
Tatapan Mayra terpaku disebuah figura yang terpajang di dinding ruang tamu. Ia menghela nafasnya pelan, mencoba menerima kenyataan yang tidak pernah ia duga akan terjadi secepat ini.
"Mayra"
Panggilan seseorang membuat Mayra menoleh ke sumbernya. Mayra tersenyum sendu dan langsung berhambur ke pelukan sang Tante.
"Tante Rikaaa" Mayra memeluk Tantenya dengan hati yang sedih.
Tante Rika mengusap lembut kepala Mayra, ia memberi pelukan hangat untuk keponakannya.
Cukup lama berpelukan untuk saling menguatkan dan juga berbagi kesedihan, Mayra menyalimi Tante Rika.
"Maafkan Mayra, Tant. Mayra terlambat datang ke tanah air." ucap Mayra sendu.
Tante Rika mengangguk, "Tidak apa, Mayra. Apa setelah ini kamu mau menjenguk Kakek?"
"Iya, Tant. Mayra merasa sedih tidak ada disamping Kakek saat sakaratul maut menjemputnya. Hiks.. hiks..." Mayra terisak sendiri.
Tante Rika mengusap air mata Mayra, "Yang terpenting do'amu untuk Kakek tidak lepas. Sekarang kamu istirahat dulu saja ya, nanti sore kamu pergi ke rumah Kakek."
"Ndak, Tante. Mayra akan jenguk Kakek sekarang saja, Mayra ingin segera bertemu Kakek dan mendo'akannya." balas Mayra.
"Jangan, Mayra! Kamu ini habis perjalanan jauh, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Apa kamu akan ikut ke wisudanya Meyna?" ucap Tante Rika.
Mayra yang menunduk langsung mendongak, ia baru ingat jika hari ini Meyna lulus dari jenjang aliyah/SMA.
"Astagfiirullah, aku sampai lupa Tant. Mayra ijin ikut ya, Tant? Mayra juga ingin melihat Meyna pakai toga, Mayra ingin menggantikan Kakek." ucap Mayra memohon.
Tante Rika menghela nafasnya, kemudian mengangguk.
"Sekarang istirahat dulu!, nanti sebelum berangkat ke ponpes kita mampir ke makam Kakek. Acara wisudanya ba'da isya' kok." ucap Tante Rika kembali.
Mayra mengangguk.
Saat Mayra melangkah ke tangga untuk ke kamarnya, Meyna terlihat turun dari tangga. Senyuman Mayra berikan pada adik angkatnya.
"Kak Mayra?! Kakak baru dateng ya?" ucap Meyna.
"Mey, bagaimana kabarmu? Iya, Kakak baru datang." balas Mayra.
"Alhamdulillah baik, Kak. Kak Mayra ikut ke acara wisudaku kan?"
Mayra mengangguk disertai senyuman manis.
"Mey, biarkan Kak Mayra istirahat dulu ya. Kamu juga istirahat saja, nanti sore kita akan berangkat ke ponpes." ucap Tante Rika.
"Iya, Tant."
"Kak, yuk istirahat! Sini aku bantu bawakan kopernya." ucap Meyna pada Mayra.
"Tidak usah, Mey. Syukron sebelumnya, yuk naik!" balas Mayra lembut.
Mayra dan Meyna pun melangkah ke kamar masing - masing.
* * * *
Kairo, Mesir..
Furqon sedang asik membaca bukunya sambil ditemani oleh Alif, sahabatnya disana. Namun, pikiran Furqon tidak fokus ke buku yang ia baca. Dalam benaknya terbesit oleh Mayra, ia memikirkan perasaan yang ia pendam untuk Mayra.
Hingga dirinya tersadar dan langsung beristigfar.
"Astagfiirullah"
__ADS_1
Alif menoleh ke arah Furqon, ia mengernyit melihat Furqon beristigfar.
"Kamu kenapa, Fur? kok istigfar." ucap Alif.
Furqon salah tingkah, "N-ndak apa kok, Lif. Cuma lagi kurang fokus aja pikiran ku."
Alif tersenyum, ia seakan bisa menebak pikiran Furqon.
"Pasti kamu mikirin si Mayra kan? Ngaku ajalah kamu, Fur. Daripada kepikiran terus mending langsung halalin aja." ucap Alif menjahili Furqon.
Furqon tersenyum, "Kamu ini, Lif. Bisa saja kalau bicara, memang ngehalalin itu mudah hmmm? Kamu juga pikirin diri kamu sendiri sana, cepat cari pasangan. Masak mau terus - terusan nempel aku, dikira jeruk makan jeruk."
Alif tertawa "Ha ha ha, ada - ada saja kamu, Fur. Aku ini juga normal, Fur. Ndak mungkin aku jeruk makan jeruk, dasar kamu!"
Furqon geleng - geleng kepala.
"Sudahlah, Lif! Aku mau lanjut baca lagi, kamu juga ingat kan satu pekan lagi kita lulus?" ucap Furqon diangguki Alif.
"Setelah lulus, kamu mau pulang ke Indonesia? atau mau lanjutin S2 mu, Fur?" tanya Alif.
Furqon diam sejenak, ia hampir lupa untuk menentukan pilihan selanjutnya. Furqon berbeda usia dua tahun dengan Mayra, tentu Furqon lulus lebih dulu daripada Mayra.
"Sepertinya aku pulang ke Indonesia, Lif." jawab Furqon ragu - ragu.
"Kok ragu, Fur? Apa yang membuatmu bimbang?" balas Alif.
Furqon menggeleng membuat Alif menghela nafasnya.
Apakah aku ta'aruf saja Mayra? Sudah hampir tiga tahun aku memiliki rasa padanya, tapi aku belum berani mengutarakannya. Ya Rabb.. jika ia adalah jodoh dari-Mu maka satukanlah, jika ia hanya sekedar pengisi hatiku yang kosong maka biarkan aku ikhlas melepaskan.
batin Furqon.
* * * *
Tidak lupa sebelum pergi mengunjungi makam Kakek di blok G, Mayra membeli bunga untuk ditabur dimakam Kakek nantinya.
Gundukan tanah yang terlihat masih basah dengan taburan bunga - bunga yang masih segar pula, menyambut kedatangan mereka.
Perlahan Mayra berjongkok disamping makam yang baru berpenghuni sehari itu, makam itu adalah milik Kakek. Om Candra, Tante Rika, dan Meyna ikut berjongkok bersama Mayra. Mata yang semula tidak berair kini menjadi berair.
Mayra menitikkan air matanya sambil menabur bunga yang telah ia beli diatas gundukan di depannya. Selanjutnya, Mayra mengusap batu nisan Kakek dengan lembut dan gemetar. Air matanya kembali menetes, lainnya pun sama.
Kakek, Mayra hari ini hadir menjenguk Kakek dirumah baru Kakek. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilaf Kakek dan semoga amal ibadah yang Kakek lakukan semasa hidup, diterima oleh Allah SWT. Ku berdo'a semoga kubur Kakek selalu diterangkan, semoga malaikat tidak menyiksa Kakek dikubur. Aamiin....
Selang beberapa detik, Mayra membacakan surah yasin dan berdo'a pada Sang Ilahi untuk Kakek. Harapan keluarga, sang almarhum tenang disisi-Nya.
Setelah dari makam Kakek, mereka pun melajukan mobilnya menuju pesantren As Salam. Sebelum benar - benar meninggalkan makam Kakek yang masih basah, Mayra dan yang lain menatap dengan air muka sendu. Tante Rika juga sempat memeluk batu nisan Kakek.
Saat hendak pergi, langkah mereka terhenti saat Pak Sanjaya menghampiri mereka. Raut wajah Om Candra seketika langsung tidak bersahabat.
"Assalamualaikum" salam Pak Sanjaya.
"Waalaikumsalam"
Mayra, Meyna, Tante Rika mengatupkan kedua tangan mereka. Sementara Om Candra dengan wajah datarnya, bisa diartikan jika Om Candra masih dendam pada Pak Sanjaya.
"Maaf, saya datang terlambat untuk takziah. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Pernama." ucap Pak Sanjaya.
"Terima kasih telah takziah, Pak Sanjaya. Mohon maafkan segala kesalahan almarhum Papa saya ya." balas Tante Rika.
Pak Sanjaya mengangguk.
"Seharusnya Anda yang minta maaf. Anda adalah orang licik yang selalu ingin keluarga kami bermasalah bukan? Anda pun yang membuat keponakan saya hampir kehilangan nyawanya, karena kehabisan banyak darah." ucap Om Candra dingin.
__ADS_1
Tante Rika mengusap lengan suaminya untuk meredam emosinya.
"Can, saya benar - benar khilaf sekarang. Saya menyesal melakukan itu, saya akan menanggung semua itu di akhirat kelak." ucap Pak Sanjaya menyesal.
"Harus!" ucap Om Candra mantap.
Melihat suaminya tersulut emosi dan takut membuat keributan di TPU, akhirnya Tante Rika berpamitan.
"Maafkan suami saya, Pak. Kami pamit dulu, Assalamualaikum"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Pak Sanjaya menatap kepergian Mayra dan yang lainnya. Ia hanya bisa menghela nafasnya melihat Om Candra, putra bungsu Kakek belum bisa memaafkan nya.
* * * *
Setelah perjalanan beberapa jam dari Jakarta menuju pesantren As Salam, kini mereka tiba juga ditempat tujuan. Panggung, tenda, dan kursi sudah menempati halaman pesantren As Salam. Acara wisuda memang sengaja dilaksanakan malam hari, seperti acara wisuda tahun sebelumnya.
Mereka berkunjung ke rumah Bu Nyai terlebih dahulu.
"Assalamualaikum"
Bu Nyai keluar dari dalam rumah dengan senyuman ramahnya.
"Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabbarakatuh." jawab Bu Nyai ramah.
Mayra dan Meyna mencium tangan Bu Nyai. Sedangkan, Tante Rika dan Om Candra mengatupkan kedua tangan mereka didepan dada.
"Mari masuk, ayo silahkan - silahkan!" ucap Bu Nyai.
Mayra dan yang lainnya mengangguk.
Mereka duduk diatas karpet yang lebarnya hampir menutupi seluruh lantai ruang tamu. Baru saja mereka duduk, tiba - tiba perempuan paruh baya yang sedikit lebih muda dari Bu Nyai datang dengan membawa nampan.
"Silahkan diminum!" ucapnya.
Mayra dan yang lainnya tersenyum ramah.
"Ini adik saya, Pak, Bu. Sudah lama adik saya dan keluarga menetap di Kairo. Dan sekarang setelah kepergian Pak Kyai, saya suruh mereka membantu untuk mengurus pesantren." ucap Bu Nyai memperkenalkan.
Perempuan paruh baya tersebut adalah Uminya Furqon, adik ipar dari Bu Nyai. Adik Pak Kyai adalah Abinya Furqon, jadi Uminya Furqon adalah iparnya Pak Kyai.
"Alhamdulillah kami senang bisa bertemu dengan adik Bu Nyai." ucap Om Candra sopan.
"Saya turut berduka cita atas wafatnya Pak Pernama." ucap Bu Nyai.
"Maafkan bila ada kesalahan yang almarhum lakukan sengaja atau tidak sengaja, Bu Nyai." balas Om Candra.
Bu Nyai hanya mengangguk.
Setelah obrolan - obrolan sedikit dengan Bu Nyai, Mayra pergi mengantarkan Meyna ke asrama. Sedangkan, Om Candra dan Tante Rika beristirahat dulu dirumah tamu.
.
.
.
Jangan lupa Like Comment dibawah ya Kakak readers!!!
💖💖💖
__ADS_1