap masuk ke dalam kamar Mayra dan duduk bersila di atas kasur Mayra. Kalau begitu buat apa bertanya; Boleh masuk nggak, nih?


"Iya, Ra. Kamu udah?"


"Iya belumlah, May! Aku kok udah, mana mungkin!?" timpal Fara. Tangannya membuka buku yang ia bawa dari kamar. "May, betewe gimana sama tawaran Kak Zikra?"


"Aku belum mutusin jawaban, Ra," jawab Mayra fokus ke bukunya, menuliskan tiap jawaban soal.


"Mending terima aja deh, May. Aku yakin kamu bisa diandelin dalam lomba tartil itu," kata Fara yang juga menuliskan jawaban tiap soal. "Kamu 'kan pernah mondok. Jadi ... ya, gitu deh. Pokoknya kamu bisa diandelin."


Tidak mendapat respons Mayra membuat Fara menghela napasnya. Mungkin lebih baik sekarang, ia kerjakan dulu PR-nya. Toh, ngobrolin lomba yang Zikra tawarkan pasti tidak ada habisnya.


Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam kurang lima belas menit. Mayra dan Fara sama-sama menutup bukunya.

__ADS_1


"May, tau nggak? Reynar itu sekarang berubah tau!"


Mayra duduk di kursi meja belejarnya dengan posisi menghadap Fara. Ia diam, ingin mendengarkan lebih lanjut cerita Fara.


"Masa, ya, tadi 'kan aku sama dia mampir dulu ke cafe, nah tiba-tiba pas mau magrib dia ngajak pulang."


Kali ini Mayra mengerutkan dahi.


"Aneh dia, May! Biasanya juga dia yang lupa waktu sekarang sayang waktu."


Dalam benak Mayra sekarang, Reynar berubah harusnya didukung. Kalau dulunya ia suka lupa waktu, sekarang menghargai waktu, itu perubahan yang baik. Dan, memang seharusnya kita bisa menggunakan waktu kita dengan baik. Waktu adalah emas. Waktu amat berharga, bukan?


"Kamu itu, ya, Ra aneh!" kata Mayra disambut kerutan dahi oleh Fara. "Seharusnya kamu acungin jempol. Lha ini? Kamu pasti ketawain dia, ya?"


Fara menyengir, itu tandanya benar.


Rupanya Fara sudah tahu. Ya, meskipun Mayra lebih dulu mengetahuinya. Mayra pun mengangguk dan berkata; "Do'akan dia supaya mampu mengikhlaskan ibunya. Nggak baik meratapi kepergian seseorang, justru malah menyiksanya di sana."


******


Bagai pelari maraton, waktu berputar dengan cepatnya. Hingga tidak terasa hampir satu minggu Mayra mempersiapkan diri untuk lomba tartil Qur'an mewakili sekolahnya.


Insya Allah, aku terima tawaran Kak Zikra kemarin.


Sejak hari di mana Mayra mengutarakan jawabannya atas tawaran Zikra. Saat itu pula hampir tiap jam istirahat Zikra mengunjunginya. Namun, dibalik itu semua para fans Zikra sering mengusik Mayra.


Namun, hingga detik ini hari ini tidak ada yang Zikra tahu dari kelakuan fans-nya yang amat mengidolakannya, yang ternyata telah menganggu kedamaian seseorang. Zikra memang salah satu dari sekian siswa populer di sekolah. Wajar kalau ia memiliki penggemar.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan tadi, bahwa Mayra tidak jarang diusik para penggemar Zikra. Maka hari ini, adalah salah satunya.


Mayra yang usai dari musalla—latihan untuk lomba— saat ia menuju bangkunya, Mayra dikejutkan dengan noda merah—sirup yang sengaja ditumpahkan— di atas mejanya. Reflek gadis berjilbab coklat itu memekik kaget.


"Astagfiirullah ... ya, Allah kenapa semakin hari semakin menjadi saja mereka?" Mayra hanya mampu bersuara dalam hati.


"MAY, KAMU DICARIIN KAK ZIKRA!!"


Teriakan Fara menggema di kelas yang hanya ada beberapa murid di sana. Fara menghampiri Mayra yang tidak menoleh sekalipun padanya.


"May—Ya ampun, ini apaan, May!!? Kamu diusik lagi!!?!"


Fara memekik kaget sama seperti halnya Mayra tadi. Fara menatap wajah Mayra yang masih syok. Sungguh, Fara adalah saksi usikan demi usikan yang diberikan pada Mayra.


"Kita harus kasih tau kak Zikra, May!! Dia berhak tau ulah penggemarnya ini!"


Mayra menggeleng lemah dengan sorot ... ntahlah, siapapun yang menatapnya tak mampu menukil makna di sorot tersebut.


"Jangan ... nggak usah, Ra. Aku nggak apa, kok."


.


.


.


Lolos revisi 22 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2