
Tawa yang tadinya terlepas kini perlahan surut dan lenyap. Kedatangan Reynar membuat Fara dan Zikra menatapnya. Seperti biasa Mayra hanya menunduk, usai menatap sejenak ke arah Reynar.
"May, gue ke sini mau kasih tahu sesuatu ke lo."
Mayra mengangguk. "Katakan saja," titahnya.
Reynar melirik ke Zikra dan Fara. Seperti isyarat agar memberi waktu padanya dan Mayra bicara berdua. Namun, sepertinya tidak akan mengabulkan isyarat Reynar. Jadi, mereka berdua tetap disisi Mayra.
"Sesuatu apa?"
Mayra menagih apa yang Reynar ingin katakan. Kini mereka sedang berada di luar gerbang sekolah. Mayra dan Fara menunggu jemputan. Sedangkan, Zikra menemani dua adik kelasnya hingga jemputan tiba.
"Kenapa kemarin lo nggak ikut gue ke masjid?" tanya Reynar.
"Maaf, kemarin aku ada halangan. Sekarang apa yang ingin kamu katakan?" balas Mayra.
Reynar terlihat menghembuskan napasnya kasar. Mayra memang tipe orang yang tidak suka bertele-tele.
"Gue udah juz amma. Dan, gue bakal masuk pesantren buat belajar Al-Qur'an, sekalian belajar agama di san—"
"HAH!?" potong Fara yang merasa tidak percaya. Jujur, ia terkejut akan kalimat Reynar barusan. Zikra pun terkejut, namun hanya memasang raut datarnya.
"Kebiasaan lo, Ra!!" gerutu Reynar.
__ADS_1
Fara maju selangkah, sedikit mendekat ke Reynar yang kini menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Rey ... kamu kenapa mau masuk pesantren?" tanya Fara dengan suara lemahnya. Sungguh, ia merasa sedih jika Reynar di pesantren. Otomatis ia tidak akan bertemu dengan Reynar setiap hari.
"Kenapa?" Reynar balik tanya. Ia merasa enigma dengan kalimat Fara.
"Rey! Kamu tega, ya, mau ninggalin aku!!?" pekik Fara kesal. "Kenapa, sih, kamu seolah ngehindarin aku!!? Aku salah apa sama kamu!!?"
"Udah Ra, udah." Mayra menegur Fara yang meluapkan emosinya ke Reynar. Ia kembali berkata, "Kamu jangan larang apa yang menjadi keputusannya."
Fara mengabaikan ucapan Mayra. Menatap Reynar penuh selidik dan kesal. Sungguh, ia sedikit tidak terima dengan keputusan Reynar.
"Rey ... siapa yang akan masukin kamu ke pesantren? Papa kamu, 'kan, nggak peduli sama kamu, Rey!" kata Fara.
Reynar menghela napasnya. Ia memegang dua sisi bahu Fara. "Gue ke pesantren karena papa gue, Ra. Dia peduli sama gue, makanya gue dimasukin ke pesantren."
Fara pergi dari sana menuju mobil jemputan yang ia lihat telah tiba. Mayra mendongak sejenak dan berkata, "Aku nyusul Fara, ya. Assalamualaikum."
Mayra melewati Zikra dan Reynar dengan kepala tertunduk. Tetapi, langkahnya yang belum jauh terhenti karena suara Reynar.
"GUE KAYAK GINI KARENA LO, MAY!"
Mayra hanya menghentikan langkah tanpa berbalik badan. Tanpa merespons ia kembali melangkah.
__ADS_1
Zikra yang ada di sana, di dekat Reynar, tersenyum miring ke Reynar. "Niat lo salah. Dan, lo masuk pesantren cuma suatu kesia-siaan!"
Zikra meninggalkan Reynar menuju mobil ayla putih miliknya. Reynar tak lama pun pergi dari sana. Kalimat Zikra sudah menguap ke udara tanpa diingatnya.
******
Di perjalanan pulang menuju rumah, Fara terus menekuk wajahnya sembari men-s**croll fotonya bersama Reynar. Dan, Mayra bisa melihat betapa dekatnya mereka sebelum ini. Mayra juga melihat Reynar yang tengil dan dipenuhi kekonyolan. Namun, Mayra sadar kalau Reynar tidak pernah seperti itu padanya. Saat bersamanya Reynar hanya datar dan tersenyum tipis.
Mayra memang mendapat perlakukan beda dari Reynar. Tapi, ia pun tak masalah. Reynar bukan siapa-siapanya. Reynar hanya orang yang Allah kirimkan untuk mengisi list siapa saja yang akan hadir di hidupnya. Ntah hanya sekadar bertandang atau menetap selamanya.
"Semenjak Rey kenal kamu dia beda, May!" kata Fara membuat Mayra sadar dari lamunannya. Mayra menoleh ke Fara. "Rey udah nggak setengil dan senyebelin dulu. Aku itu pembohong, ya, May."
Mayra mengerutkan dahinya.
"Aku marah-marah kalau Rey ngusilin aku. Tapi, aku juga senang. Benar-benar pembohong aku, May! Bilangnya kesel tapi hatinya senang."
Hanya senyum yang Mayra berikan. "Jika dia ingin berubah, kamu harusnya mendukung. Dia berubah karena dia sadar hidupnya selama ini hanya diisi oleh kesia-siaan, yang pasti tidak akan bermanfaat apa-apa kelak."
Fara mengangguk. "Dan semua itu karena kamu, May."
.
.
__ADS_1
.
Lolos Revisi 30 Juni 2021