KEMUNCA JIWA MAYRA

KEMUNCA JIWA MAYRA
61• (Aku kenapa?)


__ADS_3

"May ... sibuk?"


Mayra yang tengah melipat mukenanya pun menoleh ke arah pintu, di mana ada kepala Fara yang dilongokkan ke dalam.


"Nggak."


Fara masuk dan duduk ditepi tempat tidur Mayra. Ia memperhatikan Mayra dalam diamnya.


"Tumben udah rapian, mau ke mana, Ra?" Mayra melirik Fara.


Fara cengengesan. "Mau pergi sama Rey. Aku sengaja ngajak dia pergi sering-sering biar nggak kesepian."


Mayra masih berdiri ditempatnya meski ia telah melipat mukenanya. Dahinya berkerut. "Harus kamu yang ngajak dia? Nggak ada teman sesama jenis gitu?"


Fara mengangkat dua bahunya. "Semenjak ibunya Rey pergi, dia itu jadi lebih tertutup, May. Sama aku aja jahilnya berkurang. Padahal, suka kangen dijahilin." Fara terkekeh di kalimat terakhirnya.


Merasakan geli kala mengingat bagaimana tingkah absurd dan menyebalkan seorang Reynar. Fara tersenyum sendiri mengingat momen itu. Ia pun berharap Reynar akan seperti itu terus bersamanya. Tapi, itu mustahil kedengarannya.


Fara melunturkan senyumnya. Ia menatap Mayra yang juga menatapnya sedari tadi.


"Udah senyumnya?" kata Mayra yang kini duduk di samping Fara. Fara cengengsan, menyadari tingkahnya bak orang gila.


"Aku keluar dulu, ya, May. Takut Rey udah nungguin."

__ADS_1


Fara menghilang dari balik pintu kamar. Mayra memadangi pintu yang baru saja tertutup. Namun, ia beranjak dari duduknya menuju jendela kamar. Di sana, Mayra terdiam mengamati ke bawah. Di mana ada pemuda ber-hoodie navy duduk di atas motor matic scoopy hitamnya.


"Jangan pernah kecewain Fara yang selalu bahagia bersamamu."


******


Keesokan hari; di mana Mayra memilih pulang terlebih dahulu dan menaiki bus yang telah lama tidak ia tumpangi. Ntah mengapa Mayra ingin seperti ini hari ini. Ia pun ingin menghindari Reynar yang pasti akan menunggu di depan sekolah.


Di dalam bus menuju perjalanan pulang, Mayra memainkan tasbih digitalnya. Ia memandang ke arah luar jendela. Mengamati gedung, rumah, bahkan pohon yang silih bergantian ia amati.


"Astagfiirullah! Aku ini kenapa?" senandika Mayra.


Sedangkan di sisi lain, di mana ada keheranan di pemuda yang tengah berdiri di depan Fara. Pemuda itu Reynar. Ia merasa heran dengan Mayra yang sudah lebih dulu pulang bahkan meninggalkan Fara.


"Kalian ada masalah?" tanya Fara menyudahi keterdiaman Reynar di hadapannya.


Fara mengangguk. Ia tahu jika Mayra bukan tipe orang yang suka mencari masalah dengan orang lain.


Fara menangkap kebingungan di wajah Reynar. Saat ini, di hatinya, Fara merasakan sesuatu yang tidak mampu ia definisikan. Sesuatu yang mengganjal hati hingga mengubah mood-nya.


"Rey ..." Fara memanggil. Reynar menatapnya tanda tanya. "... kamu kenapa nyari Mayra kalau nggak ada masalah?"


"Beberapa hari sebelumnya dia nemenin gue belajar ngaji, masa seka—"

__ADS_1


"Belajar ngaji ... beberapa hari sebelumnya?" pangkas Fara terkejut.


Reynar mengangguk. Dan, Fara langsung kembali didera rasa tak terdefinisikan. "Aku ini kenapa? Aku tau, 'kan, kalau Reynar itu kagum sama Mayra? Aku kenapa?" senandika Fara.


"Rey ... kenapa harus ditemani Mayra? Kamu kok jadi bergantung sama orang gini?"


Reynar terhenyak dengan ucapan Fara. Ia menyadari jika beberapa hari belakangan ini ia bergantung pada Mayra. Untuk belajar mengaji, kenapa pula harus Mayra temani? Mayra siapamu, Rey?


Fara menatap Reynar yang salting. Hatinya remuk rasanya. Ya, Fara mendefiniskannya begitu.


"Kamu itu punya rasa ke Mayra, Rey. Kenapa kamu selalu mengelak dan nggak mau mengakui?" kata Fara dengan membancang getir. "Jangan sampai kamu kehilangan seseorang yang berhasil singgah di hatimu."


"Lo ngomong apa, sih, Ra!?!" sarkas Reynar. Ia tidak terima dikatakan menyimpan rasa untuk Mayra. "Gue udah bilang ke lo, kalau gue nggak ada rasa sama sepupu lo!"


"Lo nggak lihat apa, kalau sepupu lo itu jauh di atas gue!? Dia pantasnya sama yang sederajat, Ra! Yang iman dan ilmu agamanya tinggi!"


"Tapi, buktinya tiba-tiba kamu belajar mengaji. Itu buat apa kalau bukan karena kamu punya rasa sama Mayra?" kata Fara. Semakin membancang getirnya. Fara tidak tahu jika ia akan merasakan getir teramat sangat seperti ini.


Apa dia punya perasaan sama Reynar, temannya sejak sekolah dasar?


.


.

__ADS_1


.


Lolos revisi 29 Juni 2021


__ADS_2