
Seiring waktu berjalan, hari di mana menjadi hari selanjutnya dari hari lalu kian berganti. Lima menit lalu, di salah satu bangku kelas santriwati Mayra mendudukan diri. Saat ini ia fokus dengan beberapa buku di atas mejanya. Membaca berulang-ulang, menghafalnya, dan terus begitu.
Suatu keheranan bagi Mayra saat ia masuk kelas ternyata tidak ada yang mengikutinya lagi. Tak ingin buang waktu, Mayra memilih belajar untuk persiapan ujian hari pertamanya.
Materi yang dipaparkan jauh sebelum ujian tiba, Mayra catat dengan rapi di buku. Meringkasnya pun ia lakukan. Dan kini ia kembali mempelajarinya bersama buku lks dan buku paket. Terus mengulang hingga paham, meski melelahkan.
"Assalamualaikum, May."
Salam itu sontak menyita perhatian Mayra. Fokusnya dari buku teralihkan oleh dua gadis yang merupakan sahabatnya.
Safa duduk di bangku samping Mayra, dan memulai membuka bukunya yang eejak datang sudah terbuka. Sementara Kayla, ia duduk di bangku depan Mayra dan menenggelamkan wajah di lipatan tangannya.
"Safa ..." Mayra menoleh ke Safa. Hendak bertanya. "Kayla kenapa kusut gitu? Kalian tengkar lagi di kamar mandi?"
"Ikh, nggaklah, May! Hari ini tuh aku niat damai dulu karena hari pertama ujian," balas Safa. "Coba kamu tanya langsung, May."
Mayra menatap Kayla yang masih diposisi yang sama. Meneenggelamkan wajahnya yang terlihat kusut.
__ADS_1
"Kayla ..." Mayra memanggil lirih Kayla. Ia tak mau jika panggilannya menganggu. Hingga Kayla menoleh ke belakang membuat Mayra kembali bicara. "Kamu kenapa kusut gitu?"
Kayla menghela napas berat. Ia menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Menyembunyikan sebuah rasa yang sebenarnya tak ingin diungkapkan.
"Aku nggak pa-pa, May. Nggak pa-pa..." Suaranya terdengar putus asa. Masih saja menunduk lesu.
"Aku nggak yakin kamu nggak pa-pa, La," sanggah Mayra. "Kamu putus asa banget kelihatannya, kenapa? Kamu belum belajar?"
Seketika Kayla langsung menutup wajahnya kembali. Ia terisak dibaliknya. Tebakan Mayra melesat tepat.
"Kamu kok bisa tahu sih, May!?" kata Kayla membuka wajahnya kembali. "Aku putus asa hari ini dan seterusnya, May. Aku takut sama orangtua aku kalau tahu seandainya aku nggak lulus, May. Aku nggak tahu gimana lagi buat semangat. Aku putus asa."
"Hari ujiannya nggak cuma hari ini, La. Masih ada hari lain, yang bisa kamu gunakan untuk memperbaiki hari ini," ujar Mayra. "Mulai nanti malam, kamu belajar sama aku, ya? Dan Safa juga bakal bantu kamu. Kamu harus optimis!"
Safa yang tadinya fokus menghafal kini menatap ke Mayra dan Kayla. Metasa namanya dipanggil, pasti ia juga dikaitakan dengan topik percakapan mereka.
"Ada apa, May?" tanya Safa.
__ADS_1
"Kamu mau 'kan belajar bareng sama aku sama Kayla?" tanya Mayra. "Dia kusut karena putus asa, mikirin lulus atau nggak nanti. Tapi, InsyaAllah aku yakin kita bakal lulus."
"Iya May, mau," balas Safa. Apa salahnya belajar bersama? Bukankah seru dan bisa menambah pemahaman karena bisa saling bertukar pendapat, saling bertanya ini-itu.
"Makasih ya, kalian sahabat until Jannah-ku terthe best!" kata Kayla yang mulai menorehkan senyumnya.
*****
"Mad silah qasirah. Mad silah tawilah. Mad lazim musaqal kilmi..."
Jam istirahat usai ujian jam pertama telah tiba. Kali ini Mayra, Kayla, Safa tidak keluar. Mereka masih betah di bangku masing-masing dengan buku dihadapan.
Kayla, yang biasanya antusias menggeret Mayra dan Safa untuk jajan. Kini duduk manis dengan bukunya. Membaca tiap definisi hukum bacaan Mad. Dan yang ia baca adalah macam jenis Mad Far'i (Mad cabang).
.
.
__ADS_1
.
Lolos Revisi👌