KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
30• (Menemui)


__ADS_3

"Ibu beneran mau ke meubel? Nggak di rumah saja sama saya?"


Keinginan nenek sudah bulat. Tak bisa diubah meski dibujuk ini-itu. Nenek mengangguki pertanyaan ART-nya. Kali ini usai salat dhuha tadi, nenek putuskan untuk ikut kakek ke toko furniture atau meubel-nya. Sekalian pergi ke makam putra sulung dan menantunya.


"Ibu baik-baik di sana. Kalau bosen pulang saja ya, Bu!"


Nenek tersenyum sambil mengangguk. Mobil xenia perlahan meninggalkan halaman rumah. Menyisakan ART keluarga Pernama di teras, tetapi tak lama ia pun masuk.


Sepanjang perjalanan menuju rumah putra sulung dan istrinya, nenek dan kakek hanya saling diam. Suara radio mobil yang memperdengarkan berita terkini mengisi senyap ini.


Kakek sibuk, membuka tiap lembar kertas dalam map yang digenggamnya. Dan, nenek ia memandang bangunan pencakar langit, pohon di sekitar jalan, serta kendaraan lain yang silih bergantian dilewati.


Hingga waktu berlalu cepat, kini tiba juga di tempat tujuan. Papan bertuliskan "Tempat Pemakaman Umum" menyambut nenek dan kakek.


"Mama duluan, biar Papa yang beli bunganya," ujar Kakek saat mereka hendak memasuki area makam. Hanya anggukan yang nenek beri sebagai respons.


Perlahan nenek menyusuri makam-makam berbentu persegi panjang yang ditumbuhi rerumputan hijau terawat, hingga akhirnya nenek tiba di blok makam putra dan memantunya.


Nisan hitam bertuliskan nama putra sulungnya, nenek usap dengan mata berkaca-kaca. Lalu, matanya memandang nisan di samping nisan putranya, yakni nisan istri putra sulungnya. Orangtua dari Mayra kini telah hidup di alam dan kehidupan yang baru.


"Heru ... Mama masih ragu kalau ini rumahmu yang sekarang. Tapi, apa alasan Mama menyangkalnya?" suara batin Nenek menyendu. Saat ini nenek berjongkok di samping makam putranya.


"Ma, ini bunganya."

__ADS_1


Kakek berjongkok di samping istrinya. Ia menyodorkan sekantong pritilan kelopak bunga mawar dan putih yang tercampur.


"Makasih ya, Pa."


Nenek menaburkan kelopak bunga mawar itu di atas rerumputan hijau makam putra dan menantunya bergantian, dibantu kakek yang menaburkan di makam menantunya, Ratna.


Setelah itu, tak ada pergerakan lagi dari sepasang insan senja di sana. Hanya ada hening dan air mata yang diam-diam membasahi pipi nenek.


"Heru ... Mama di sini menemuimu. Mama kangen kamu, Nak. Mama kangen kamu dan Ratna. Kalian bahagia di sana, ya. Semoga Allah menempatkan kalian di Surga-Nya."


Suara dari lisan memang tidak ada, tetapi suara batin sendu nenek mengiringi air matanya yang semakin menetes deras. Hingga akhirnya, hening selama setengah jam itu dihilangkan. Nenek dan kakek memutuskan pergi dari sana sebelum hari semakin terik.


*****


Saat itu juga Mayra hampir menjatuhkan buku bahasa Arab yang dipegangnya. Ia terpelonjak kaget dengan suara Kayla yang mengusik lamunannya. Yang buat ulah hanya cengengesan sembari bergabung di samping Mayra.


Mayra menunduk, kali ini pemandangan yang ia amati daritadi sudah tak menarik baginya. Kayla, ia mengayun-ayunkan kakinya. Memandang bentangan pemandangan elok di hadapannya.


"May ..." Kayla menoleh ke samping, menatap Mayra yang fokus membaca buku.


"Iya?"


"Tumben banget Safa nggak ada di sini, ke mana?" Kayla mengerutkan dahinya. Sejak bel istirahat berbunyi—menjadi jeda antara jam ujian satu dan dua— ia tak melihat Safa.

__ADS_1


"Safa ikut Mbak Puja ke warung, La," jawab Mayra masih fokus ke buku. Membaca tiap kata berbahasa Arab yang akan menjadi ujian keduanya.


"Ah, ngapain? Pasti minta traktiran Mbak Puja, ya?" tebak Kayla.


"Jangan su'dzon La, nggak baik apalagi sama teman sendiri. Sahabat until Jannah-mu juga, 'kan?" kata Mayra yang kini menatap Kayla.


"EH, MAY KAMU ABIS NANGIS??!" Kayla memekik terpaksa Mayra membungkam mulutnya. Suara cempreng Kayla pasti menggema di mana-mana.


Setelah melepaskan bungkamannya, Mayra berkata, "Sssttt ... nggak kok, kata siapa? Tadi ada pasir terbang mungkin."


Kayla terkekeh. "Pasir terbang, kenapa nggak sekalian sapi terbang, May? Biar sama-sama adil. Kalau sapi seberat itu juga bisa diterbangin angin, bukan cuma pasir, debu sama daun doang!"


"Terserah kamu, La." Mayra menghela napas. "Tapi ... makasih ya udah dibikin senyum, La."


Kayla mengangguk-angguk. "Nggak aku bilang gitu pun kamu tetap senyum kok, May. Kamu 'kan sahabatku paling lenjeh!"


.


.


.


LENJEH/ ORANG YG MURAH SENYUM.

__ADS_1


__ADS_2