KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
55• (Like or admire her(?))


__ADS_3

"Since when is Rey here, May?"


"Baru kok, Ra."


Dua gadis yang berada di ruang keluarga itu tengah membicarakan tamu mereka. Ya, pertemuan di senja beberapa waktu lalu tadi membuat Reynar mau tidak mau melipir singgah sejenak ke rumah kakek-nenek Mayra dan Fara.


Reynar memang menolaknya tetapi tolakannya justru semakin membuat nenek kekeuh menyuruhnya mampir. Dan, jadilah ia berada di antara kakek dan nenek di ruang tamu.


Mayra dan Fara memilih menguping di ruang keluarga. Kalau mereka keluar, pasti kakek dan nenek tidak berhenti menanyai. Dan, tentunya semakin membuat Reynar berada di sana lebih lama lagi. Ini pun sudah lama karena waktu magrib sepuluh menit lagi akan tiba.


"Nak Rey ini satu sekolah dengan Mayra, tah?"


Kakek melontarkan pertanyaan membuat Mayra dan Fara diam, mendengarkan percakapan di ruang tamu.


"Nggak, Kek. Tapi, dulu saya satu sekolah sama Fara di Singapura."


Kakek nenek saling melempar pandang. Ternyata pemuda remaja di depannya ini adalah teman cucu-cucunya.


"Wah, ternyata Nak Rey sudah kenal cucu nenek itu. Kalau boleh tau, Nak Rey kenal Mayra di mana?"


Herannya, ya di bagian Reynar mengenal Mayra. Yang jelasnya sewaktu SMP mondok, dan SMA tidak satu sekolah.


"Kenal di bus, Nek."


Kembali, kakek nenek melempar pandang. Fara yang menguping pun sudah tidak heran jika Reynar mengatakan itu. Sebab, ia sudah lebih dulu tahu mengenai hal tersebut jauh dari kakek dan neneknya.


Allahu akbar Allahu akbar...


Asyahdu an laa ilaha illallah Asyahdu an laa ilaha illallah...


Suara azan magrib menggema samar-samar. Membuat siapa pun yang mendengarnya terdiam. Bacaan azan yang begitu syahdu memang selalu mampu menggetarkan hati. Membangunkan para insan di bumi agar lekas menunaikan salat pada Sang Ilahi.


Laa ilaha illallah....


Tepat azan selesai dikumandangkan. Kakek mengangkat pandangannya ke Reynar.


"Nak Rey salat magrib di sini saja, gimana?" tawar Kakek.


Reynar merasa sungkan, namun ia juga tidak enak untuk menolaknya. Hingga akhirnya, ia berada di belakang shaf kakek dan di depan shaf nenek, Mayra, Fara, serta ART. Enam orang di musalla kecil rumah keluarga Pernama itu menunaikan salatnya penuh kekhusyu'an.

__ADS_1


Usai salat, masing-masing ada yang dzikir atau pun berdo'a. Hingga di musalla menyisakan Mayra, Reynar dan ART. Karena kakek, nenek dan Fara sudah lebih dulu meninggalkan musalla usai menengadahkan tangan tadi.


"Non Mayra, saya pamit dulu, ya?"


Mayra ingin menahan namun, tatapan Reynar membuatnya mengurungkan niat. Mayra menunduk dalam detik itu juga.


"Lo ... sekarang udah nggak pernah naik bus, ya? Ah, ya, gue udah tau kalau lo sama Fara selalu dijemput."


Reynar bertanya tapi dijawab sendiri pula. Mayra perlahan melipat sajadahnya. Ia ingin keluar secepatnya karena ia hanya berdua dengan Reynar di musalla.


"Lo kenapa, sih, kek-nya takut banget sama gue!!? Tampang gue brandal banget, apa?"


"Bu-bukan gitu maks—"


"Mayra lagi jaga pandangannya, Rey."


Fara yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu musalla membuat Mayra dan Reynar menoleh bersamaan. Gadis dengan rambut diikat cepol itu tetap berada di posisinya.


"Wah, lo keterlaluan banget, Ra! Bikin heart attack dadakan orang tau nggak!!"


Fara tertawa. "Emang udah peyot kamu, ya, Rey! Cuma gitu aja heart attack, gimana kalau kena bom?!" Fara mengakhiri kalimatnya dengan tawa jua.


"Heh, odong! Ini lo lagi ditegur, malah ketawa! Nggak ada adab emang!"


"Bodo!"


Kembali, Fara menekuk wajahnya. Ia memandang Mayra yang sedari tadi tidak terganggu dengan ocehannya dan Reynar.


"Maaayyy ... belain aku dong! Kamu mah serasa dunia milik sendiri," kata Fara.


Mayra mendongak, ia hanya menatap wajah Fara yang cemberut. "Aku ke kamar duluan, ya, Ra. Assalamualaikum."


Tepat Mayra melewati Fara, tangannya ditahan. Membuat dua gadis itu melempar pandang, namun buru-buru Mayra memutusnya dengan memandang lurus ke depan.


"Kamu ... kenapa, sih, May? Bukannya belain aku dari Rey, kok malah kayak menghindari kita?" tanya Fara.


Mayra menggeleng dengan senyumnya. "Jangan suka menerka-nerka, Ra. Kamu pasti tau 'kan apa yang aku lakuin sehabis magrib?"


"Baca Qur'an sampai isya', 'kan, May?"

__ADS_1


Mayra mengangguk. Ia melepaskan tangan Fara dari tangannya, dan berlalu pergi menuju kamar.


Musalla yang memang dekat dengan taman belakang rumah. Membuat Fara dan Reynar kini duduk di ayunan taman sembari menghitungi gemintang di cakrawala malam.


"Ra ... emang sealim itu, ya, sepupu lo?"


Fara tersenyum, masih memandang langit malam yang bercahaya. "Kenapa, Rey? Kamu nggak percaya kalau dia setaat dan serajin itu?"


"Hah!?" Reynar tersentak ntah mengapa. Yang jelas ia gelagapan dengan pertanyaan Fara. "Bukan nggak percaya Ra, tapi kok masih ada sosok dia jaman sekarang."


Fara menatap Reynar yang juga menatapnya. Senyum Fara tidak luntur membuat Reynar mengalihkan pandangannya ke langit.


"Kamu suka, kagum, atau apa sama Mayra, Rey?"


Reynar reflek menoleh dengan mata membelalak. Sungguh, ia tidak begitu paham akan pertanyaan Fara yang satu ini.


Reynar tersenyum miring tipis. "Gila aja lo, Ra! Gue suka sama dia, sepupu padi kuning lo itu?!" katanya. "Ya nggaklah, Ra!"


"Masaaaa ...."


"Iyaaaa. Lo itu lihat aja sepupu lo itu. Dia taat dan ngerti agama. Sedangkan gue?" Reynar mengangkat satu alisnya. "Jauh Ra, jauh banget."


Fara mengangguk-angguk. "Mulut bisa aja bohong, Rey. Tapi hati, nggak mungkin bohong."


"Aku tau gimana kamu mandang Mayra. Aku tau gimana kamu merhatiin Mayra. Aku tau kalau kamu berbeda kalau sama Mayra. Aku tau semua itu, Rey."


Reynar tersenyum miring (lagi). "Cuma karena itu lo nyimpulin gue suka sama Mayra, bahkan kagum?" katanya. "Emang sikap gue ke lo kelihatan kek musuh, ya?"


"Iya, nggak. Tapi, 'kan, aku tau kamu kayak gimana, Rey. Kita udah temenan sejak SD."


"Udahlah, gue mau balik. Males ngomong nggak jelas sama lo, Ra!"


Reynar bangkit dan meninggalkan Fara seorang di taman. Fara hanya memandangi kepergian Reynar hingga hilang ditelan jarak.


"I'm the one who's known you the longest."


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 24 Juni 2021


__ADS_2